3 Kesalahan Persepsi Karhutla yang Kerap Membuat Panik

    Media Indonesia - 28 Juni 2020 16:53 WIB
    3 Kesalahan Persepsi Karhutla yang Kerap Membuat Panik
    Ilustrasi pemadaman karhutla. Foto: Antara/Mushaful Imam
    Jakarta: Kesalahan persepsi terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih kerap terjadi. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut ada tiga kesalahan persepsi yang kerap terjadi. Kesalahan persepsi ini tak jarang membuat masyarakat panik.

    "Kesalahan persepsi membuat analisis tentang karhutla menjadi tidak ojektif dan tidak akurat. Hal ini justru merusak dan melemahkan psikologi masyarakat," kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, Minggu, 28 Juni 2020.

    Padahal, kata Siti, selama tiga tahun terakhir banyak pihak berupaya menekan karhutla. "Analisis karhutla yang digunakan harus betul-betul adil, jangan framing," ujar dia.

    Tenaga Ahli Menteri LHK, Afni Zulkifli, menyebut ada tiga kesalahan persepsi yang kerap terjadi saat karhutla. Pernyataannya ini dipaparkan saat webinar FW Talk bertema Kebakaran Hutan dan Lahan bersama Lembaga Lingkungan Hidup dan Agromaritim (LHA) Forum Wacana IPB, Sabtu, 28 Juni.

    "Kesalahan persepsi bisa mendelegitimasi kerja-kerja yang sudah baik dengan pengaburan informasi tanpa edukasi di tengah masyarakat. Ini juga akan sangat mempengaruhi tindakan evaluasi atau bahkan pengambilan kebijakan oleh para pemangku kepentingan," kata Afni.

    Berikut tiga kesalahan persepsi mengenai karhutla yang kerap terjadi dan membuat panik:
     

    1. Salah memahami definisi pengendalian karhutla

    Banyak pihak memahami pengendalian sebatas pemadaman dan penegakan hukum. Padahal, kata Afni, pengendalian karhutla harus berdasarkan pada Peraturan Menteri LHK No 32 Tahun 2016. Yakni, konsep kerja dalam kesatuan utuh yang memuat enam elemen. Meliputi; perencanaan, pencegahan, penanggulangan, pasca-kebakaran, koordinasi kerja, dan kesiagaan.

    Ia berharap persepsi salah ini tidak diteruskan. Semua sektor, baik pemerintah, swasta, lembaga swadaya masyarakat (LSM), bahkan masyarakat harus menyamakan persepsi tentang apa itu pengendalian. 

    "Sehingga, gerak langkahnya akan sama. Harapannya pengendalian karhutla cukup berhenti di perencanaan atau tahapan pencegahan. Tidak perlu sampai harus ada pemadaman. Pemerintah dalam hal ini KLHK berprinsip mencegah lebih baik daripada memadamkan," kata dia.

    Contoh kesalahan di tahap perencanaan ini adalah saat kejadian kebakaran di awal 2019 di Rupat, Riau. Ketika itu titik api yang masih kecil tidak bisa langsung diintervensi Satgas Kabupaten karena pemda setempat beralasan anggaran belum ketok palu. Pemda juga beralasan tidak memiliki anggaran yang cukup untuk pencegahan. 

    "Api dan asap tidak bisa menunggu anggaran ketok palu. Bahkan, ada juga temuan pemda tingkat II hanya pasrah menunggu satgas provinsi atau satgas nasional turun. Jika gagal direncanakan dan dicegah dengan baik mulai dari tingkat tapak, api hampir pasti akan membesar dan makin sulit dipadamkan," kata Afni.
    3 Kesalahan Persepsi Karhutla yang Kerap Membuat Panik
    Tenaga Ahli Menteri LHK, Afni Zulkifli. Foto: KLHK
     

    2. Kesalahan memahami hotspot

    Kesalahan persepsi berikutnya adalah pemahaman mengenai hotspot atau titik api. Banyak yang menggunakan dan menyampaikan data tanpa edukasi yang benar ke publik, terutama soal tingkat kepercayaan (confident level) hotspot

    Afni masih banyak menemukan semua titik panas yang ditangkap satelit dari tingkat confidence 0-80 persen malah dilaporkan sebagai hotspot. Padahal, tidak semua hotspot adalah firespot (lokasi yang sudah terverifikasi kebakaran).

    Ia lantas mengambil contoh data yang disajikan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) pada kegiatan periode 1 Januari-20 Juni 2020. Data itu menyebut terdapat 44.093 titik panas di Indonesia. 

    "Setelah dicek dengan confident level 80 persen, hotspot pada periode yang sama terpantau hanya 870 titik," kata dia. 

    Monitoring hotspot ini, lanjutnya, bahkan sudah dapat diakses terbuka dalam bentuk aplikasi android di Web Sipongi KLHK, LAPAN, BMKG, dan BNPB.

    KLHK juga mencoba membandingkan jumlah hotspot baseline pada 2015. Berdasarkan satelit Terra/Aqua (NASA), jumlah hotspot sebanyak 70.971 titik. Artinya, perbandingan hotspot 2015 dan 2020 per Juni terdapat penurunan jumlah hotspot sebanyak 70.101 titik atau 98,77 persen.

    "Ternyata angkanya beda jauh karena satelit itu memang menangkap citra dengan polos. Kalau dari confident level 0 persen jadi rujukan, jelas kurang tepat. Karena, atap seng rumah orang juga sering ditangkap satelit sebagai hotspot. Jadi, hotspot itu belum tentu ada kebakaran (firespot)," kata Afni. 
    3 Kesalahan Persepsi Karhutla yang Kerap Membuat Panik
    Petugas berupaya memadamkan api. Foto: Antara/Rony Muharrman
     

    3. Menganggap KLHK satu-satunya penegak hukum

    Kesalahan persepsi berikutnya adalah menganggap KLHK sebagai satu-satunya lembaga penegak hukum. Hal ini menjadi penting karena ada bermacam-macam hutan dengan pemegang mandat administratif berbeda-beda.

    Afni menjelaskan mandat pengawasannya ada di lintas kementerian, pemda, ataupun swasta. Sementara, titik api tidak mengenal batasan administratif seperti itu.
     
    "Andai tidak terjadi kesalahan persepsi, maka rekomendasi untuk evaluasi dan strategi menghindari kebakaran berulang juga bisa dilakukan dengan tepat oleh para pemangku kepentingan," kata dia.

    Dosen Universitas Lancang Kuning Riau ini mengatakan masih banyak kesalahan persepsi lain yang ditemukannya di ruang publik terkait karhutla. Untuk itu, diperlukan peran aktif semua pihak memberikan edukasi dan informasi yang tepat.

    "Informasi yang jujur dan tepat sangat dibutuhkan masyarakat. Juga sangat penting untuk menjadi dasar pengambilan kebijakan. Pemerintah, swasta, LSM, pers, dan lainnya harus mau mengambil peran memberi edukasi informasi yang apa adanya, bukan ada apanya," kata dia.



    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id