Indonesia Ikut Rancang Aturan Internasional Kebebasan Media

    Antara - 19 Juli 2019 14:41 WIB
    Indonesia Ikut Rancang Aturan Internasional Kebebasan Media
    Menkominfo Rudiantara. Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
    Jakarta: Indonesia mendukung adanya upaya perlindungan jurnalis secara lintas negara. Saat ini, melalui Konferensi Global untuk Kebebasan Media yang dilaksanakan di London, Inggris, sejumlah negara merancang adanya aturan internasional mengenai kebebasan media.

    Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan Indonesia turut berkomitmen untuk mendukung dan meningkatkan upaya mengatasi kekerasan terhadap jurnalis. Baik melalui institusi multilateral, asosiasi para jurnalis, hingga organisasi sipil.

    "Upaya ini sebagai komitmen bersama. Semua negara yang hadir memberikan dukungan untuk pekerja dan entitas media yang risiko ancaman kekerasannya cukup tinggi,” kata Rudiantara, melalui keterangan tertulis, Jumat, 19 Juli 2019. 

    Rudiantara menjelaskan rancangan internasional yang digagas tersebut sebagai upaya yang didorong semua negara peserta konferensi. "Harapannya memang tercipta Satuan tugas," ujar dia.

    Dukungan terhadap kebebasan media, lanjutnya, juga dikuatkan dengan sinergi bersama masyarakat sipil, organisasi media, hingga ahli komunikasi, untuk membuat berbagai rencana visioner. 

    "Kami ingin ada kerja sama antara pemerintah dengan ekosistem di pers. Salah satu ouput-nya nanti untuk menciptakan kerangka nasional dan perencanaan aksi demi keamanan teman-teman jurnalis," katanya.

    Baca: Inggris Ingin Indonesia Hadir di Konferensi Kebebasan Pers

    Konferensi Global tentang Kebebasan Media (Global Conference on Media Freedom) dilaksanakan di Printworks, Surrey Quay Road, London, Inggris, pada 9-12 Juli 2019. Konferensi ini membahas ekosistem untuk menciptakan mekanisme perlindungan terhadap insan pers. 

    Salah satu langkah konkret yang dihasilkan dari konferensi yang bekerja sama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini adalah meluncurkan Global Media Defence Fund (Dana Pertahanan Media Global). 

    Profesi jurnalis rentan mendapat kekerasan dan persekusi. Di Indonesia, hal ini meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Kategori kekerasan terhadap wartawan mencakup pengusiran, serangan fisik, hingga pemidanaan karya jurnalistik.

    Aliansi Jurnalis Independen (AJI) memantau, dalam tiga tahun terakhir, kekerasan terhadap jurnalis meningkat. Tercatat, pada 2017 tercatat 64 kasus, pada 2018 ada 64 kasus, dan di 2019, khususnya saat aksi 22 Mei 2019, ditemukan 20 kasus.



    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id