Membedah Pidato Perdana Jokowi Sebagai Presiden 2019-2024

    Damar Iradat - 20 Oktober 2019 20:28 WIB
    Membedah Pidato Perdana Jokowi Sebagai Presiden 2019-2024
    Presiden Joko Widodo (tengah) bersiap memberikan keterangan kepada wartawan usai upacara pelantikan presiden dan wakil presiden periode 2019-2024 di Gedung Nusantara, kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Foto: Sigid Kurniawan/Antara Foto
    Jakarta: Presiden Joko Widodo telah menyampaikan pidato perdananya sebagai presiden periode 2019-2024. Pidato tersebut disampaikan Jokowi usai dilantik pimpinan MPR di Gedung Parlemen, Jakarta, Minggu, 20 Oktober 2019.

    Jokowi menyampaikan pidato selama 17 menit. Ia memulai pidatonya tepat pukul 16.22 WIB, dan baru selesai pukul 16.39 WIB.

    Jokowi membuka pidatonya dengan menyapa tamu-tamu yang hadir. Di antaranya para tamu negara sahabat, Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden ke-9 Hamzah Haz, Wakil Presiden ke-11 Boediono, dan Wakil Presiden ke-12 Jusuf Kalla.

    Saat menyampaikan pidato tersebut, Jokowi sedikit berimprovisasi. Salah satu improvisasi Jokowi yakni menyapa seterunya pada Pilpres 2019, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

    Padahal, dalam naskah pidato Jokowi yang diterima Medcom.id, tidak ada satupun paragraf yang menyapa pasangan tersebut. Namun, Jokowi secara sengaja menyempatkan menyapa Prabowo dan Sandiaga.

    Usai disapa Jokowi, Prabowo dan Sandi terlihat berdiri dan bertepuk tangan. Keduanya juga terlihat tersenyum saat disapa oleh sang Presiden.

    Negara maju

    Selama 17 menit berpidato, Jokowi mengangkat sejumlah hal. Pertama, soal cita-cita satu abad Indonesia yang akan jatuh pada 2045.

    Jokowi menekankan Indonesia harus bisa keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah pada usia ke-100 nanti. Indonesia, menurut dia, seharusnya menjadi negara maju dengan pendapatan Rp320 juta per kapita per tahun, atau Rp27 juta per kapita per bulan.

    Jokowi juga berharap Indonesia sudah masuk lima besar ekonomi dunia dengan kemiskinan mendekati nol persen. Ia juga menargetkan Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2045 mencapai USD7 triliun atau Rp99.000 triliun (asumsi kurs Rp14.500 per USD).

    Presiden Jokowi juga meminta masyarakat Indonesia mendobrak rutinitas yang ada. Menurut dia, rutinitas hanya akan membuat gebrakan inovasi mandek.

    Jokowi mengatakan, dalam dunia yang penuh risiko, dinamis, dan kompetitif, Indonesia harus terus mengembangkan cara-cara baru dan nilai-nilai baru. Jangan sampai terjebak dalam rutinitas yang monoton.

    Pembangunan SDM dan infrastruktur

    Jokowi menyebut, pembangunan sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu prioritas pemerintahan lima tahun ke depan. Pasalnya, Indonesia butuh SDM yang berkualitas untuk menjadi bangsa yang maju.

    Jokowi mengatakan potensi Indonesia untuk keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah sangat besar. Saat ini, Indonesia berada di puncak bonus demografi, penduduk usia produktif Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan usia tidak produktif.

    Jokowi juga memastikan melanjutkan pembangunan infrastruktur. Menurut dia, infrastruktur harus menghubungkan kawasan produksi dengan distribusi. Sehingga, mempermudah akses ke kawasan wisata, mendongkrak lapangan kerja baru, dan mengakselerasi nilai tambah perekonomian rakyat.

    Pemerintah juga akan mengajak DPR untuk menerbitkan dua undang-undang besar. Yakni UU Cipta Lapangan Kerja dan UU Pemberdayaan UMKM.

    Masing-masing UU tersebut akan menjadi omnibus law, yaitu satu UU yang sekaligus merevisi beberapa UU, bahkan puluhan UU. Puluhan UU yang menghambat penciptaan lapangan kerja langsung direvisi sekaligus.

    Memotong birokrasi

    Jokowi juga berbicara soal penyederhanaan birokrasi. Menurut dia, investasi untuk penciptaan lapangan kerja harus diprioritaskan.

    Prosedur yang panjang harus dipotong. Birokrasi yang panjang harus dipangkas. Eselonisasi harus disederhanakan menjadi dua level dan diganti dengan jabatan fungsional yang menghargai keahlian, dan kompetensi.

    Terakhir, menurut Jokowi, Indonesia harus bertransformasi dari ketergantungan pada sumber daya alam menjadi daya saing manufaktur dan jasa modern yang mempunyai nilai tambah tinggi bagi kemakmuran bangsa demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

    Di penghujung pidato, Jokowi menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang telah menemaninya memimpin Indonesia selama lima tahun pertama. Ia juga berterima kasih kepada jajaran aparat pemerintah, TNI dan Polri, serta seluruh komponen bangsa yang turut mengawal pemerintahan selama lima tahun ini sehingga dapat berjalan dengan baik.

    Jokowi pun menutup pidato awalnya sebagai kepala negara periode 2019-2024 dengan pepatah Bugis. Petikan peribahasa itu yakni 'Pura babbara sompekku. Pura tangkisi golikku'. 

    Jokowi menjelaskan maksud pepatah tersebut, yakni layarku sudah terkembang, kemudiku sudah terpasang. Dia pun mengajak semua pihak untuk bekerja sama memajukan Indonesia.




    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id