Sejarawan: Peristiwa Kudatuli Sebelum Megawati Bertemu Menlu AS

    Siti Yona Hukmana - 27 Juli 2020 22:04 WIB
    Sejarawan: Peristiwa Kudatuli Sebelum Megawati Bertemu Menlu AS
    Diskusi daring dengan tema 'Huru-Hara di Penghujung Orba: Refleksi Peristiwa 27 Juli 1996', Medcom.id/Yona.
    Jakarta: Sejarawan Asvi Warman Adam menyebut ada yang luput oleh media massa dari peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996 atau kudatuli. Yakni, aspek internasional.

    "Bahwa Megawati Soekarnoputri berencana bertemu dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Warren Christopher pada 28 Juli 1996, jadi sehari sebelum pertemuan itu, maka terjadi 27 Juli 1996," kata Asvi dalam diskusi daring dengan tema 'Huru-Hara di Penghujung Orba: Refleksi Peristiwa 27 Juli 1996', Senin, 27 Juli 2020. 

    Menurut Asvi, hal itu dituturkan oleh mantan Ketua MPR Taufik Kiemas. Menlu Amerika Serikat datang ke Indonesia untuk menghadiri pertemuan menteri luar negeri ASEAN pada 23 hingga 25 Juli 1996. 

    Dalam kesempatan itu, Warren sempat bertemu dengan Komnas HAM dan Perdana Menteri Rusia. Namun, gagal bertemu putri Presiden pertama RI, Soekarno. 

    "Jadi pemerintah atau rezim orde baru (orba) itu tidak ingin terjadi pertemuan antara Megawati dengan Menlu Amerika Serikat," ungkap Asvi.

    Peristiwa 27 Juli 1996 atau dikenal Kudatuli itu merupakan peristiwa penyerangan kantor PDI Perjuangan (PDIP). Kejadian itu disebut-sebut aksi kekerasan massa pro Soerjadi yang ingin merebut kantor PDIP yang saat itu dipimpin Megawati. 

    Untuk membahas dalang dari peristisa itu, kata Asvi, ada tulisan seorang wartawan senior Rosihan Anwar yang bisa menjadi acuan. Rosihan yang rumahnya tak jauh dari kantor PDIP membuat sebuah tulisan.

    Pada hari kejadian, Rosihan mendekati Kapuspen ABRI kala itu, Amir Sarifuddin. Kemudian dia mendengar Amir berbicara dengan Pangdam Jaya Sutiyoso lewat walkie talkie sabil mengucapkan "Yos, masuklah ke dalam ini hari sudah siang, kita terlambat nanti. 

    "Jadi ini ada di sini percakapan antara Kapuspen dengan Pangdam Jaya, jadi ketika mendengar percakapan itu kan jadi ini adalah permainan Soeharto dengan ABRI-nya itu menurut Rosihan Anwar," kata Asvi.

    Selain itu, ada juga tulisan yang mengungkapkan adanya pertemuan di Kodam Jaya pada 24 Juli 2020. Pertemuan itu dipimpin oleh Kepala Staf Komando (Kodam Jaya) kala itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

    "Di situ juga dibicarakan rencana untuk mengambil alih kantor PDIP. Jadi, ada beberapa kemungkinan ya dalang atau aktor intelektual dari peristiwa itu yang sudah ditulis di media massa, tetapi tidak sampai ke pengadilan," ungkap Asvi.

    Fakta lainnya, terungkap bahwa peristiwa 27 Juli 2020 adalah awal perlawanan rakyat yang sistematis terhadap masa orde baru. Karena ada tekanan yang keras terhadap masyarakat dan partai politik. 

    (ADN)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id