Polisi Dituding Sewenang-wenang di Penangkapan Mahasiswa Papua

    Theofilus Ifan Sucipto - 19 November 2019 17:55 WIB
    Polisi Dituding Sewenang-wenang di Penangkapan Mahasiswa Papua
    Anggota kuasa hukum Surya Anta Ginting cs, Oky Wiratama Siagian. Foto: Candra Yuri Nuralam/Medcom.id
    Jakarta: Polisi dituding sewenang-wenang dalam penyelidikan kasus dugaan makar yang melibatkan beberapa mahasiswa asal Papua. Aparat tidak menunjukkan surat penangkapan saat mencokok mahasiswa Papua, Charles Kossay, dan Dano Tabuni, di asramanya, kawasan Depok, Jawa Barat.

    "Padahal seharusnya surat penangkapan diberikan pada orang yang akan ditangkap," ujar anggota kuasa hukum Surya Anta Ginting cs, Oky Wiratama Siagian, di Kantor LBH Jakarta, Jakarta Pusat, Selasa 19 November 2019.

    Oky menyampaikan polisi hanya membacakan surat penangkapan saat akan membawa Charles dan Dano. Aparat juga masuk ke dalam asrama dengan menodongkan senjata api ke arah penghuni.

    Di sisi lain, Oky menyesalkan penggeledahan yang dilakukan aparat tanpa dihadiri dua orang saksi dari perwakilan rukun tetangga (RT)/rukun warga (RW) setempat. Menurut dia, tindakan aparat tersebut melanggar Pasal 33 ayat 4 KUHAP.

    Pasal 33 ayat 4 KUHP berbunyi, setiap kali memasuki rumah harus disaksikan oleh kepala desa atau ketua lingkungan dengan dua orang saksi dalam hal tersangka atau penghuni menolak atau tidak hadir.

    Polisi juga dinilai terlalu terburu-buru dalam menetapkan Charles dan Dano sebagai tersangka. Keduanya dijerat selang dua hari sejak laporan polisi (LP) diterima. "Ini sangat tidak mungkin dan cermin dari ketidakprofesionalan pihak kepolisian," ujar dia. 

    Menurut dia, polisi seharusnya melalui beberapa proses sebelum sebelum menetapkan seseorang sebagai tersangka. Proses itu diatur dalam Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2012 Juncto Peraturan Kapolri Nomor 6 Tahun 2019 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana. 

    Charles dan Dano semisalnya dipanggil terlebih dahulu sebagai saksi. Keduanya kemudian diperiksa sebagai saksi dan gelar perkara. Baru statusnya dinaikkan menjadi tersangka.

    Surya Anta Ginting ditangkap atas dugaan mengibarkan bendera bintang kejora dalam unjuk rasa menuntut referendum Papua di depan Istana Merdeka, Rabu, 28 Agustus 2019. 

    Dia merupakan satu dari enam tersangka kasus dugaan makar dan ditahan di rumah tahanan (rutan) Markas Komando (Mako) Brigade Mobil (Brimob), Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Lima tersangka lain, yakni Dano Tabuni, Charles Cossay, Ambrosius Mulait, Isay Wenda, dan Wenebita Wasiangge. 



    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id