Baiq Nuril Akan Membingkai Keppres Amnesti dari Jokowi

    Damar Iradat - 02 Agustus 2019 17:34 WIB
    Baiq Nuril Akan Membingkai Keppres Amnesti dari Jokowi
    Presiden Joko Widodomenerima Baiq Nuril di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat- Medcom.id/Damar Iradat.
    Jakarta: Baiq Nuril Maknun terus mengucap syukur usai menerima Keputusan Presiden (Keppres) atas pemberian amnesti. Dia pun bakal menyimpan Keppres tersebut dengan bingkai berwarna emas.

    Nuril menerima salinan Keppres Nomor 24 Tahun 2019 tentang Pemberian Amnesti saat bertemu Presiden di Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat. Salinan Keppres itu diserahkan oleh Menteri Hukum dan HAM Yasonna H. Laoly yang ikut mendampingi Presiden dalam pertemuan tersebut.

    Salinan Keppres itu, menurut dia, salah satu benda berharga yang ia dapatkan selama hidup. "Surat ini kalau bisa saya mau bingkai dengan bingkai emas, saya mau pajang," kata Nuril, Jumat, 2 Agustus 2019.

    Kepada Kepala Negara, Nuril juga menyampaikan terima kasihnya. Ia mengaku bangga memiliki pemimpin seperti Jokowi.

    Nuril gugup saat bertemu langsung dengan Presiden. Sehingga, tak banyak yang bisa disampaikan kepada Presiden dalam pertemuan tersebut. 

    "Karena saya gugup, jadinya saya cuma bisa bilang terima kasih atas perhatiannya sampai saya diberikan amnesti dan tidak banyak yang saya sampaikan," ujarnya.

    Presiden menandatangani Keppres Amnesti untuk Nuril pada pada Senin, 29 Juli 2019. Dengan begitu, pidana untuk Nuril terhapus.

    Sebelumnya, Mahkamah Agung (MA) menolak permohonan peninjauan kembali (PK) Nuril. Dia dianggap bersalah telah melanggar Undang-Undang (UU) Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE.

    Kasus ini bermula saat Baiq Nuril menerima telepon dari kepala sekolah (kepsek) berinisial M pada 2012. M bercerita tentang hubungan badannya dengan seorang wanita yang dikenal Nuril. Merasa dilecehkan, Nuril merekam perbincangan tersebut.

    Pada 2015, rekaman itu beredar luas di masyarakat Mataram sehingga M marah. Dia melaporkan Nuril ke polisi. M menilai tindakan Nuril membuat malu keluarganya. Akibat laporan itu, Nuril menjalani proses hukum hingga persidangan.

    Pengadilan Negeri Mataram memvonis bebas Nuril. Namun, jaksa mengajukan banding hingga tingkat kasasi. MA kemudian memberi vonis hukuman 6 bulan penjara dan denda Rp500 juta karena dianggap melanggar Pasal 27 ayat 1 juncto Pasal 45 ayat 1 UU Nomor 11 Tahun 2008.



    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id