Perjuangan Senyap Bung Tomo dengan Pena

    Theofilus Ifan Sucipto - 09 November 2020 09:08 WIB
    Perjuangan Senyap Bung Tomo dengan Pena
    Ilustrasi perjuangan di Hari Pahlawan. Medcom.id.
    Jakarta: Perjuangan Sutomo atau lebih dikenal Bung Tomo identik dengan kemampuan berorasi dan semangat yang menggebu-gebu. Namun, tak banyak yang mengekspos perjuangan Bung Tomo sebagai jurnalis.

    “Kiprah Bung Tomo di ranah jurnalistik tidak pernah diekspos secara objektif dalam sejarah Indonesia,” kata pemerhati sejarah, Abdul Waid, dalam bukunya berjudul Bung Tomo: Hidup dan Mati Pengobar Semangat Tempur 10 November seperti dikutip Medcom.id, Senin, 9 November 2020.

    Abdul mengatakan Bung Tomo lebih dahulu merealisasikan semangat perjuangannya melalui tulisan. Setelah itu, Bung Tomo lebih rutin mengobarkan semangat perjuangan melalui orasi.

    “Bung Tomo menuangkan pemikiran dan sikap protesnya terhadap segala kebijakan penjajah dalam tulisan kritis ketika usianya baru 17 tahun,” papar Abdul.

    Bung Tomo memulai karier jurnalistiknya di harian Soeara Oemoem Surabaya pada 1937. Pria kelahiran Blauran, Surabaya, 3 Oktober 1920 itu bertugas sebagai reporter lepas. Jam kerja yang tidak mengikat membuat Bung Tomo mudah mengatur waktu lantaran juga dipercaya sebagai Sekretaris Partai Indonesia Raya (Parindra) Cabang Tembok Duku, Surabaya.

    “Meskipun memiliki beberapa aktivitas, kariernya di dunia jurnalistik tidak terbengkalai dan sangat tekun menjalani peran sebagai wartawan,” ujar Abdul.

    Baca: Bung Tomo, Sang Orator Berbakat Sejak Kecil

    Ketekunan Bung Tomo perlahan membuahkan hasil. Kemampuan menulisnya terus terasah sehingga menghasilkan berita yang kritis, tidak tendensius, dan mudah dicerna. Rakyat Surabaya mulai melirik nama Bung Tomo dan selalu menantikan tulisannya.

    “Beberapa pengusaha media yang mengenal tulisan Bung Tomo menjadi tertarik merekrutnya agar bergabung di medianya,” terang Abdul.

    Karier Bung Tomo kian melejit kala dipercaya sebagai redaktur mingguan Pembela Rakyat pada 1938. Padahal, usia Bung Tomo masih 18 tahun. Namun, kemampuan menulis Bung Tomo melebihi beberapa seniornya.

    “Penunjukan itu didasarkan pertimbangan matang bahwa ia adalah sosok jurnalis yang memang membela orang-orang kecil, yaitu orang pribumi,” tutur Abdul.

    Abdul mengatakan semangat perjuangan Bung Tomo kian membara setelah menjadi redaktur. Penerima lima tanda jasa itu semakin berani mengkritik pemerintah kolonial Belanda dan mengajak rakyat Surabaya melawan penjajah.

    Salah satu bukti kelihaian Bung Tomo mencari berita terlihat saat berhasil meliput Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Sebab, tak banyak wartawan yang memberitakan peristiwa bersejarah itu.

    Hasil liputan proklamasi itu dituangkan dalam bahasa Jawa dengan wartawan senior, Romo Bintarti. Pemberitaan itu sengaja tak ditulis dalam bahasa Indonesia agar tidak disensor tentara Jepang.

    Setelah kemerdekaan, Bung Tomo masih rutin mengasah kemampuan menulisnya. Puncak kariernya di bidang jurnalistik adalah menjadi pemimpin redaksi kantor berita Antara pada 1945.

    “Dunia jurnalistik mengantarkan kematangan idealismenya menjadi seorang pejuang sejati,” terang Abdul.

    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id