Demokrasi Langsung Dinilai Mudah Dikuasai Oligarki

    Zakaria Habib - 15 Januari 2020 01:27 WIB
    Demokrasi Langsung Dinilai Mudah Dikuasai Oligarki
    Direktur Institute For Demographic and Poverty Studies (IDEAS), Yusuf Wibisono, Foto: Medcom.id/Zakaria Habib,
    Jakarta: Sistem transisi kekuasaan politik di Indonesia yang berbentuk demokrasi langsung dinilai sebagai ruang terbuka yang nyaman dan mudah dikuasai oleh oligarki ekonomi.

    Menurut Direktur Institute For Demographic and Poverty Studies (IDEAS), Yusuf Wibisono, praktik demorkasi yang terjadi di Indonesia memperlihatkan kecenderungan lemahnya kontrol publik terhadap penguasaan oligarki terhadap perekonomian dalam negeri.

    “Sistem demokrasi langsung mudah diakuisisi dan didominasi oleh oligarkhi ekonomi. Demokrasi menjadi arena pertarungan yang nyaman bagi oligarkhi untuk merebut kekuasaan dalam rangka memupuk kekayaan lebih lanjut. Transisi ke demokrasi sama sekali tidak memunculkan tantangan dari publik terhadap oligarkhi ekonomi atas penguasaannya yang sangat dominan atas perekonomian,” kata Yusuf dalam diskusi hasil riset #IDEASTalk di Jakarta, Selasa, 14 Januari 2020.

    Pada tingkat pendapatan yang sangat tinggi, sambung Yusuf, akumulasi kekayaan oleh kelompok terkaya akan membuat transmisi kekayaan lintas generasi akan terjadi lebih kuat. Dinamika kelompok terkaya ini terlihat secara jelas dalam fenomena dinasti pada konglomerasi bisnis dan juga pada oligopoli politik.

    “Seluruh orang terkaya Indonesia hari ini memiliki hubungan yang kuat, terutama hubungan kekeluargaan, dengan orang terkaya sebelumnya,” kata dia. 

    Yusuf mencontohkan Anthoni Salim (terkaya ke-26 tahun 2019) adalah anak dari Sudono Salim (terkaya ke-1 Tahun 1987), Martin B. Hartono, anak Budi Hartono (terkaya Indonesia tahun 2019), menikah dengan Grace L. Katuari, anak pemilik Wings Group, Eddy William Katuari (terkaya ke-26 tahun 2019), Lalu Susilo Wonowidjojo (Terkaya ke-4 tahun 2019) adalah anak dari Rachman Halim (terkaya ke-1 tahun 1996).

    Menurut Yusuf, kekuatan kapital oligarki yang cepat membesar awalnya adalah kekuatan politik yang signifikan untuk menopang rezim orde baru. Namun rezim tersebut kemudian runtuh pafda 1998 diantaranya karena tidak lagi mendapatkan dukungan dari para konglomerat penguasa kapital.

    “Namun transformasi politik yang signifikan dan radikal pasca krisis, tidak menurunkan pengaruh politik pemilik kapital ini, bahkan semakin memperbesarnya,” kata Yusuf.




    (BOW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id