Perlu Revolusi Mental Mengelola Sampah

    Medcom - 08 Oktober 2019 22:27 WIB
    Perlu Revolusi Mental Mengelola Sampah
    Kementerian LHK menggalakkan Program Gerakan Nasional Pilah Sampah dari Rumah. Foto: Kementerian LHK
    Jakarta: Revolusi mental tak hanya relevan untuk hal-hal besar. Untuk urusan pengelolaan sampah pun butuh mental baja. Sampah susah enyah jika tak dikelola sejak dari rumah.

    "Perlu ada tindakan nyata bahkan perubahan pola pikir untuk mengelola sampah. Kita dapat memulai dengan hal-hal yang sederhana dengan memilah sampah mulai dari rumah," kata Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya Beracun, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Rosa Vivien Ratnawati, Selasa, 8 Oktober 2019.

    Menurut Vivien, pengelolaan sampah dari sumbernya menjadi sangat penting untuk mengurangi beban pengelolaan di hilir. Euforia revolusi mental, kata dia, diperlukan dalam mengelola sampah. 

    "Perilaku bergantung kepada petugas kebersihan dan pemulung harus diubah. Ambil tanggung jawab sendiri untuk menjaga kebersihan di tempat masing-masing," tegas dia. 

    Selanjutnya, Vivien menambahkan, pemerintah harus berkomitmen dalam mendukung perubahan perilaku ini. Tak terkecuali dunia usaha dan komunitas. 

    "Pemerintah daerah bisa mulai dengan menyediakan pengangkutan terpilah atau terjadwal. Dunia usaha juga bisa memulai dengan mendesain kemasan yang dapat didaur ulang," ujarnya.

    Kementerian LHK mencatat rata-rata orang Indonesia menghasilkan sampah 0,7 kilogram per hari. Secara nasional, timbunan sampah per hari bisa mencapai 175 ribu ton atau 65 juta ton per tahun. 

    "Sebanyak 36 persen sampah itu dihasilkan dari rumah tangga," kata Vivien. Pasar serta perniagaan memberikan kontribusi timbulan sampah sebesar 38 persen. Dan sebanyak 26 persen berasal dari kawasan perkantoran dan fasilitas publik. 

    Kementerian LHK juga mencatat setengah sampah yang dibuang per orang adalah sampah organik. Setengah lainnya terbagi atas sampah plastik sebesar 15 persen, sampah kertas 10 persen, dan sisanya yakni sampah logam, karet, kain, hingga kaca. 

    Sampah plastik yang mampu didaur ulang tak lebih dari 15 persen. Sebanyak 70 persen berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Sebanyak 15 persen lainnya tak terkelola dan terbuang ke lingkungan, terutama perairan seperti sungai, danau, pantai, dan laut. 

    Program Gerakan Nasional Pilah Sampah dari Rumah terus digalakkan Kementerian LHK. Program ini diluncurkan secara resmi pada 15 September 2019 di Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta. Sekitar 1.000 peserta yang berasal dari sejumlah kementerian dan lembaga, organisasi masyarakat, komunitas, serta masyarakat umum berkomitmen untuk melakukan gerakan memilah sampah sejak dari rumah.





    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id