Ribuan Anggota Menwa Siap ke Natuna

    Medcom - 05 Januari 2020 10:40 WIB
    Ribuan Anggota Menwa Siap ke Natuna
    Menwa Mahawarman saat latihan dasar kemiliteran
    Jakarta: Klaim sepihak pemerintah China atas perairan Natuna membuat geram rakyat Indonesia. Protes keras di layangkan organisasi Resimen Mahasiswa (Menwa). Mereka bahkan siap bergabung bersama TNI menjadi yang terdepan di Natuna.
     
    "Klaim China terhadap perairan Natuna merupakan pelanggaran kedaulatan negara. Ribuan anggota kami siap menjadi relawan perang melawan China," kata Kepala Staf Konas Menwa Indonesia, M Arwani Deni melalui keterangan tertulisnya, Minggu 5 Januari 2019.
     
    Deni mengatakan Menwa sebagai komponen pendukung pertahanan negara sudah dilatih dan terlatih keprajuritan dengan satu tujuan, yaitu mempertahankan dan menjaga kedaulatan negara.
     
    "Situasi ini menyulut semangat patriotisme anggota Menwa dalam mempertahankan kedaulatan negara dari segala ancaman," tegas Deni.
     
    Deni meminta kepada seluruh anggota Menwa yang ada di seluruh penjuru Tanah Air untuk menyiapkan diri dan berkoordinasi ke TNI dalam mobilisasi personel untuk siaga.
     
    "Kepada seluruh anggota Menwa yang ada di seluruh penjuru Tanah Air, persiapkan diri jika Ibu Pertiwi memanggil, bersiap untuk dimobilisasi guna siaga perang menghadapi klaim China atas Perairan Natuna," kata Deni.
     
    Seperti diketahui, sejumlah kapal Coast Guard China melanggar Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di Perairan Natuna, Kepulauan Riau.

    Menghadapi provokasi yang dilakukan kapal-kapal China tersebut, Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) I melakukan langkah antisipatif dengan melaksanakan siaga tempur guna menangkal setiap potensi yang akan mengancam kedaulatan negara.
     
    Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD menyebut perairan Natuna sepenuhnya milik Indonesia berdasar hukum internasional Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS).
     
    Mahfud menerangkan dasar yang dipakai Negeri Tirai Bambu mengeklaim perairan Natuna yang masuk wilayah Laut China Selatan adalah sembilan garis putus-putus atau nine dash line.
     
    "Jadi China tuh membuat teori sendiri sembilan garis putus-putus. Nenek moyangnya dulu sudah berlayar kesini lalu dibuat garis putus-putus," kata Mahfud usai menghadiri Dies Natalies Universitas Brawijaya (UB), Malang, Jawa Timur, Minggu, 5 Januari 2020.





    (FZN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id