ATC: Konduktor dalam Orkestra Udara

    Nur Azizah - 04 Oktober 2019 18:45 WIB
    ATC: Konduktor dalam Orkestra Udara
    Petugas ATC memandu keberangkatan pesawat udara di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Padangpariaman, Sumatera Barat, Senin (23/9/2019). Foto: Antara/Iggoy el Fitra
    Jakarta:Jakarta... Romeo Alfa Three Six Eight Zero One request descend from 10.000 feet to 6.000 feet.”

    Kalimat itu menjadi ucapan terakhir pilot Yablontsev kepada petugas pengontrol lalu lintas udara (air traffic controller/ATC) Bandara Soekarno-Hatta, sebelum pesawat yang diterbangkannya jatuh menabrak gunung. Siang itu, Rabu 9 Mei 2012, penerbangan demonstrasi Sukhoi Superjet 100 berujung maut. 

    Pesawat buatan Rusia yang membawa 37 penumpang dan 8 awak kabin itu lenyap di Gunung Salak, Cijeruk, Bogor, Jawa Barat. Tak ada yang selamat dalam insiden nahas itu.

    Enam menit sebelum pesawat jatuh, petugas menara pemantau mengizinkan Yablonstev menurunkan ketinggian pesawat. Celakanya, izin yang diberikan petugas, keliru.

    Usai menurunkan ketinggian, kecepatan Sukhoi Superjet 100 berubah menjadi 290 knot atau 537 kilometer per jam, separuh dari kecepatan maksimum. Yablonstev sempat meminta izin membelokkan pesawat, tetapi tak mendapat tanggapan petugas ATC.

    Dalam sekejap, pesawat tak bisa dikontak. Komunikasi terputus hingga akhirnya pesawat dinyatakan hilang setelah empat jam kejadian.

    Quality, Safety, and Security Director Sriwijaya Air, Toto Soebandoro, menyebut kecelakaan itu terjadi salah satunya karena ketidaktegasan ATC. Seharusnya, petugas menara pemandu bisa memastikan kondisi di sekitar aman atau tidak.

    “Membiarkan pilot terbang dengan ketinggian di bawah rata-rata merupakan kesalahan fatal. Apalagi pilot meminta menurunkan pesawat dan jarak semakin rendah. Di sinilah harusnya ATC tegas untuk menolak permintaan pilot,” kata Toto kepada Medcom.id, Jakarta, Minggu, 29 September 2019.

    Bagaimana pun, kata dia, petugas ATC berperan vital bagi keselamatan penerbangan. Seperti kata pepatah, "Sky is a vast place, but there is no room for error".

    Secara umum, tugas ATC mengatur lalu lintas pesawat saat take off dan landing serta mengatur jarak antarpesawat. Tugas ATC tak berhenti di situ. Mereka juga berperan mengatur jalur serta ketinggian pesawat. Untuk itu, ATC bukan saja dianggap telinga, tapi juga mata para pilot. ATC ibarat konduktor dalam sebuah orkestra udara.

    “ATC memiliki kuasa penuh untuk mengendalikan lalu lintas penerbangan, sedangkan pilot hanya manut. Ketegasan ini diperlukan agar irama dan keselamatan penerbangan terjamin,” ujar dia.

    Toto tak bermaksud menyalahkan ATC karena tidak ada kesalahan yang berdiri sendiri. Ada kesalahan berlapis, baik dari pilot maupun ATC.
    ATC: Konduktor dalam Orkestra Udara
    Foto: Antara/Iggoy el Fitra

    Direktur Keselamatan dan Keamanan Lion Air Kapten Eduard Kallisto Pardede sepakat. ATC harus menjadi penuntun. Dia pun mengingat sulitnya berkomunikasi dengan petugas menara Indonesia sebelum 2012: Rumit dan terlalu banyak perintah. 

    Jeda waktu antara informasi satu dengan yang lainnya terlalu singkat. Bukannya membantu, informasi justru membuat bingung. Bisa jadi, perintah yang diberikan tidak bisa dilaksanakan seluruhnya.

    “Bila ada perintah penting terlewat, bukan tidak mungkin hal buruk bisa terjadi,” kata Kalisto.

    Ia lantas membandingkan dengan negara tetangga, sebut saja Singapura. Perintah dari ATC setempat sedikit dan jelas. Saat memasuki ruang udara Singapura, ATC sudah memberikan plane ahead tanpa banyak perintah sehingga laju pesawat bisa tertata saat hendak menuju satu titik. 

    Indonesia tidak. Banyaknya perintah bisa membuyarkan konsentrasi pilot. Apalagi, tak seluruh pilot memiliki daya ingat tinggi. Mereka bisa saja cuma mengingat pesan awal atau akhir.

    “Eror bermula dari multitasking yang dilakukan. Ini bisa mengancam keselamatan penumpang juga,” ujar Kalisto.

    Namun, kondisi itu kini tinggal sejarah. Kallisto mulai nyaman terbang di wilayah udara Indonesia setelah AirNav Indonesia menjadi single ATS provider pada September 2012.

    Sebelum AirNav terbentuk, pengelolaan navigasi di Indonesia diatur instansi seperti PT Angkasa Pura I dan PT Angkasa Pura II, Kementerian Perhubungan, serta TNI (khusus untuk bandara militer). Alhasil, ada empat instansi yang mengatur dan mengelola ruang udara Indonesia.
     

    Kualitas ATC naik


    Setelah tujuh tahun berada di bawah naungan AirNav, kualitas ATC Indonesia merangkak naik. Kalau kata Ketua Ikatan Pilot Indonesia, Iwan Setyawan Diyatputra, mereka semakin profesional.

    Komunikasi ATC dengan pilot pun jauh lebih baik. Ini lantaran AirNav getol menggelar pertemuan antara pilot, ATC, dan pemangku kepentingan.

    Miscommunication ini ditangani jauh lebih baik dengan seringnya kedua belah pihak melakukan sharing session berbagai topik bahasan sehingga jarak antara navigate dan managing traffic makin mengecil,” kata Iwan.

    Kualitas ATC dan pelayanan penerbangan di Indonesia saat ini tak bisa dipandang sebelah mata. Dulu, ATC Indonesia mungkin kalah dari negara tetangga, tapi sekarang tidak.

    “Singapura itu negara kecil, SDM (sumber daya manusia) sedikit, airport hanya satu, semua rute penerbangannya international. Janganlah Singapura dijadikan reference, Indonesia itu luas dan besar, ada 32 bandara belum termasuk yang kecil-kecil. SDM di Indonesia terus ditingkatkan baik secara formal atau nonformal,” ucap Iwan.

    Perbaikan pelayaan penerbangan yang dilakukan AirNav sejak 2012 berbuah manis. Tahun lalu, AirNav mendapat predikat memuaskan dari Indonesia National Air Carriers Association (INACA). Predikat itu berdasarkan penilaian maskapai penerbangan di wilayah udara Indonesia.
    ATC: Konduktor dalam Orkestra Udara
    Petugas memantau pergerakan pesawat di menara ATC Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (19/1/2019). Foto: Antara/Aji Styawan

    Direktur Utama AirNav Indonesia Novie Riyanto mengatakan ada beberapa aspek penilaian. Salah satu aspeknya indeks kualitas pelayanan atau service quality index (SQI).

    Pada 2018, SQI AirNav Indonesia meningkat menjadi 4,3 poin dari sebelumnya 4,07. SQI didapatkan melalui perpaduan antara indeks kepuasan kru kokpit atau cockpit crew satisfaction index (CCSI) dengan proporsi nilai 80 persen dan indeks kualitas pemantauan atau observed quality index (OQI) dengan proporsi nilai 20 persen.

    CCSI ditentukan melalui metode survei dan wawancara acak bertingkat atau proportionate stratified random sampling (PSRS) terhadap 1.015 pilot on duty yang mendarat di lokasi penelitian. CCSI terdiri atas 844 pilot rute domestik dan 171 pilot rute internasional.

    Pertanyaan yang diajukan seputar kualitas layanan navigasi penerbangan. Hal ini meliputi kualitas komunikasi penerbangan, informasi penerbangan, informasi cuaca, prosedur layanan navigasi penerbangan, dan kualitas personel navigasi penerbangan yang memberikan layanan.

    “Sinergi dengan seluruh stakeholder penerbangan adalah kunci keberhasilan dalam merangkai konektivitas udara. Capaian ini menjadi pelecut untuk terus meningkatan layanan navigasi penerbangan,” tutur Novie.

    Sementara itu, OQI berupa observasi langsung Tim INACA atas 10 cabang AirNav Indonesia. Jakarta Air Traffic Services Center (JATSC), Makassar Air traffic Services Center (MATSC), Balikpapan, Tanjung Pinang, Bandung, Denpasar, Medan, Sentani, Surabaya, dan Ternate disambangi tim.

    Survei dilakukan untuk meninjau kompetensi personel navigasi penerbangan, APP room, ACC room (khusus JATSC dan MATSC), briefing office, ruang administrasi dan keuangan, keamanan lingkungan kerja, fasilitas komunikasi, navigasi penerbangan, automasi dan fasilitas surveillance. Pada 2018, nilai OQI meningkat menjadi 4,43 dari sebelumnya 4,25 pada 2017.
     

    Belum sempurna


    Meski sudah mendapat predikat excellent, AirNav tak boleh terlena. Masih banyak yang harus ditingkatkan. Dari sisi teknologi, AirNav harus memiliki radar cuaca.

    Persoalan cuaca dalam penerbangan tidak bisa disepelekan. Cuaca menjadi salah satu faktor penerbangan dapat dilaksanakan atau tidak. Kecelakaan pesawat karena faktor cuaca beberapa kali terjadi. Untuk itu, butuh informasi yang akurat tentang cuaca terkini agar penerbangan aman.

    Salah satu negara yang sudah memiliki radar cuaca adalah Singapura, Australia, dan Tiongkok. Sementara itu, Indonesia masih mengandalkan data cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan pandangan mata pilot.

    “Hampir di semua negara sudah pakai radar cuaca. Bagi saya radar cuaca wajib, bukan sunah lagi,” kata Direktur Teknik Asosiasi Pilot Garuda, Irwan Riyadi Hertanto.

    ATC: Konduktor dalam Orkestra Udara
    Petugas memantau kondisi cuaca di menara ATC Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (19/1/2019). Foto: Antara/Aji Styawan

    AirNav juga harus memiliki micrometer untuk mengetahui kecepatan udara. Iwan menyebut ATC Indonesia hanya bisa membaca ground speed. Namun, satuan itu berbeda dengan alat yang dimiliki pilot.

    “Mudah-mudahan nanti ATC punya agar instruksinya bisa sesuai. Karena, ketika ATC meminta pilot menurunkan atau menaikkan kecepatan dengan satuan ground speed, maka kami akan kesusahan,” terang dia.

    Irwan juga berharap AirNav menghidupkan kembali family season flight. Perwakilan ATC harus ikut terbang untuk mengetahui cara kerja dan interaksi antara pilot dan petugas ATC yang ada di menara.

    “ATC bisa duduk di ruang kemudi bersama pilot untuk melihat bagaimana pilot melakukan adjustment-adjustment lalu lintas udara. Harapannya mereka akan terbayang kerjanya seperti ini,” ujar dia.

    Dengan begitu, ATC bisa memberikan perintah yang bijak pada pilot. Ini juga bisa membantu menyamakan persepsi antara pilot dan ATC.

    Tantangan AirNav ke depan akan jauh lebih berat. Pasalnya, bicara keamanan dalam dunia penerbangan tidak ada ujungnya. Namun, bila manajemen keselamatan (safety management) AirNav terus dijaga dan pilot mengikuti instruksi dengan baik, risiko penerbangan bisa diatasi.

    “Saya juga mengapresiasi kinerja AirNav dalam merespon keluhan dari airlines. Koordinasi yang baik membuat kami sebagai user nyaman di bawah komando AirNav. Tak hanya itu, koordinasi yang matang membuat masalah penerbangan cepat diatasi,” kata Irwan.

    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id