'Gagal Fokus' dalam Bom Sarinah

    Coki Lubis - 15 Januari 2016 17:09 WIB
    'Gagal Fokus' dalam Bom Sarinah
    medcom.id, Jakarta: Sejatinya kesuksesan sebuah teror adalah dapat munculkan rasa takut berkepanjangan kepada warga. Jadi bukan sekedar mencari perhatian dengan diberitakan media massa dan dikejar-kejar aparat keamanan.

    Bagaimana dengan Bom Sarinah pada Kamis (14/1/2016) pagi yang memakan tujuh korban jiwa? Apakah ledakan dan aksi baku tembak di jantung metropolitan Jakarta berhasil? Bila ukuran suksesnya adalah banyaknya liputan media massa, teroris sudah berhasil.

    Tapi memunculkan rasa takut, itu lain soal. Kejadiannya justu sebaliknya, pelaku teroris malah diperolok-olok warga Jakarta dengan kemarahan dan keberanian yang berbalut sikap santai, cuek dan kepo-nya. Baik di lokasi kejadian, terlebih di media sosial.

    Di antaranya tagar #KamiTidakTakut, #IndonesiaBersatu hingga #TetapTenangJKT. Ada pula yang konyol, sejumlah meme kocak juga terlihat di media sosial. Bukan bermaksud tidak berduka atau tidak simpatik terhadap keluarga korban, melainkan satir memperlihatkan bahwa teror tersebut harus dilawan.

    Keberanian dan penasaran masyarakat sangat terlihat di lokasi kejadian. Justru ketika polisi sedang tembak menembak melawan teroris dan kemungkinan ada ledakan susulan yang lebih besar, warga justru bergerombol menontonnya. Menerobos Bila tidak paham duduk perkaranya, Anda pasti mengira saat itu sedang berlangsung pengambilan gambar film action.

    "This stay booth just about 100 meter from the terorist attack area just 2 hours a go and this guy still grill his satay and people keep ordering the satay..This is Jakarta!!! You can't terror Jakarta People!! Fear is not our dictionary," tulis akun Wimpy di Path seraya membubuhkan sebuah foto tukang sate dan pembelinya di sekitar lokasi.


    'Gagal Fokus' dalam Bom Sarinah

    Fenomena unik lainnya adalah munculnya tagar #KamiNaksir mengiringi #KamiTidakTakut. Tagar itu adalah respon terhadap salah satu adegan tembak menembak. Dua orang polisi muda dan berwajah rupawan dengan pistol di tangan menjadi perhatian netizen wanita.

    Bukan hanya perawakan tegap mereka yang dibahas, bahkan juga pakaiannya. Tas punggung kulit dan sepatu keren yang mereka sandang membuka mata para netizen. Bahwa ternyata polisi tidak buta fashion. Beberapa jam kemudian malah netizen menawarkan pre-order bagi yang menginginkan sepatu dan tas seperti dikenakan dua polisi rupawan itu

    Benar sekali dalam kasus ini seolah terjadi fenomena 'gagal fokus'. Di sisi lain fenomena 'gagal fokus' itu membuktikan mental baja warga Jakarta terhadap serangan teror yang sudah berulangkali terjadi.

    Walau kemarahan terhadap teroris disampaikan dalam kemasan canda dan santai, tapi rasa simpati untuk para korban tetap mengalir. Kicauan saling mengingatkan untuk tetap waspada juga berseliweran. Namun, sikap dan respon yang diperlihatkan masyarakat Indonesia seolah menegaskan bahwa waspada jelas berbeda dengan takut.

    Inilah kisah masyarakat kita yang sukses menggagalkan teror dengan caranya sendiri.

     

    (LHE)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id