Kekerasan dan Penyiksaan PRT Masih Terjadi Sepanjang 2020

    Kautsar Widya Prabowo - 16 Februari 2021 01:46 WIB
    Kekerasan dan Penyiksaan PRT Masih Terjadi Sepanjang 2020
    Ilustrasi PRT/M Risyal Hidayat


    Jakarta: Komisi Nasional (Komnas) Perempuan menyebut kasus kekerasan, penyiksaan, hingga pelanggaran hak pekerja rumah tangga (PRT) masih kerap terjadi di dalam negeri. Ini diketahui berdasarkan laporan dari PRT yang mengalami kekerasan dan sebagainya.

    "Catatan tahunan Komnas Perempuan 2020, melaporkan adanya 17 kasus PRT yang pengaduannya diterima secara langsung," ujar Komisioner Komnas Perempuan Theresia Iswarini dalam konferensi pers peringatan Hari PRT Nasional secara virtual, Senin, 15 Februari 2021.




    Selain itu, terdapat sejumlah kasus ketidakadilan terhadap PRT yang dilaporkan Women Crisis Center (WCC) dan beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebanyak 17 kasus. Serta terdapat dua kasus PRT yang tengah ditangani Pengadilan Negeri.

    Kemudian, berdasarkan catatan dari Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (JALA PRT) dalam kurun waktu 2015 hingga 2019, setidaknya terdapat 2.148 kasus kekerasan yang dialami PRT. Seperti kekerasan fisik, psikis, dan kekerasan ekonomi.

    "Tak jarang, PRT mengalami kekerasan berlapis yang berujung pada kematian," kata dia.

    Komnas Perempuan meminta DPR menetapkan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PRT) masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas 2021. Hal itu sebagai upaya memberikan kepastian hukum terhadap perlindungan PRT.

    Baca: NasDem Heran RUU Perlindungan PRT Belum Masuk Paripurna

    RUU Perlindungan PRT sudah berulang kali terdaftar sebagai Prolegnas DPR sejak periode 2004-2009 hingga kemudian masuk RUU Prioritas Prolegnas 2020. Sehingga dibutuhkan komitmen dari setiap fraksi di Badan Legislasi (Baleg) DPR mengesahkan RUU PRT yang telah lama terbengkalai.

    Hari PRT Nasional diperingati setiap 15 Februari. Momentum ini lahir sejak 2007 sebagai hasil refleksi atas peristiwa penyiksaan dan kekerasan terhadap PRT Anak (PRTA) berusia 14 tahun bernama Sunarsih.

    Sunarsih adalah korban perdagangan orang yang dipaksa bekerja di Surabaya, Jawa Timur. Semasa bekerja, Sunarsih mengalami penyiksaan, perlakuan tidak manusiawi dari majikannya, dan tidak menikmati hak-haknya sebagai pekerja.

    Hak-hak tersebut antara lain tidak diberi upah, jam kerja yang lebih dari 18 jam, diberi makan yang tidak layak, tidak mendapat akses untuk keluar rumah karena dikunci, tidak bisa berkomunikasi dan bersosialisasi, serta tidur di lantai jemuran. Akibat seluruh perlakuan itu, Sunarsih akhirnya meninggal dunia pada 12 Februari 2001.

    (JMS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id