Kunjungi UINSI Samarinda, Kepala BPIP Kupas Keterkaitan Islam dengan Pancasila

    M Studio - 30 Juni 2021 17:29 WIB
    Kunjungi UINSI Samarinda, Kepala BPIP Kupas Keterkaitan Islam dengan Pancasila
    Kepala Badan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi memberikan kuliah umum Penguatan Ideologi Pancasila di Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Kalimantan Timur, Selasa, 29 Juni 2021 (Foto:Dok)



    Samarinda: Badan Ideologi Pancasila (BPIP) terus menyosialisasikan nilai-nilai Pancasila dan mendorong aktualisasinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kali ini, Kepala Badan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi mengunjungi Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Kalimantan Timur, untuk memberikan Kuliah Umum Penguatan Ideologi Pancasila pada Selasa, 29 Juni 2021.
     
    Selain Yudian,  hadir pula tim dari BPIP yaitu Kepala Pusat Data dan Informasi Yakob KM, Direktur Sosialisasi Komunikasi dan Jaringan M Akbar Hadiprabowo, serta Direktur Hubungan Antar Lembaga dan Kerjasama Elfrida Herawati Siregar.
     
    Rektor UINSI Mukhamad Ilyasin menyambut gembira kehadiran Yudian dan tim.
     
    "Kami gembira sekali. Ini kuliah umum perdana sejak kami (naik kelas dari IAIN) menjadi UINSI pada 11 Mei 2021," kata Ilyasin di depan Yudian, jajaran BPIP, dan puluhan mahasiswa.
     
    Ilyasin mengaku terkesan karena beberapa jam sebelumnya mengikuti Kegiatan Pembinaan Ideologi Pancasila Bagi Tokoh Agama, Pendidikan, Masyarakat, Pemuda dan Komponen Masyarakat Lainnya, di sebuah hotel di Samarinda.
     
    "Tugas BPIP sangat mulia karena selalu terdepan dalam merawat Pancasila. Perlu dukungan dari berbagai pihak, termasuk UINSI siap bergabung dan bekerja sama dengan BPIP," kata Ilyasin.
     
    Ilyasin menyadari pembinaan ideologi Pancasila tidak bisa meninggalkan aspek sejarah, termasuk mengakomodir budaya dan kearifan lokal setiap daerah.
     
    "Diperlukan kecermatan dan ketelatenan untuk merawatnya," katanya.

    Kunjungi UINSI Samarinda, Kepala BPIP Kupas Keterkaitan Islam dengan Pancasila
    Kepala BPIP Yudian Wahyudi dan Rektor UINSI Mukhamad Ilyasin (Foto:Dok.BPIP)

     



    Yudian lantas memulai kuliah. Dia panjang lebar menceritakan sejarah keterkaitan Islam dengan Pancasila. Semua ada di buku terbarunya yang belum lama rilis berjudul Universalitas Pancasila Yudian Wahyudi-Percikan Biografi Intelektual, Spiritual dan Internasional.
     
    Pancasila, disebutkan Yudian, sangat penting bagi bangsa Indonesia karena mampu merekatkan perbedaan dan keragaman. Untuk itu ia mengajak seluruh masyarakat Indonesia, khususnya civitas akademika UINSI untuk bersyukur atas nikmat yang luar biasa ini.
     
    "Tanpa Pancasila, bangsa Indonesia akan tercerai berai," ucap Yudian.
     
    Lebih lanjut Yudian menjelaskan sekaligus meluruskan tudingan Pancasila sebagai thogut (tagut, Kamus Besar Bahasa Indonesia).
     
    "Tuduhan Pancasila sebagai tagut itu tidak benar karena esensinya (Pancasila) itu qur'ani," kata Guru Besar UIN Sunan Kalijaga ini.
     
    Kunjungi UINSI Samarinda, Kepala BPIP Kupas Keterkaitan Islam dengan Pancasila
    Kepala BPIP Yudian Wahyudi dan Rektor UINSI Mukhamad Ilyasin (Foto:Dok.BPIP)

    Menurut Yudian, penyebutan tagut dalam Al-Quran ditujukan kepada Firaun. Ada tiga alasan mengapa Firaun disebut sebagai tagut, yakni ia mengaku sebagai Tuhan, melakukan penindasan dan perbudakan terhadap manusia, dan melakukan genosida terhadap bayi laki-laki bangsa Yahudi yang baru lahir. Pancasila jelas berbeda dengan konsep tagut.
     
    "Pancasila tidak ada itu (bukan Tuhan). Pancasila justru membebaskan bangsa ini dan melindungi bangsa ini. Itu beda, esensinya beda," kata Yudian tegas.
     
    Di sela memberikan kuliah, Yudian sempat mengoreksi biodatanya yang dibacakan oleh pembawa acara. Yudian disebutkan kelahiran Banjarmasin, 17 April 1960.
     
    "Saya lahir bukan di Banjarmasin, tapi di Balikpapan. Pasti lihat Wikipedia, salah itu yang menulis. Jadi, saya tahu sedikit banyak bahasa daerah di Balikpapan," ucap Yudian mengoreksi.
     
    Yudian yang lulusan Harvard Law School Amerika itu lalu menceritakan sekelumit kenangan masa kecilnya saat di Samarinda.
     
    "Saya ketika itu berusia 10 tahun, pernah tenggelam di anak sungai Mahakam. Kalau hari itu rambut saya pendek, saya mungkin sudah mati. Waktu itu rakit (terbalik). Air sudah segini. Kepala saya sudah masuk ke dalam air, lalu bisa ditarik," kata Yudian mengenang.

    (ROS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id