Metro Siang

    Misi AS di Irak Berubah dari Pertempuran Menjadi Konsultan

    MetroTV - 27 Juli 2021 10:25 WIB
    Misi AS di Irak Berubah dari Pertempuran Menjadi Konsultan
    Presiden AS Joe Biden dan PM Irak Mustafa al-Kadhimi sepakati akhiri misi AS di Irak. Foto: AFP



    Washington: Perdana Menteri Irak, Mustafa Al-Kadhimi, dengan Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, menggelar pertemuan pada Senin, 26 Juli 2021. Salah satu hal yang dibahas ialah rencana kerja sama, khususnya dalam perang melawan kelompok ISIS.

    Rencana ini dicetuskan di tengah proses penghentian misi tempur AS di negara Mesopotamia ini. Pekan lalu, serangan Iran yang menewaskan 34 orang dalam bom bunuh di Baghdad, Irak, menjadi upaya pengusiran pasukan militer AS dari Irak.

     



    “Bantuan berkelanjutan dari AS yaitu koalisi untuk pelatihan memberdayakan pasukan, logistik, berbagi informasi intelijen, dan kerjasama keamanan lain,” kata juru bicara Gedung Putih, Jen Psaki, dalam tayangan Metro Siang di Metro TV pada Senin, 26 Juli 2021.

    Sejak 2014, merebaknya hantaman kelompok ISIS di Irak dan Suriah akhirnya memunculkan kesepakatan Irak dan AS dalam mengalihkan fokus pasukan militer pada April. Misi tempur AS menjadi penasihat dan konsultan keamanan untuk Irak.

    “Perlu diatur bagaimana pasukan ditarik dan keluar, jangka waktu yang disepakati kedua belah pihak, masalah teknis, dan isu lain keamanan pasukan,” jelas Menteri Luar Negeri Irak, Fuad Hussein, dalam tayangan yang sama.

    Pemerintah Irak tak henti berusaha menunjukkan kemampuannya dalam menangani masalah keamanan. Namun, desakan kelompok milisi yang didukung Iran kian menyasar pasukan AS dan Irak dengan serangan drone dan roket.

    “Irak siap dan berharap ada penarikan pasukan tempur. Namun, ada tujuan pemerintah Biden untuk menjauhkan diri dan tidak terlalu berfokus pada Timur Tengah,” jelas Center for Strategic and International Studie, Natasha Hall dalam tayangan yang sama.

    Sebagian analis memandang, pengumuman resmi misi pengalihan pasukan militer AS dinilai menjadi kemenangan politik bagi Al-Kadhimi. Sebab, Irak menyambut pemilihan parlemen Irak pada Oktober 2021.

    Hingga kini, 2.500 pasukan militer AS disebut tengah berada di Irak. Pengalihan misi ini disebut tidak akan mengurangi jumlah pasukan guna menjaga stabilitas keamanan di Irak. (Nadia Ayu)

    (SUR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id