Indonesia Aktif Mengampanyekan Perlindungan Insan Pers

    Antara - 19 Juli 2019 14:32 WIB
    Indonesia Aktif Mengampanyekan Perlindungan Insan Pers
    Menkominfo Rudiantara memberikan pidato pada penutupan World Press Freedom Day (WPFD) 2017 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis (4/5/2017). Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
    Jakarta: Sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia, Indonesia menjamin kebebasan berpendapat di muka umum, termasuk memberikan ruang terhadap insan pers. Indonesia juga turut aktif dalam kampanye global untuk kebebasan media.

    Kebebasan pers atau freedom of the press merupakan hak konstitusional dan perlindungan hukum yang diberikan negara kepada insan pers. Di Indonesia, hal ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, khususnya Pasal 4 ayat 1 yang berbunyi kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara.

    Mengingat peran penting Indonesia dalam kemerdekaan pers, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mewakili pemerintah Republik Indonesia menghadiri acara Global Conference on Media Freedom di Printworks, Surrey Quay Road, London, Inggris, pada 9-12 Juli 2019. 

    Melalui konferensi tersebut, Inggris yang bekerja sama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meluncurkan Global Media Defence Fund (Dana Pertahanan Media Global). Sejumlah perwakilan negara hadir, termasuk dari Indonesia.

    "Agenda ini penting, terutama untuk mengetahui seputar dinamika insan pers dalam tataran global,” kata Rudiantara, melalui keterangan tertulis, Jumat, 19 Juli 2019.

    Rudiantara menjelaskan Indonesia mendukung penuh kebebasan media serta para pekerja pers. Menurutnya, pemerintah mana pun mesti memiliki komitmen  memperjuangkan para jurnalis melalui dukungan terhadap akses layanan hukum serta berbagai pelatihan.

    "Di dunia internasional Indonesia berupaya membangun jaringan dukungan untuk teman-teman jurnalis. Mendukung jurnalisme warga atau citizen journalism, termasuk mengatur konflik dan pascakonflik," katanya.

    Baca: Inggris Ingin Indonesia Hadir di Konferensi Kebebasan Pers

    Dia memaparkan pemerintah juga menyokong tumbuhnya program-program pemberdayaan pekerja media. Misalnya, pengembangan kemampuan jurnalisme investigatif. 

    "Saya berharap melalui Media Freedom Conference, eksistensi media semakin positif dan terus memberikan kontribusi nyata bagi dunia," katanya.

    Profesi jurnalis rentan mendapat kekerasan dan persekusi. Di Indonesia, hal ini meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Kategori kekerasan terhadap wartawan mencakup pengusiran, serangan fisik, hingga pemidanaan karya jurnalistik.

    Aliansi Jurnalis Independen (AJI) memantau, dalam tiga tahun terakhir, kekerasan terhadap jurnalis meningkat. Tercatat, pada 2017 tercatat 64 kasus, pada 2018 ada 64 kasus, dan di 2019, khususnya saat aksi 22 Mei 2019, ditemukan 20 kasus.



    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id