Mitos Membuat Masyarakat Ogah Menjalani Vaksinasi

    Theofilus Ifan Sucipto - 13 Oktober 2020 16:07 WIB
    Mitos Membuat Masyarakat Ogah Menjalani Vaksinasi
    Ilustrasi. Media Indonesia.
    Jakarta: Dokter spesialis anak dari Yayasan Orang Tua Peduli, Windhi Kresnawati, meluruskan sejumlah informasi keliru soal vaksin virus. Disinformasi vaksin menyebabkan masyarakat ogah menjalani vaksinasi kendati penting bagi kesehatan.

    "Tidak sedikit mitos yang membuat masyarakat enggan menjalani vaksinasi," kata Windhi dalam keterangan tertulis, Selasa, 13 Oktober 2020.

    Windhi menyebut mitos pertama, yakni penyakit infeksi bisa dihindari dengan gaya hidup sehat. Dia bilang, pola hidup sehat memang baik namun belum cukup ampun menangkan infeksi penyakit tertentu.

    Windi mencontohkan munculnya vaksin campak di Amerika Serikat (AS) pada 1963. Penyakit itu berangsur-angsur hilang hingga pada 1974 AS dinyatakan bebas dari campak.

    "Pola dan gaya hidup warga AS tidak ada perubahan dalam kurun waktu itu. Artinya, peran terbesar hilangnya campak adalah imunisasi, bukan semata-mata gaya hidup sehat," kata dia.

    Mitos kedua, yakni anak yang tetap sakit meski sudah divaksinasi. Windhi mengatakan saat sakit, tingkat keparahan anak yang divaksinasi relatif lebih ringan dibanding yang belum divaksinasi.

    "Anak yang diimunisasi bila sakit akan terhindar dari kecacatan hingga kematian," ujar Windhi.

    Windhi meluruskan mitos berikutnya yaitu vaksin mengandung zat berbahaya. Dia menjelaskan vaksin yang diproduksi massal harus memenuhi syarat utama, yakni aman, efektif, stabil, dan efisien.

    Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bakal langsung menarik vaksin jika memiliki efek samping. Biasanya, efek samping terdeteksi saat fase awal sebelum diproduksi massal.

    Windhi juga memastikan mitos soal vaksin yang menyebabkan autisme. Dia mengatakan tidak ada hubungan antara kandungan vaksin berupa thimerosal terhadap autisme pada anak. Thimerosal sempat dituding sebagai pemicu autisme anak.

    "AS pernah menghapus kandungan thimerosal pada 1999. Tapi faktanya, setelah thimerosal dihapuskan, angka autisme di AS tidak turun artinya tidak ada korelasi," ucap dia.
     

    • Halaman :
    • 1
    • 2
    Read All


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id