Potensi El Nino di 2020 Diwaspadai

    Theofilus Ifan Sucipto - 26 November 2019 16:49 WIB
    Potensi El Nino di 2020 Diwaspadai
    Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) Nazir Foead. Foto: Medcom.id/Theofilus Ifan Sucipto
    Jakarta: Badan Restorasi Gambut (BRG) mewaspadai potensi El Nino pada 2020. Fenomena iklim yang membawa udara panas itu merupakan salah satu penyebab kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    "Kami tetap mewaspadai pencegahan kebakaran hutan dan lahan 2019 terulang kembali," kata kepala BRG Nazir Foead di Mercure Convention Center, Jakarta Utara, Selasa, 26 November 2019.

    Nazir menyebut kewaspadaan itu muncul setelah BRG membaca hasil penelitian independen asal Jerman. Penelitian menyebut potensi El Nino tahun depan relatif tinggi.

    "Kemungkinan El Nino terjadi sampai 80 persen," ujar Nazir.

    Nazir membandingkan data itu dengan penelitian lembaga lain, misalnya Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Badan Penerbangan dan Antariksa (NASA), serta Badan Meteorologi Jepang. Ketiga lembaga memprediksi El Nino terjadi lemah.

    "Peneliti Jerman menggunakan metode lain dan hasilnya lain. Tetap harus antisipasi, tidak boleh kendor," kata dia.

    Fenomena El Nino menjadi perhatian serius belakangan ini. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memulai penelitian transport Indonesian seas, upwelling, mixing physics (triumph) di perairan selatan Jawa, Selat Bali, hingga Selat Makassar buat membedah misteri El Nino dan La Nina.

    "Dampak El Nino dan La Nina belum banyak diketahui. Data dan informasi hasil riset ini akan sangat berguna buat menyusun strategi dan mitigasi, perubahan dampak perubahan iklim, yang tidak hanya di Indonesia tapi juga melihat secara global," kata pelaksana tugas Kepala Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI Nugroho Dwi Hananto di Pelabuhan Nizam Zachman, Jakarta Utara, Senin, 18 November 2019.

    La Nina dan El Nino menunjukkan perubahan iklim bumi. El Nino terjadi ketika suhu air laut di Samudra Pasifik memanas di atas rata-rata suhu normal. La Nina terjadi ketika suhu air laut di Samudra Pasifik turun di bawah rata-rata sekitarnya.

    El Nino membuat pembentukan awan bekurang sehingga curah hujan menurun, tetapi kandungan klorofil-a pada lautan Indonesia meningkat. Kandungan klorofil-a yang meningkat berarti pasokan ikan di lautan melimpah.



    (REN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id