Menanti Habibie Baru di Era 4.0

    Yogi Bayu Aji - 14 September 2019 22:30 WIB
    Menanti Habibie Baru di Era 4.0
    Presiden Joko Widodo (kanan) mengantar Presiden ketiga BJ Habibie seusai bertemu di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat, 24 Mei 2019. Foto: MI/Ramdani
    Jakarta: Presiden Joko Widodo mengenang betul perkataan Presiden ketiga Bacharudin Jusuf (BJ) Habibie kepadanya. Habibie ingin Indonesia tak terlena untuk terus duduk manis menerima keadaan.

    Menteri Negara Riset dan Teknologi ke-4 itu, kata Jokowi, ingin Indonesia melesat, terbang tinggi sejajar dengan negara-negara maju. Eksekusi program jadi poin penting bila Indonesia tak mau tertinggal. 

    "Kami akan selalu ingat pesanmu: Jangan terlalu banyak diskusi. Jangan cengeng, tetapi terjunkan diri ke proses nilai tambah secara konsisten. Pasti Indonesia akan terkemuka di Asia Tenggara dan dunia," kata Jokowi di Taman Makam Pahlawan (TMP) Nasional Utama Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis, 12 September 2019.

    Bagi Jokowi, Habibie memang sosok yang komplet. Pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936, itu negarawan sejati yang tak pernah berhenti memikirkan nasib bangsa. Semasa kuliah di Jerman pada 1960-an, Habibie sudah membayangkan Indonesia puluhan tahun ke depan.

    Pemikiran itu memang tak lepas dari otak Habibie yang cemerlang. Suami dari Hasri Ainun Besari itu pun bukan sekadar pemikir, tetapi juga eksekutor handal. Dari tangan dinginnya, Indonesia sukses menerbangkan pesawat N250 Gatot Kaca pada 1995.

    Konsep pembuatan N250 sudah dihitung secara matang oleh Habibie sejak 1986. Terbangnya N250 Gatot Kaca menjadi bukti Indonesia bisa berjaya di bidang teknologi. Prestasi Habibie kini menjadi cambuk bagi Indonesia untuk melanjutkan pembangunan.

    Menanti Habibie Baru di Era 4.0
    Pesawat N250 Gatot Kaca rancangan BJ Habibie. Foto: Medcom.id/Roni Kurniawan

    Era baru

    Genderang perang menghadapi era revolusi industri 4.0 yang penuh persaingan terus ditabuh Jokowi. Dalam setiap kesempatan, dia selalu mengingatkan warga untuk berinovasi, khususnya dunia pendidikan.

    "Pendidikan kita harus berani mengubah dan berani berubah. Tidak hanya rutinitas bertahun-tahun, kita terjebak pada rutinitas padahal perubahan itu sudah datang," kata Jokowi dalam di Istana Kepresidenan Bogor, Senin, 4 Maret 2019.

    Kepala Negara menyebut peralihan pada revolusi industri 4.0 cukup radikal. Jika telat bereaksi, generasi berikutnya pasti akan kebingungan menghadapi perubahan teknologi yang mungkin tak pernah tergambarkan sebelumnya.

    "Bayangkan advanced robotic, semua nanti industri pakai robot, kalau kita tidak siap bisa kita bayangkan masa depan kita seperti apa?" jelas Presiden.

    Peringkat Indonesia dalam bidang inovasi memang belum bisa dikatakan baik. Indonesia masih menduduki peringkat 85 dari 129 negara pada indeks inovasi global (GII) 2019. Peringkat produktivitas inovasi ini masih stagnan, sama seperti 2018.

    Dalam data yang dirilis GGI 2019, peringkat produktivitas inovasi Indonesia juga masih di bawah negara ASEAN lainnya, seperti Malaysia (35), Thailand (43), dan Singapura (8). Indonesia hanya unggul dari Kamboja di peringkat 98.

    Sementara itu, laporan GII 2019 sejatinya menyebutkan aktivitas inovasi yang paling banyak menjamur di kawasan Asia. Fenomena ini muncul menyusul perlambatan ekonomi yang terjadi di negara maju dan dunia.

    Peringkat inovasi ini bisa saja berubah ke depan. Pada periode 2019-2024, Jokowi sudah memasang ancang-ancang untuk memoles sumber daya manusia (SDM) di sektor pendidikan. Dia menyadari betul keberadaan SDM penting untuk 'berlayar' menuju era baru.

    Pemerintah membidik bonus demografi di 2045. Kala itu, penduduk nusantara diprediksi mencapai 321 juta jiwa dengan 209 juta warga di usia produktif. Kondisi ini harus menjadi modal bagi lompatan kemajuan Indonesia.

    Di 2020, pemerintah mengalokasi anggaran pendidikan sebesar Rp505,8 triliun. Angka itu melesat 29,5 persen lebih besar dibandingkan pada 2015, awal Jokowi menjabat, yang hanya sekitar Rp390,3 triliun.

    Dana Rp505,8 triliun akan digunakan memoles pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Di tingkat dasar, anak akan disuapi dengan kemampuan literasi, matematika, dan sains sebagai pijakan awal. 

    Di jenjang menengah dan tinggi, pendidikan disesuaikan dengan kebutuhan industri. Kualitas tenaga pendidik juga diasah agar metode pengajaran bisa semakin akrab dengan pemanfaatan teknologi.

    Selain itu, pemerintah melanjutkan program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) kepada 54,6 juta siswa. Program Indonesia Pintar (PIP) pun dipertahankan dengan memberikan beasiswa kepada 20,1 juta siswa.

    Langkah di luar kebiasaan diambil. Perekrutan dosen dan rektor dari luar negeri dieksekusi agar pendidikan Indonesia bercita rasa internasional. Demi memuluskan wacana itu, 16 peraturan pemerintah akan direvisi. 

    Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir sudah mengenalkan rektor asing pertama, Senin, 26 Agustus 2019. Pengajar asal Korea Selatan, Jang Youn Cho, akan memimpin Universitas Siber Asia di Indonesia. 

    “Mudah-mudahan dengan (universitas) siber ini bisa mengangkat (pendidikan tinggi) siber Indonesia di kelas dunia nanti,” kata Nasir, Kamis, 29 Agustus 2019.

    Menanti Habibie Baru di Era 4.0
    Presiden ketiga BJ Habibie menandatangani foto kover buku 80 Tahun BJ Habibie di Perpustakaan Habibie dan Ainun, Jakarta. Foto: MI/Ramdani

    Cucu ideologis

    Indonesia bisa dipastikan tak akan kehabisan stok orang pintar sekaliber Habibie. Hal ini terbukti dengan menjamurnya perusahaan rintisan di era Presiden Jokowi. Seperti Habibie, perusahaan rintisan ini sukses mengeksekusi segala ide dan inovasinya.

    Menristekdikti Mohamad Nasir menyebut pada 2016, hanya ada 203 pengusaha. Sementara itu, dalam Mapping & Database Startup Indonesia 2018, jumlah perusahaan rintisan teknologi di Indonesia sudah mencapai 992.

    Nasir menyebut menjamurnya perusahaan rintisan ini tak lepas dari pemanfaatan riset akademis ke dalam dunia usaha. Anak bangsa, kata dia, terbukti mampu mengembangkan inovasi teknologi menjadi bisnis potensial. 

    "Inovasi startup dasarnya dari riset, kalau tidak ada riset akan ngawur," kata Nasir, Rabu, 24 Oktober 2018.

    Di sisi lain, jumlah publikasi ilmiah dari para dosen dan peneliti Indonesia terus meningkat. Pada 2013, publikasi ilmiah yang dirilis Indonesia hanya 5.299 buah. Indonesia kalah jauh dari Singapura yang mencetak 18 ribu publikasi ilmiah lalu Thailand 9.200.
     
    Sementara itu, per 10 Oktober 2018, Indonesia sudah mencetak 20.610 publikasi ilmiah. Indonesia menggeser Singapura yang hanya mengeluarkan 16 ribu publikasi ilmiah. 

    Jalan mulus dan modal untuk mencetak 'Habibie' baru kini sudah dimiliki Indonesia. Namun,  upaya membentuk pewaris spirit Habibie bukan tanggung jawab pemerintah semata. Publik juga harus mengasah diri bila tak mau tenggelam di era revolusi industri 4.0.

    Kecerdasan Habibie tak begitu saja muncul. Kelebihan itu dia dapat dari keuletan dalam menggeluti dunia pendidikan. Beragam halangan dan kegagalan tak menghentikannya mewujudkan idenya. 

    "Beliau punya sikap, pertama sampai akhir hayat, Bapak tidak pernah mau berhenti untuk belajar," kata anak pertama Habibie, Ilham Akbar Habibie, Kamis, 12 September 2019.

    Peraih gelar doktor ingenieur pada 1965 dengan predikat summa cum laude di Jerman itu selalu mencari hal baru untuk dipelajari. Kebiasaan itu dilakoni Habibie hingga masa tua. Masalah kesehatan tak menghalanginya. 

    "Bapak tetap bersedia hadir di banyak acara, memberi masukan untuk segala macam nasihat yang diperlukan," jelas dia.

    Habibie pun sudah menuntaskan tugasnya membuat Indonesia lepas landas bersaing dengan negara lainnya. Kendali kemajuan Indonesia kini ada di tangan generasi muda sebagai cucu ideologisnya.

    "Selamat jalan Mr Crack. Selamat jalan sang pionir," kata Jokowi saat memberikan penghormatan terakhir kepada Habibie.






    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id