Sampah Impor Se-Kota Solo Masuk Indonesia Saban Hari

    Media Indonesia - 27 Agustus 2019 16:53 WIB
    Sampah Impor Se-Kota Solo Masuk Indonesia Saban Hari
    Petugas menunjukkan kertas bekas (waste paper) impor yang dikirim dari Australia di lapangan penumpukkan kontainer di PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) di Surabaya, Jawa Timur, Selasa (9/7/2019). Foto: Antara/Didik Suhartono
    Jakarta: Sebanyak 82 kontainer scrap plastik dan kertas yang mengandung sampah dan limbah B3 telah dikembalikan ke negara asal atas rekomendasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Meski begitu, banjir sampah masih bisa berlanjut. 

    Tercatat, 69 kontainer sampah impor masuk ke Indonesia setiap hari. Ini setara dengan jumlah sampah di Kota Solo, Jawa Tengah, saban harinya.

    Berikut ini wawancara wartawan Media Indonesia Bintang Krisanti dengan Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya KLHK, Rosa Vivien Ratnawati, mengenai masifnya mengiriman sampah itu. 
    Sampah Impor Se-Kota Solo Masuk Indonesia Saban Hari

    Dirjen Pengelolaan Limbah, Sampah, dan B3 Kementerian LHK, Rosa Vivien Ratnawati. Foto: Antara/Hafidz Mubarak

     

    Kalau bisa diandaikan, seberapa parah petaka lingkungan kalau impor scrap plastik dan kertas yang mengandung sampah ini berlanjut?


    Jadi, saat ini Permendag 31/2016 tentang Ketentuan Impor Limbah Nonbahan Berbahaya dan Beracun (B3) sedang direvisi. Perindustrian minta tingkat pengotor (sampah/impuritas) itu sampai 5 persen.

    Jumlah itu sama dengan sampah satu Kota Solo dibuang setiap hari. Hitungannya begini, kebutuhan kertas 6 juta ton per tahun, impornya 50 persen, sekitar 3 juta ton. Impor per bulannya 250 ribu ton dan per hari berarti 8.300 ton. Diasumsikan, satu kontainer itu 6 ton, maka 1.383 kontainer per hari yang berarti sekitar 8.300 ton. Kalau tingkat pengotornya 5 persen, berarti ada 415 ton per hari sampah atau 69 kontainer sampah per hari masuk ke Indonesia. Bayangkan itu!

    Lalu, kalau pakai indeks produksi sampah per orang di Indonesia yang 0,7 kg/orang/hari, 415 ton sama dengan sampah dari 592 ribu orang. Itu setara sampah orang Kota Malang dan Kota Solo. Ini malah kita (KLHK) dibilang menghambat investasi.
     

    Namun, dengan masukan KLHK, impuritas 2 persen kan tetap ada sampah. Lalu, bagaimana?


    Nanti di rekomendasi, kami akan mewajibkan seluruh importir produsen punya alat pengolah sampah, seperti insinerator atau penghancur limbah di dalam pabrik mereka. Jadi, jangan sampai pengotor itu kemudian dibuang lagi ke luar.
     

    Apakah kita bisa melarang importir-importir yang sudah terbukti nakal?


    Soal importir memang juga masuk dalam revisi Permendag 31/2016 ini. Jadi, masukannya ialah importir atau di negara asal itu berarti disebut eksportir, harus teregistrasi ada sertifikasi. Lalu, dibuat mekanisme untuk surveyor yang memeriksa di sana. Kita minta jangan di port (pelabuhan), tapi dari tempat pengumpul. Lalu, di Permendag itu masih ada HS code (kode sistem harmonisasi) yang tercantum 'lain-lain', ini yang membuka celah. Jadi, kita minta itu didetailkan. Sebenarnya juga dari Bea Cukai usul agar pelabuhannya tertentu saja agar mudah pengawasan.
     

    Sebenarnya pelabuhan mana saja selain Batu Ampar (Batam) dan Tanjung Perak (Surabaya) yang ditemukan mengimpor sampah?


    Di Tanjung Priok dan Kawasan Berikat Banten juga ada temuan. Asal negaranya ada Belanda, UEA, Jerman, Hong Kong, Prancis, Australia, lalu yang teratas Amerika Serikat.
     

    Revisi permendag terlihat sebagai solusi jangka pendek, lalu jangka panjangnya bagaimana?


    Memang tugas pemerintah bagaimana mendayagunakan sampah yang ada di Indonesia. Selama ini kita gagal di pemilahan karena perjalanan sampah yang panjang. Kualitas sampah kertas yang masuk ke pabrik juga jelek karena sengaja dikotori dengan tanah oleh pelapak agar timbangannya berat. 

    Jadi, memang tugas kami membina, tapi tugas utama itu di pemda karena mereka yang berwenang pengelolaan sampah di daerah-daerah. Namun, memang pemda belum bisa pengangkutan terpilah. Jadi, kami merekomendasikan bank sampah di tiap kelurahan, idealnya tiap RW. Di Indonesia sekarang bank sampah sudah ada 8.000-an. (Biq/H-2)



    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id