comscore

Ramai-Ramai Tangani Stunting di Indonesia

Theofilus Ifan Sucipto - 09 Oktober 2021 19:06 WIB
Ramai-Ramai Tangani Stunting di Indonesia
Direktur SEAMEO RECFON Muchtaruddin Mansyur. Medcom.id/Theofilus Ifan Sucipto
Jakarta: Penanganan masalah gizi buruk termasuk stunting disebut menunjukkan kemajuan, meski mengalami tantangan selama pandemi covid-19. Salah satu upayanya menggelar Action Against Stunting Day di India, Indonesia, dan Senegal.

“Ini bertujuan untuk menguatkan kembali komitmen dan aksi mencapai penurunan stunting secara global, mempromosikan dialog, dan advokasi mengenai SDG2 (sustainable development goals kedua yaitu tanpa kelaparan),” kata Direktur Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition (SEAMEO RECFON) Muchtaruddin Mansyur dalam telekonferensi di Jakarta, Sabtu, 9 Oktober 2021.
Muchtaruddin mengatakan Action Against Stunting Day juga berperan mengidentifikasi prioritas dan visi bersama untuk penurunan stunting. Kemudian menumbuhkan rasa kebersamaan dengan menyatukan berbagai aktor dan generasi.

Kegiatan itu didukung sejumlah tokoh seperti Pembina Yayasan Kita Jaga Alam Doni Monardo. Doni mengatakan pangan lokal dan pangan hewani perlu digalakan untuk pengembangan sumber daya manusia berkualitas di Indonesia.

Menurut Doni, kerja sama antarpemangku kepentingan dengan pendekatan pentahelix sangat penting. Kolaborasi itu diharapkan membantu percepatan program penurunan stunting.

“Terlebih di tengah kondisi pandemi dan pascapandemi covid-19,” ujar mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu.

Peneliti senior SEAMEO RECFON Umi Fahmida menyampaikan Action Against Stunting Hub (AASH) adalah studi interdisiplin yang dilaksanakan di tiga negara. Studi di Indonesia digelar di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

AASH bertujuan mempelajari tipologi faktor-faktor yang membentuk jalur menuju stunting dengan pendekatan anak secara utuh. Termasuk, komponen fisik, lingkungan pengasuhan, pendidikan, dan pangan.

“Dari studi ini diharapkan akan dihasilkan alat pendukung kebijakan nasional dan lokal yang relevan dalam upaya pencegahan dan percepatan penurunan stunting,” tutur dia.

Sementara itu, Ketua Umum Nasyiatul Aisyiyah Diyah Puspitarini mengatakan masyarakat sipil berperan penting mempercepat pengurangan stunting. Salah satunya melalui Lazis Muhammadiyah (Lazismu) yang ikut menangani stunting di Indonesia.

“Pencegahan dan penurunan stunting memerlukan penanganan interdisiplin serta keterlibatan berbagai pihak,” papar Diyah.

Baca: Pemeliharaan Sumber Mata Air Cegah Kasus Stunting
 

(REN)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id