• DOMPET KEMANUSIAAN LOMBOK : Tanggal 22 SEP 2018 terkumpul RP 20.111.547.901

Membentuk Ilmuwan Cilik dengan Pengajaran STEAM

Kesturi Haryunani - 17 April 2016 16:12 wib
Pola pikir ilmiah bisa dilatih melalui pembelajaran berbasiskan
Pola pikir ilmiah bisa dilatih melalui pembelajaran berbasiskan STEAM (Foto:Shutterstock)

medcom.id, Jakarta: Dalam rangka memanfaatkan bonus demografi pada 2025-2045, peningkatan kualitas pendidikan harus menjadi prioritas. Indonesia harus menyiapkan generasi muda dengan kemampuan nalar tinggi, khususnya di bidang yang menjadi penggerak ekonomi seperti sains dan teknologi.

Pola pikir ilmiah bisa dilatih melalui pembelajaran berbasiskan STEAM, yaitu Science, Engineering, Arts, dan Mathematics. Dengan STEAM, anak diajarkan untuk berpikir secara komprehensif.

Hal itu dimungkinkan karena pendidikan berbasis STEAM berfokus pada aspek kolaborasi, komunikasi, riset, mencari solusi (problem solving), berpikir kritis, dan kreativitas. Metode pembelajaran ini menggunakan pendekatan antarilmu dan pengaplikasiannya dibarengi pembelajaran aktif berbasis masalah.

Meskipun STEAM difokuskan pada ilmu eksakta, namun tidak mengesampingkan unsur sosialnya. Contohnya dalam kasus proses belajar dalam bentuk team work, anak akan berhubungan satu sama lain untuk memecahkan masalah.

Namun, pola belajar STEAM harus disesuaikan dengan tingkat tumbuh kembang anak. Harus dibedakan pembelajaran berbasis STEAM untuk anak usia dini, usia sekolah dasar, dan menengah.

STEAM bisa dikenalkan pada anak sejak dini dengan peralatan sederhana dan murah di sekitar kita. Sehingga Ayah Bunda bisa membantu menyiapkan si kecil tumbuh menjadi sosok yang kritis, analitis, kreatif dan inovatif.

"Dalam mendidik anak usia dini umur tiga hingga lima tahun, yang terpenting kita perlu membangun dulu konsep berpikirnya," ujar Eriva Syamsiatin, Dosen Sains dan Matematika dari Jurusan Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta.

Menurut Eriva, anak di usia dini tidak boleh dibebani dengan target belajar, menghafal rumus, angka, ataupun alfabet. Jadi anak diajak mengumpulkan data dan melaporkan kembali.

"Untuk belajar STEAM di usia 3-5 tahun perlu perhatian khusus, karena ini early thinking and early symbol. Ini dasar dan masa peka belajar bilangan, huruf. Orang tua harus peka mengamatinya, karena pembelajaran si kecil akan muncul tak terduga dalam perkembangan. Jika orang tua kurang peka, maka kesempatan belajar anak bisa lewat begitu saja,” ujar Evira.

Guna mempelajari STEAM, tidak perlu sarana canggih maupun alat-alat berharga jutaan rupiah. Dengan sarana seadanya dan peralatan seharga kurang dari Rp50 ribu, si kecil sudah bisa menjadi `ilmuwan` cilik.

Orang tua bisa mengenalkan pembelajaran berbasis STEAM dengan aktivitas sehari-hari, misalnya saat memasak sayur sup. Anak diajarkan berbagai unsur STEAM melalui pengenalan sayur mayur, mengelompokkannya, belajar ukuran, serta belajar mengenai urutan memasak dari sayur bertekstur keras ke sayur bertekstur lunak.

Orang tua bisa mengajarkan itu di rumah. Itu saja dulu yang dipelajari. Tidak perlu yang rumit menjelaskan aneka konsep, karena memang di usia dini 3-5 tahun mereka hanya perlu mengenal proses belajar science thinking. Belum perlu memahami science concept," ujar Eriva.

Sedangkan pada usia 6 tahun ke atas, anak boleh diperkenalkan science concept. Dalam hal ini, guru dan orang tua sangat berperan membimbing dan memfasilitasi proses belajar anak.

Berikut Tips Belajar Berbasis STEAM:

1. Guru dan orang tua bisa mengajar si kecil menggunakan beragam metode dan alat, dan tidak perlu terpaku pada satu petunjuk.

2. Sering-sering membaca perkembangan metode dan pola belajar terbaru dari internet atau sumber literature lainnya.

3. Dilarang men-drill anak, alias melakukan pelatihan yang intensif dan berulang terus menerus karena akan membuat anak jadi seorang penghapal ketimbang menumbuhkan kemampuan analisisnya.

4. Belajar harus melatih seluruh inderanya, penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, pengecap. Bermain sambil belajar di taman atau halaman lebih baik ketimbang terus menerus belajar di depan computer yang hanya menekankan aspek visual saja.

5. Jangan taktil alias hanya duduk terus menerus tapi harus dengan banyak metode dan aktivitas.

Selain guru, orang tua sangat berperan dalam merangsang tumbuhnya minat anak dalam belajar STEAM. Orangtua bisa memanfaatkan teknologi untuk menerapkan STEAM, karena dalam hitungan sebentar saja anak-anak sudah mampu menguasai gadget yang makin hari semakin canggih.

Akses informasi yang demikian terbuka memudahkan anak untuk membuka konten apa saja. Meski telah diupayakan pemblokiran, selalu saja ada celah untuk bisa masuk ke area terlarang.

Karenanya, pengasuhan dan pendidikan anak perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman sang anak yang terus dipengaruhi perkembangan teknologi. Tentunya, orangtua juga harus membekali diri dengan pengetahuan yang mumpuni. Salah satunya dengan mengikuti talk show maupun diskusi.

Sampoerna Academy akan menggelar event bertajuk `The New Age of Motherhood: Raising Your Child with Technology` pada Sabtu (23/4/2016) di Restoran The Hook, Jalan Cikatomas II, Senopati, Jakarta. Di sini, para orang tua bisa memperoleh pengetahuan cara memperkenalkan teknologi pada anak dari narasumber kompeten.

Daftarkan diri anda segera dan mari kita belajar sama-sama tentang dunia anak, gadget dan teknologi serta hubungannya dengan masa depan mereka.

Untuk pendaftaran silakan klik di sini.


(ROS)


BACA JUGA
BERITA LAINNYA

Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.