BMKG: Perubahan Lingkungan Percepat Siklus Hujan Ekstrem

    Antara - 04 Januari 2020 02:30 WIB
    BMKG: Perubahan Lingkungan Percepat Siklus Hujan Ekstrem
    Cuaca ekstrem. MI/ Susanto.
    Jakarta: Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan perubahan lingkungan mempercepat siklus balik hujan ekstrem sehingga menyebabkan banjir yang disebabkan oleh daya lingkungan menurun.

    Dwikorita mengatakan berdasarkan data BMKG, sikluk balik tersebut semakin pendek. Jika biasanya berada pada rentang 10-20 tahun, di masa mendatang hanya dalam hitungan lima tahun atau bahkan di bawahnya.

    "Kenapa bisa demikian saya sependapat dengan Bapak Kepala BNPB meskipun hujannya tinggi itu alam tetapi perubahan lingkungan itu yang mempercepat siklus balik itu datang, jadi ada pengaruhnya," kata Dwikorita seperti dilansir dari Antara, Sabtu, 4 Januari 2020.

    Menurut Dwikorita, perlu perilaku adaptasi dan mitigasi serta memperhatikan peringatan dini dalam menghadapi berbagai potensi bencana saat ini.

    BMKG mencatat curah hujan pada 1 Januari 2020 di Jakarta tertinggi sejak 1996. Titik hujan tertinggi ini ada di Jakarta Timur. Curah hujan tinggi menyebabkan banjir di sejumlah daerah yang luas di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.

    Berikut data curah hujan yang tercatat BMKG saat 1 Januari lalu:
    -Halim Perdanakusuma: 377 mm/hari
    -Taman Mini: 335 mm/har
    -Jatiasih: 259 mm/hari

    Berikut ini data intensitas curah hujan pada saat terjadi banjir besar sejak 1996:
    -1996: 216 mm/hari
    -2002: 168 mm/hari
    -2007: 340 mm/hari
    -2008: 250 mm/hari-2013: 100 mm/hari
    -2015: 277 mm/hari
    -2016: 100 - 150 mm/hari

    Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo meminta seluruh pimpinan daerah seperti bupati, kepala dinas, camat, kepala desa, tokoh agama, budayawan, tokoh pemuda untuk mengajak masyarakat untuk menghindar dari daerah-daerah yang sangat rawan bencana. Misalnya warga yang tinggal di sekitar aliran sungai dapat dievakuasi ke tempat awan untuk menghindari bencana potensi banjir dan longsor.

    Doni menuturkan banjir dan longsor juga dapat disebabkan oleh perubahan vegetasi karena alih fungsi lahan yakni perubahan kawasan hutan terutama kawasan konservasi menjadi perkebunan, pertanian dan tambang. Ini menyebabkan daya lingkungan tidak kuat menampung curah hujan yang tinggi.

    "Inilah fenomena perubahan iklim, supaya kita menyadari jangan kita mengganggu alam, nanti alam akan menguji kita," ujar Doni.

    Bencana yang terjadi menjadi peringatan kepada semua pemimpin di daerah dan juga para pelaku usaha untuk melakukan kegiatan usaha yang memperhatikan keseimbangan alam.

    "Jangan sampai kita mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar tetapi justru dampak kerugian jiwanya juga besar," tutur dia.

    Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin menuturkan banjir disebabkan dua faktor utama yakni curah hujan dan daya dukung lingkungan.

    "Kalau terjadi curah hujan tinggi dan daya dukung lingkungan yang tidak memadai, apalagi rusak, maka terjadilah banjir," ujar Thomas.

    Jadi, daerah potensi banjir yang perlu diwaspadai adalah daerah dengan curah hujan tinggi dan atau daya dukung lingkungannya tidak memadai atau rusak.

    Langkah antisipasi yang harus dilakukan adalah waspadai curah hujan tinggi yang mana informasinya dapat diperoleh dari BMKG atau Sadewa LAPAN dan membenahi daya dukung lingkungan berupa resapan air dan saluran pembuangan air.



    (SCI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id