Pengelolaan Sampah Secara Tepat untuk Atasi Masalah Lingkungan

    Eko Nordiansyah - 23 November 2019 01:02 WIB
    Pengelolaan Sampah Secara Tepat untuk Atasi Masalah Lingkungan
    Ilustrasi Medcom.id/ Rakhmat Riyandi.
    Jakarta: Ketua Indonesia Solid Waste Association (InSWA) Sri Bebassari menilai pengelolaan sampah di Indonesia perlu dipacu secara cepat dan tepat. Terlebih volume sampah yang dihasilkan masyarakat di kota-kota besar selalu meningkat setiap harinya sehingga menjadi masalah bagi sektor lingkungan hidup.

    "Kegiatan pengelolaan sampah untuk kota-kota besar seperti Jakarta sudah dalam kondisi darurat. Apalagi Jakarta tidak memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Padahal penanganan sampah berkaitan erat dengan masalah lingkungan hidup," kata dia dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 22 November 2019.

    Menurutnya, jasa pengelolaan sampah merupakan suatu investasi yang harus diterapkan. Di samping pengelolaan sampah yang juga menjadi suatu kedaruratan karena bila dilakukan secara tidak tepat bisa menimbulkan masalah lainnya seperti pencemaran lingkungan hingga penyebab banjir.

    Dirinya menambahkan, biaya untuk penanganan masalah sampah terbilang cukup tinggi sebagaimana berlaku di negara-negara maju dalam menerapkan pengelolaan sampah. Perhitungan dana yang dibutuhkan bergantung pada volume sampah yang akan diolah dan teknologi yang diterapkan.

    "Negara-negara seperti Singapura dan Jepang, warganya membayar iuran untuk pengelolaan sampah. Di Singapura, satu rumah tangga membayar sekitar Rp200 ribu setiap bulan, maka tidak heran sampah bisa dikelola dengan sangat baik. hal ini juga bisa diterapkan di kota-kota besar di Indonesia," jelas dia.

    Untuk itu, dirinya mengingatkan agar masalah pengelolaan sampah harus ditangani oleh pihak-pihak yang berkompeten dengan sampah sehingga hasilnya memuaskan. Terlebih, menurut dia, pengelolaan sampah yang tepat bisa memberikan manfaat lain dalam kehidupan.

    "Keberhasilan penanganan masalah sampah juga akan berdampak positif bagi sektor lainnya. Misalnya, hasil pengelolaan sampah yang bisa dijadikan bahan bakar bagi pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) dan kompos untuk kegiatan pertanian dan perkebunan," ungkapnya.

    Saat ini pemerintah terus berupaya mencari sumber energi terbarukan sebagai alternatif penggunaan sumber energi yang sebagian besar berasal dari minyak bumi. Kemunculan sumber energi baru bisa mengatasi tingginya ketergantungan impor minyak bumi di Indonesia.

    Melalui PLN, pemerintah menargetkan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada 2025. Oleh karena itu, jika EBT yang menggunakan sampah bisa dikembangkan secara masif maka dapat membantu menyelesaikan persoalan sampah yang ada selama ini.

    PLN gencar melakukan kampanye EcoMoving yaitu perubahan gaya hidup dalam penggunaan transportasi masal seperti Mass Rapid Transport (MRT), Kereta Listrik (KRL), Light Rail Transit (LRT), bus listrik, atau kendaraan berbahan bakar green energy lainnya seperti mobil listrik dan sepeda listrik.



    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id