Kasus Robertus Robet Tak Seret UNJ

    Achmad Zulfikar Fazli - 08 Maret 2019 14:22 WIB
    Kasus Robertus Robet Tak Seret UNJ
    Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M Nasir. (Foto: MI/Atet Dwi Pramadia)
    Jakarta: Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M Nasir enggan mengomentari kasus yang menjerat Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Robertus Robert. Aktivis itu ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan penghinaan terhadap institusi TNI.

    "Itu tanyakan individu, mereka itu," kata Nasir di kantor Wakil Presiden, Jakarta, Jumat, 8 Maret 2019.

    Dia mengaku tak terlalu mengikuti kasus itu. Namun, menurut dia, kasus yang menjerat Robertus tak terkait dengan UNJ selaku perguruan tinggi yang menaunginya melainkan tanggung jawab dan urusan pribadi.

    "Itu kan pendapat pribadi, bukan institusi. Kalau (bukan) urusan institusi tanyakan Robert sendiri masalah dwi fungsi ABRI," ucap dia.

    Baca juga: Polisi Selisik Penyebar Video Robertus Robet

    Robet ditangkap penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Mabes Polri, Rabu 6 Maret 2019 malam. Robet diduga menghina institusi TNI saat berorasi di aksi Kamisan di depan Istana Negara, pekan lalu.  

    Dalam video yang tersebar, Robet menyanyikan mars Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dengan mengubah lirik. Namun, Robet segera mengklarifikasi dan meminta maaf.

    Atas perbuatannya, Robet disangka melanggar Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan/atau Pasal 207 KUHP.

    Namun, sejumlah aktivis menentang penangkapan terhadap Robert. Polisi diminta menghapus tuntutan hukum terhadap Robert. Mereka yakini koleganya itu tidak melakukan tindak pidana sebagaimana yang dituduhkan kepadanya. 

    “Bukan soal fisiknya dia (Robet) dilepas atau tidak saja. Tetapi tuntutan hukum terhadapnya juga menjadi fokus kami,” kata Peneliti Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Bivitri Susanti di Gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis, 7 Maret 2019.

    Baca juga: Kriminalisasi Robertus Robet Dinilai Berlebihan

    Bivitri menjelaskan orasi Robet pada aksi Kamisan 28 Februari lalu tidak berniat menghina institusi TNI. Menurut dia, yang disampaikan Robet dalam orasinya sebatas refleksi . 

    Dalam refleksinya, menurut Bivitri, Robet justru mencintai TNI dalam artian mendorong TNI yang profesional. Sebab, Robet menilai penempatan TNI di luar fungsi pertahanan, yakni untuk mengisi jabatan sipil akan mengganggu profesionalitas TNI seperti masa Orde Baru.

    Bivitri menambahkan, lagu yang dinyayikan Robet tidak ditujukan kepada institusi TNI, melainkan ABRI pada masa Orde Baru. Lagu itu, kata dia, lebih merupakan kritik dan mengingatkan peran ABRI pada masa Orba yang terlibat dalam kehidupan politik praktis.



    (MEL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id