Mirdal: Karyawan Media Group Bukan Beban Perusahaan

    Siti Yona Hukmana - 21 Mei 2020 19:48 WIB
    Mirdal: Karyawan Media Group Bukan Beban Perusahaan
    CEO Media Group News, Mohammad Mirdal Akib/Medcom.id/Husen Miftahudin
    Jakarta: Seluruh perusahaan di Indonesia pada umumnya terdampak pandemi virus korona (covid-19), salah satunya Media Group News. Namun, perusahaan yang bergerak dalam bidang pemberitaan itu tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan karyawannya. 

    "Itu karena kami melihat karyawan itu bukan beban, tapi adalah sebuah aset," kata CEO Media Group News, Mohammad Mirdal Akib dalam Ngobrol Asyik daring dengan tema How To Be An Impactful Leader?, Kamis, 21 Mei 2020. 

    Dia mengakui bahwa filosofi untuk karyawannya saat industri pertama kali adalah untuk mencari profit atau keuntungan. Menurut dia, filosofi itu menempatkan karyawan sebagai beban.

    "Itu adalah filosofi lama, model lama," ujar Direktur Utama Medcom.id itu.

    Namun dia memandang karyawan sebagai aset, sehingga perlu mempertahankan dan merawatnya. Dengan cara itu, kinerja karyawan yang semula biasa saja akan membuahkan hasil yang bisa mengembangkan perusahaan.

    Baca: 50.891 Pekerja di DKI Terkena PHK

    "Dalam jangka panjang, akhirnya muncul menjadi sebuah keluarga besar karena keluarga itu aset," imbuh Managing Director Metro TV itu.
     
    Meski pertumbuhan ekonomi menurun imbas virus korona, Mirdal menyebut tidak akan melakukan PHK terhadap karyawannya. Sebab, karyawan yang menjadi keluarga besar itu telah melewati suka duka selama puluhan tahun bersama Media Group.

    "Tiba-tiba ada dalam kondisi terburuk apakah mungkin anak kita, kita lepas, apakah mungkin karyawan yang saat itu kita jadikan sebagai prioritas pertama untuk kemudian kita korbankan. Itu kita mundur namanya," tuturnya. 

    Alih-alih melakukan PHK, Mirdal mengaku lebih pro kepada diskusi bersama untuk menyamakan pandangan dalam menghadapi dampak virus korona. Kemudian membangun optimisme bersama untuk bisa melalui dampak korona tersebut.

    "Sekarang bagaimana caranya melihat baik-baik, yang terjadi adalah sebuah krisis. Kita hadapi, kita bangun optimisme, kemudian jelaskan strateginya," imbuh dia.

    Namun, dia tak menyalahkan keputusan ekstrem yang dilakukan sejumlah perusahaan terhadap karyawannya. Keputusan PHK bagi masing-masing perusahaan itu dinilai sesuai dengan kondisi yang dihadapi dan sebuah alternatif yang telah masuk dalam kesepakatan. 

    Dia memberi contoh seorang dokter yang mengamputasi kaki pasiennya karena telah terinfeksi. Amputasi itu berdampak pada masa depan pasien. Dokter bisa diartikan adalah orang yang merenggut masa depan pasien tersebut.
     
    "Tapi, dengan tindakan itu pasien masih tetap hidup dan masih tetap berkontribusi. Sudut pandang ini harus kita satukan antara pimpinan dengan karyawan dalam menghadapi krisis seperti itu," kata dia.



    (ADN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id