Saatnya yang Muda Berkarya

    M Studio - 11 Februari 2020 08:00 WIB
    Saatnya yang Muda Berkarya
    Haris Junardian Lambey (Foto:Dok)
    HAMPIR semua perubahan besar terhadap tatanan dunia dilakukan oleh pemuda-pemuda hebat. 

    Soekarno menggagas Sumpah Pemuda ketika berumur 27 tahun. Napoleon Bonaparte menaklukkan hampir seluruh daratan Eropa dalam umur 41 tahun. 

    Thoriq Bin Ziyad menaklukkan Andalusia ketika berumur 18 tahun dan Solahudin Al Ayubbi membebaskan Palestina ketika berumur 17 tahun.

    Jenderal Sudirman menjadi panglima besar tentara Indonesia dan berhasil memimpin pasukan pejuang melawan agresi Belanda dalam umur 38 tahun. 

    Mack Zuberg pendiri Facebook menjadi miliader ketika berumur 27 tahun. Bill Gates berhasil merajai dunia software dunia pada umur 42 tahun.

    Artinya, muda dalam artian di sini tidak saja dalam usia (18-45 tahun) semata. Melainkan usia muda yang brilian, penuh dedikasi, motivasi, dan tentunya sebuah mimpi besar dalam menghasilkan sebuah karya besar untuk masyarakat banyak.

    Ada juga beberapa tokoh yang tidak pada usia muda berhasil seperti penenu resep Kentucky Fried Chicken atau Donald Trumph yang sukses menjadi Presiden Amerika. Tapi itu kasusnya sangat kasuistik.

    Begitu juga terhadap sejarah negeri ini. Bagaimana para pemuda pelajar Nusantara (ketika itu belum ada nama Indonesia) bersama gerakan Boedi Oetomo melakukan sebuah pergerakan fenomenal yang luar biasa sehingga menghasilkan Sumpah Pemuda pada 1928 tentang semangat kebangsaan, spirit persatuan, dan motivasi bersama dalam mewujudkan cita-cita untuk merdeka dari penjajahan melalui perjuangan politik kebangsaan (nation state). Puncaknya adalah, proklamasi kemerdekan Indonesia pada 17 agustus tahun 1945.

    Kita tentu juga tak akan pernah lupa dengan sosok jenius BJ Habibie, presiden ke-3 RI yang sangat brilian dan cerdas. Pria yang akrab disapa Eyang Habibie itu dapat menyelesaikan gelar doktoral dan profesor pada umur 26 tahun. Dia merupakan profesor dan doktor termuda di Jerman pada zamannya.

    Dan Eyang Habibie jugalah yang membuat grand design ide Batam hari ini menjadi kota metropolis bertaraf dunia. Bayangkan, Batam hari ini digagas oleh Habibie sejak 48 tahun lalu. 

    Eyang Habibie kemudian diminta pulang ke Indonesia oleh Soeharto juga dalam usia muda. Maka lahirlah purwarupa pesawat CN250 dan Batam yang kita nikmati hari ini.

    Artinya, kalau berbicara peran pemuda atau korelasi usia muda dengan sebuah prestasi dan karya nyata, usia muda atau pemuda lebih memiliki potensi, semangat, dedikasi, motivasi untuk berbuat yang terbaik. Karena kepuasan batin seorang pemuda adalah kepada bagaimana dia mewujudkan sebuah mimpi yang visioner menjadi kenyataan.

    Seorang pemuda akan terproteksi dini dari berbagai macam pengaruh negatif, khususnya dalam hal politik dan pemerintahan. Seorang pemuda pastinya akan lebih fokus memilih prestasi atau prestise bagi dirinya.

    Bung Karno pernah berkata, "Berikan aku 10 pemuda, maka akan aku guncang dunia." Ucapannya bukan omong kosong. Bung Karno membuktikannya dengan mensinergikan potensi para pemuda Indonesia pada zaman seperti Yamin, Syahrir, dan seterusnya. Indonesia menjadi negara pelopor Asia Afrika dan gerakan non blok yang disegani dunia.

    Untuk itulah, sudah saatnya pada era milenial ini para politikus, tokoh, masyarakat, dan pejabat memberikan ruang kepada para pemuda untuk menjadi pemimpin nasional baik di pusat maupun daerah.

    Era dan zaman sudah berubah. Dari kolonial ke era milenial. Dari zaman kaset dan telepon kabel, berubah menjadi gawai.

    Perubahan ini mesti disikapi dan dilakoni oleh generasi yang sesuai dengan kondisinya. Tantangan dunia global ke depan semakin besar. Hampir tak ada lagi batasan teritorial berbasis negara. Semua dilampaui oleh era digitalisasi pada semua lini.

    Hari ini ketika kita berbicara revolusi industri 4.0, Jepang, Tiongkok, dan Amerika plus India sedang berpacu menyiapkan era society 5.0. Semua berjalan begitu cepat.

    Ide dan kreativitas telah mengalahkan modal uang, bahkan kekuatan senjata.

    Ilmu pengetahuan dan uang, sekarang bergeser menjadi era artificial inteligent (kecerdasan buatan). Apapun bentuk komoditas kehidupan, semua serba digital.

    Lalu siapakah yang akan sanggup menyambut tonggak estafet ini? Siapa yang sanggup berlari, berpacu, dan berkompetisi melahirkan ide kreativitas saat ini? Jawabannya adalah para pemuda Indonesia. Karena merekalah yang mempunya defacto of power terhadap kondisi hari ini. 

    Mari kita beri kesempatan, dan dukung penuh para pemuda Indonesia untuk berbuat dan berkarya melahirkan konsep, ide kreativitas brilian dalam mrmbangun Indonesia ke depan. InsyaAllah, Indonesia Golden Era 2045 menjadi tiga negara besar adi kuasa dunia akan terwujud dengan gemilang. InsyaAllah. Salam Pemuda. Salam masa depan Indonesia.

    Haris Junardian Lambey



    (ROS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id