Alasan Pemerintah Tunda Haji 2020

    Siti Yona Hukmana - 02 Juni 2020 12:05 WIB
    Alasan Pemerintah Tunda Haji 2020
    Ilustrasi ibadah haji. AFP
    Jakarta: Menteri Agama Fachrul Razi memastikan keputusan tidak memberangkatkan Haji 2020 berdasarkan sejumlah hal. Pemerintah mempertimbangkan pembatalan dengan matang.

    "Pandemi covid-19 yang melanda hampir seluruh dunia dapat mengancam keselamatan jemaah. Agama mengajarkan menjaga jiwa adalah kewajiban yang harus diutamakan. Ini semua menjadi dasar pertimbangan," kata Menteri Agama Fachrul Razi dalam konferensi pers di Gedung Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Selasa, 2 Juni 2020.

    Razi menjelaskan sejak awal pemerintah telah membuat tiga opsi soal Haji 2020. Namun, memasuki bulan Mei waktu semakin sempit. Tim mematangkan dua opsi, yakni penyelenggaraan haji dengan pembatasan 50 persen dan pembatalan jemaah haji.

    Sebab, telah disepakati pemberangkatan jemaah kloter pertama pada 26 Juni 2020. Dia menuturkan pihaknya lalu menghitung mundur terkait kecukupan waktu pemberangkatan dengan segala proses dan konsekuesinya.

    "Skema pengurangan jemaah diambil karena harus ada ruang yang cukup untuk pembatasan fisik jemaah baik di asrama haji, di dalam pesawat, pemondokan, maupun area ritual haji," tutur dia.

    Dia menuturkan dengan skema ini rentang waktu pasti lebih lama dari biasanya. Sebab ada tambahan karantina 14 hari sebelum keberangkatan, 14 hari setiba di Arab Saudi dan 14 hari setelah tiba kembali di Tanah Air.  

    Protokol kesehatan juga mewajibkan setiap jemaah untuk memiliki setifikat bebas covid-19. Dia menuturkan bersamaan dengan itu pemerintah Indonesia menjalin komunikasi dengan pemerintah Kerajaan Arab Saudi melalui Kemenlu RI perihal permohonan informasi penyelenggaraan Haji 1441 Hijriah atau 2020 Masehi.

    "Kemenag telah melakukan kajian literatur serta menghimpun data dan informasi tentang haji di saat pandemi di masa lalu," tutur dia.

    Dia menyebut didapatkan fakta penyelenggaraan haji pada masa terjadi wabah menular mengakibatkan tragedi kemanusiaan. Puluhan ribu jemaah haji jadi korban.

    "Kita tahu Saudi Arabia pernah menutup haji, ibadah haji thaun. Pada 1814 karena wabah thaun, 1837 dan 1858 karena wabah epidemi, 1892 karena wabah kolera, 1987 karena wabah meningitis. Indonesia pernah menutup Karena pertimbangan agresi Belanda pada 1946, 1947, 1948," tutur dia.

    Kemenag juga konsultasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mendapat pandangan keagamaan terkait pembatalan jemaah haji di masa pandemi. "Kemenag juga melakukan komunikasi dengan mitra kami Komisi VIII tentang situasi ini baik formal maupun informal. Kami masih akan menggelar rapat kerja dengan Komisi VIII setelah acara ini," tutur dia.

    Namun, seiring berjalannya waktu pemerintah Arab Saudi tak juga mengumumkan kepastian soal Haji 2020. Razi menyebut pemerintah tak lagi memiliki waktu untuk menyiapkan seluruh pelayanan.

    "Pihak Arab Saudi tak kunjung membuka akses bagi negara mana pun akibatnya pemerintah tak mungkin lagi punya cukup wktu untuk melakukan persiapan utamanya dalam pelayanan dan perlindungan jemaah. Berdasarkan kenyataan tersebut pemerintah memutuskan tidak memberangkatkan jemaah haji tahun 1441 Hijriah atau 2020," kata Razi.



    (REN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id