comscore

Jutaan Anak Indonesia Menanggung Beban Berat Akibat Krisis Iklim

Antara - 24 April 2022 09:50 WIB
Jutaan Anak Indonesia Menanggung Beban Berat Akibat Krisis Iklim
Ilustrasi. Medcom.id
Jakarta: Laporan global organisasi Save the Children berjudul Born into the Climate Crisis menyebut krisis iklim di Indonesia membawa dampak nyata dan dirasakan oleh anak-anak saat ini. Anak-anak menanggung beban berat akibat krisis iklim.

"Studi kami sangat jelas menggambarkan bahwa anak-anak menanggung beban berat karena tumbuh dalam situasi yang mengancam dan anak memiliki beragam faktor yang membuat mereka lebih rentan secara fisik, sosial, dan ekonomi," kata Ketua Pengurus Yayasan Save the Children Indonesia Selina Patta Sumbung dalam keterangan tertulis, Minggu, 24 April 2022.
Berdasarkan laporan global yang dirilis September 2021 menjelaskan anak-anak di Indonesia yang lahir pada 2020 berisiko menghadapi tiga kali lebih banyak ancaman banjir dari luapan sungai. Selanjutnya, dua kali lebih banyak mengalami kekeringan, serta tiga kali lebih banyak gagal panen dan lebih buruk lagi. 

Dampak krisis iklim juga membuat jutaan anak dan keluarga jatuh dalam kemiskinan jangka panjang di Indonesia. Secara nasional, hasil prediksi iklim sepuluh tahunan laporan global Save the Children menunjukkan bahwa akan terjadi pengurangan jumlah curah hujan selama El Nino.

Berdasarkan prediksi peluang terjadinya peristiwa cuaca kering ekstrem pada 2020-2025, beberapa wilayah diperkirakan akan mengalami cuaca ekstrem di atas normal. Pada 2020, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total 4.650 kejadian bencana alam dan 99,2 persen merupakan bencana yang berasosiasi dengan faktor iklim dan cuaca.

Selanjutnya. di Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), jumlah pengungsi akibat kekeringan bertambah secara signifikan. Dari 21.688 jiwa pada 2018, menjadi enam kali lebih besar pada 2019 hingga mencapai 139.746 jiwa, termasuk anak-anak.

Baca: Hari Bumi 2022, Ini 10 Cara Sederhana Mengatasi Perubahan Iklim

Sementara di Sulawesi Selatan, jumlah populasi terpapar gelombang tinggi dan abrasi diperkirakan mencapai 265.307 jiwa. Dari angka tersebut, 40.508 jiwa merupakan kelompok rentan, termasuk anak-anak. Anak-anak yang berada di wilayah Kepulauan Selayar, Takalar, Pangkajene Kepulauan dan Makassar memiliki risiko tinggi abrasi.

Kemudian di Jawa Barat, catatan statistik menyebutkan jumlah kejadian banjir mencapai 247 pada 2021. Dari kejadian tersebut, korban meninggal dunia 20 orang, 282 mengalami luka dan 1.440.252 orang terdampak dan mengungsi termasuk anak-anak. Jumlah kelurahan/desa terdampak banjir dari seluruh kabupaten/kota di Jawa Barat bertambah secara signifikan sejak 2019 hingga 2021.

Laporan itu pun mengungkapkan jika kenaikan suhu dijaga tidak lebih dari 1,5 derajat Celcius, dampak dari ancaman iklim pada generasi mendatang dapat berkurang. Misalnya, kekeringan berkurang sebesar 39 persen, 38 persen untuk banjir sungai, 28 persen untuk gagal panen, dan sebesar 10 persen untuk kebakaran hutan.

"Investasi pada penurunan emisi seharusnya berjalan beriringan dan saling melengkapi dengan upaya penurunan risiko dan meningkatkan kapasitas adaptasi pada anak," tambah Selina.

Atas kondisi tersebut, Save the Children Indonesia menggandeng sejumlah pihak meluncurkan kampanye Aksi Generasi Iklim bertepatan pada Hari Bumi 22 April 2022. Antara lain, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

(AGA)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id