Pemda Didorong Lebih Getol Kelola Sampah

    Renatha Swasty - 27 November 2019 18:27 WIB
    Pemda Didorong Lebih Getol Kelola Sampah
    Ilustrasi sampah. Foto: MI/Pius Erlangga
    Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menilai pengelolaan sampah di daerah belum maksimal. Kepala daerah dinilai tidak berani membuat gebrakan soal pengelolaan sampah. 

    Direktur Pengelolaan Sampah KLHK, Novrizal Tahar, mengungkapkan anggaran persampahan tidak memadai. Dia menyebut daerah minimal mengeluarkan 2-3 persen APBD buat pengelolaan sampah. 

    "Kepala daerah juga cenderung enggak mau naikin retribusi sampah. Misal Rp5.000 dari Rp2.000. Tidak populis menaikkan retribusi sampah," kata Novrizal saat memberikan pemaparan di 'Kick Off Menuju Zero Waste Media Group' di Kompleks Media Group, Jakarta Barat, Rabu, 27 November 2019. 

    Dia menyebut kepala daerah cenderung menghapus retribusi sampah. Hal ini yang dilakukan Wali Kota Makassar. 

    "Makassar TPA (tempat pembuangan akhir)-nya kebakaran hebat. Gimana mau mengelola sampah, duit dari mana kalau nggak ada back bone? Ini persoalan struktural," kata Novrizal.  

    Novrizal mengungkapkan pemerintah daerah juga sulit menagih retribusi sampah ke masyarakat. Dia mencontohkan di Kota Tegal retribusi sampah Rp2.000, namun tak semua warga mau membayar. 

    Dia menyebut retribusi sampah penting buat pemerintah daerah mengelola sampah. Selama ini, lantaran tak ada dana pemerintah daerah cenderung menggunakan sistem open dumping (sampah dibuang begitu saja) di TPA. 

    Padahal, cara itu sudah tidak diperbolehkan lagi. Novrizal menyebut pemerintah daerah harus menggunakan sistem landfill maupun sanitary landfill. Sistem ini yakni sampah yang dibuang ke TPA ditutup dengan tanah setiap hari. 

    "Kenapa waste energy itu lambat? Karena landfill sistem dan sanitary sistem dengan cost Rp100-150 ribu per ton enggak bisa. Begitu masuk ke waste energy mungkin Rp400 ribu per ton, jadi cost-nya naik. Nggak mudah memang," tutur dia. 

    Novrizal mengaku KLHK terus mendorong agar pengelolaan sampah dilakukan serius oleh pemerintah daerah. Salah satunya lewat pemberian Adipura.

    Dia menyebut kota-kota yang bisa mendapatkan Adipura, ialah kota yang tidak lagi menggunakan sistem open dumping di TPA. "Lihat kota-kota besar seperti Makassar, Jakarta tidak dapat Adipura karena pengelolaan sampah masih open dumping," beber dia. 

    Novrizal menyebut bila sampah tak dikelola dengan baik, bukan tak mungkin TPA kepenuhan. Pada akhirnya, tak ada lagi tempat buat membuang sampah. 

    "Bayangkan saja Jakarta 2021, Bantar Gebang penuh, 115 hektare, 3.000 truk sehari. Kalau sebulan orang Jakarta nggak buang sampah, 3.000 kali 30 (hari) nggak buang sampah. Collapse ibu kota, bau, belatung di mana-mana," kata dia.

    Sadar kurangi sampah dari diri sendiri

    Novrizal menyebut masyarakat Indonesia kurang peduli pada pengelolaan sampah. Laporan indeks ketidakpedulian lingkungan hidup Indonesia yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik pada 2018 menunjukkan pengelolaan sampah dengan skor 0.72. 

    Masyarakat juga tidak peduli dengan penghematan air, pengelolaan energi dan transportasi pribadi. "Ini artinya 72 persen orang Indonesia nggak peduli pada persoalan sampah. Jadi sudah kapasitas pemerintah daerah rendah, masyarakatnya nggak peduli. Nambah ini persoalan," kata Novrizal. 

    Dia melanjutkan tren sampah plastik meningkat tajam. Saat ini, masyarakat ke mana-mana selalu membawa bungkus plastik. 

    Novrizal menyebut persoalan pengelolaan sampah sulit. Dia mengatakan perlu peran serta masyarakat. Dia mengajak masyarakat tidak lagi menggunakan plastik dan selalu membawa wadah tiap bepergian.

    Dia mengatakan persoalan sampah dimulai dari rumah tangga. Sebanyak 80 persen residu berasal dari rumah tangga. "Mendorong perilaku, membatasi, mencegah, mengurangi timbulnya sampah. Semaksimal mungkin kita mencegah sampah," tutur dia. 



    (REN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id