comscore

WHO Ungkap Fakta Ilmiah Terbaru Omicron

Theofilus Ifan Sucipto - 26 Januari 2022 17:03 WIB
WHO Ungkap Fakta Ilmiah Terbaru Omicron
Ilustrasi/Medcom.id
Jakarta: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan fakta ilmiah teranyar soal Omicron. Pembaruan informasi penting agar masyarakat semakin waspada terhadap penularan covid-19.

“Varian Omicron menyebabkan kenaikan kasus yang lebih tinggi dibandingkan dengan varian Delta dikarenakan lebih mudah menular,” kata juru bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito dalam keterangan tertulis, Rabu, 26 Januari 2022.
Wiku mengatakan hal itu disebabkan Omicron memiliki tingkat mutasi tinggi. Karakter itu memengaruhi kemampuannya dalam menginfeksi tubuh manusia.

“Mencegah penularan sejak level individu adalah cara terbaik untuk mencegah lonjakan kasus,” papar dia.

Baca: Perdana, Indonesia Melewati Nataru dengan Kasus Covid-19 Terkendali

Fakta kedua, yakni masa inkubasi atau munculnya gejala sejak pertama kali terpapar virus cenderung lebih cepat daripada varian lain. Hal itu sejalan dengan pernyataan  Pengendalian Pencegahan Penyakit Menular Amerika Serikat (CDC).

Fakta terbaru Omicron:

  1. Menyebabkan kenaikan kasus lebih tinggi ketimbang Delta
  2. Masa inkubasi lebih cepat ketimbang varian lain
  3. Gejala Omicron tidak spesifik namun relatif lebih ringan
  4. Pasien Omicron yang dirawat inap lebih rendah ketimbang pasien Delta
  5. Penyintas covid-19 tetap bisa terpapar Omicron
  6. Omicron masih terdeteksi PCR dan antigen
  7. Efektivitas vaksin memang bisa berkurang merespons Omicron
  8. Obat yang dipakai untuk varian Delta masih efektif melawan Omicron

Wiku menyebut fakta ketiga ialah gejala Omicron tidak spesifik namun relatif lebih ringan. Terutama pada kelompok yang sudah memiliki kekebalan.

“WHO dan CDC merekomendasikan tindakan preventif sebagai upaya kunci sebab pada kelompok rentan masih dapat menyebabkan gejala yang parah bahkan kematian,” jelas dia.

Fakta keempat, yakni pasien terpapar Omicron yang dirawat inap di rumah sakit lebih rendah dibanding pasien yang terpapar Delta. Hal itu berdasarkan studi di Denmark, Afrika Selatan, Inggris, Kanada, dan Amerika Serikat.

“Meski begitu, jika kasus naik tinggi terus menerus akan membebani sistem kesehatan nasional,” jelas Wiku.

Fakta kelima ialah penyintas covid-19 tetap bisa terpapar Omicron sehingga disiplin protokol kesehatan harga mati. Fakta keenam, yakni Omicron masih terdeteksi dengan tes polymerase chain reaction (PCR) dan antigen.

Wiku menuturkan fakta ketujuh ialah efektivitas vaksin memang bisa berkurang. Namun vaksin tetap berperan penting dalam mencegah keparahan gejala dan kematian.

“Fakta terakhir, WHO menyebutkan obat yang dipakai untuk varian sebelumnya masih efektif digunakan untuk Omicron” tutur dia.

(ADN)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id