• DONASI PALU/DONGGALA :
    Tanggal 14 NOV 2018 - RP 51.052.810.215

  • Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) A/n Yayasan Media Group

  • Salurkan Donasi Anda: (Mandiri - 117.0000.99.77.00) A/n Yayasan Media Group

  • Salurkan Donasi Anda: (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Anak yang Orangtua Terlibat Terorisme Harus Diawasi Negara

Marcheilla Ariesta - 12 Juli 2018 16:09 wib
Deputi III Bidang Kerja Sama Internasional Badan Nasional
Deputi III Bidang Kerja Sama Internasional Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Inspektur Jenderal Polisi Hamidin. (Foto: Marcheilla Ariesta).

Jakarta: Anak-anak yang tinggal bersama orangtua teroris harus diawasi negara. Karenanya, sebagian dari mereka, yang orangtuanya ditangkap atau tewas, kini berada dalam perlindungan pemerintah.
 
Meski demikian, tak hanya yang orangtuanya teroris, anak-anak yang menyebarkan berita hoaks, juga akan diawasi negara.
 
"Anak-anak yang terlibat terorisme itu kita lihat umurnya. Mereka bagian dari korban, mereka orang-orang yang harus kita ambil alih, harus kita bina secara khusus," ucap Deputi III Bidang Kerja Sama Internasional Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Inspektur Jenderal Polisi Hamidin di Jakarta, Kamis 12 Juli 2018.
 
Ditemui di Indonesia International Defense Science Seminar (IIDSS) 2018, Hamidin mengatakan lingkungan keluarga paling efektif untuk direkrut teroris.
 
"Kita lupa bahwa lingkungan keluarga paling efektif untuk diajak, seperti kasus Surabaya. Jadi, BNPT terlibat untuk pencegahan berikutnya," kata dia.
 
Anak-anak teroris nantinya akan dimasukkan ke sebuah badan pembinaan milik negara. Jika sudah masuk badan tersebut, program pencegahan radikalisasi untuk anak-anak tersebut dilakukan.
 
Usai menjalani program pencegahan tersebut, anak-anak ini akan dinilai. Jika dirasa masih belum berhasil, mereka akan tetap mendapat pelatihan.
 
"Anak-anak itu bisa kita kembalikan ke keluarga, namun kita lihat dulu anaknya. Ada yang kita kembalikan ke keluarga, tapi tetap kita berikan pendampingan," jelas Hamidin.
 
Hamidin memberikan contoh anak teroris asal Indonesia yang dipulangkan dari Irak, namanya Munsana. Menurut dia, Munsana mengaku senang bermain dengan senjata.
 
Bocah 12 tahun itu adalah anak dari mantan teroris yang berada di Irak. Ayahnya sempat ditahan karena kasus bom Cimanggis, dan bebas. Lantas dia membawa Munsana, dan istrinya ke Irak.
 
"Setibanya di Irak, ayahnya meninggal dan ibunya menikah lagi dengan lelaki Tunisia. Munsana kami temukan saat melakukan investigasi di Irak. Dia mengatakan senang main senjata karena asyik," tukas Hamidin.
 
Negara, ucap Hamidin, harus terlibat dalam proses deradikalisasi kepada anak-anak teroris. Meski demikian, pemerintah harus ingat bahwa komponen utamanya adalah keluarga.
 
"Keluarga harus dilibatkan dalam proses ini. Kalau kita ambil alih serta merta, kita akan mendapat penolakan. Dia tetap butuh komunitasnya," pungkas Hamidin.


(FJR)


BACA JUGA
BERITA LAINNYA

Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.