Megayanti Mengadukan Derita Guru kepada Jokowi

    Damar Iradat - 11 Januari 2019 17:20 WIB
    Megayanti Mengadukan Derita Guru kepada Jokowi
    Presiden Joko Widodo bertemu Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) - Medcom.id/Damar Iradat.
    Jakarta: Megayanti, guru asal Pemalang, Jawa Tengah, mengeluhkan tentang nasibnya kepada Presiden Joko Widodo. Dia berkeluh-kesah mulai dari pendapatan sampai soal sertifikasi. 

    Megayanti menumpahkan semua persoalannya langsung kepada Presiden saat Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) menemui Jokowi di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Jumat, 11 Januari 2019. Jokowi pula yang meminta itu.

    "Ada yang bisa maju dan cerita? Blak-blakan saja, ada yang belum dapat sertifikasi di sini?" Jokowi bertanya. 

    Megayanti maju dan buka suara. Perempuan yang sudah mengajar sejak 2009 itu mengaku, selama sepuluh tahun mendidik, hidupnya penuh keprihatinan.

    "Tujuh tahun mengajar, honor saya Rp50.000 (per bulan), Pak Presiden. Alhamdulillah, tiga tahun belakangan, honor kami Rp150.000 (per bulan)," Megayanti dengan nada lirih.

    Megayanti menambahkan, bersama banyak guru lainnya juga kesulitan mendapatkan sertifikasi guru. Padahal, secara administrasi, dia dan guru lainnya sudah mengerjakan administrasi sama dengan Pegawai Negeri Sipil (PNS). 

    Jokowi bertanya, apakah semua itu karena proses birokrasi atau persyaratan yang berbelit. "Dua-duanya," jawab Megayanti.

    (Baca juga: Menkeu Kritik Sertifikasi Guru Demi Mendapatkan Tunjangan)

    Megayanti mengaku syarat pendidikan S1 bagi guru sudah dipenuhi. Namun, saat ini, honor yang diterimanya masih jauh dari harapan.

    "Paling tidak masa depan kami. Ya Allah Gusti. Istilahnya, perjuangan kami dihargai lah, Pak," keluh Mega. 

    Jokowi kembali mempertanyakan ihwal pengajuan sertifikasi guru. Mega mengaku, dirinya berada di bawah naungan Kementerian Agama. Sehingga, sertifikasi diajukan ke Ditjen terkait di Kemenag. 

    Mega menjelaskan, salah satu syarat pengajuan sertifikasi di bawah naungan Kemenang yakni sudah mengajar sebelum tahun 2005. Sehingga, kata dia, guru-guru yang baru masuk setelah 2005 tidak bisa mengajukan sertifikasi. 

    Namun, sesudah lolos syarat administrasi, batu kerikil kembali dihadapi para guru. Ia mengeluhkan tes online dan pembiayaan untuk mengajukan sertifikasi. 

    "Misal, dari Pemalang ada yang ke Semarang. Dulu dibayar pemerintah, tapi sekarang bayar 50:50," tambah dia. 

    Tidak hanya itu, batas maksimal sertifikasi guru berusia 35 tahun. Sehingga, guru-gurur yang berumur di atas itu sulit mengajukan sertifikasi. 





    (REN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id