comscore

Kisah Pemuda NTT yang Mendadak Buta di Kelas 3 SMA

M Rodhi Aulia - 29 September 2021 15:35 WIB
Kisah Pemuda NTT yang Mendadak Buta di Kelas 3 SMA
Pemuda inspiratif asal NTT Migel Arifen Aries Dano dalam program Kick Andy Metro TV, Minggu 26 September 2021. Foto: Tangkapan Layar Youtube Metro TV
"Jadi gelap. Saat ini gelap."

ITULAH komentar dari Migel Arifen Aries Dano (33) saat ditanya Host Kick Andy Program Metro TV, Andy F Noya mengenai penglihatannya dalam episode "Bara di Tengah Keterbatasan", Minggu 26 September 2021. 
Pemuda asal Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini tidak bisa melihat alias seorang tunanetra. Padahal saat lahir, indera penglihatannya, normal. Layaknya orang kebanyakan.

Miji, sapaan akrabnya, sempat merasakan kurang lebih selama 17 tahun dapat melihat secara normal. Namun pada suatu hari di Januari 2007 atau saat duduk di kelas 3 Sekolah Menengah Atas (SMA), kedua matanya tidak lagi berfungsi.

Hal itu lantaran Miji terlambat datang ke sekolah. Ia ditampar seorang guru dan berujung kebutaan.

Miji pun dikeluarkan secara paksa dari sekolah karena buta. Miji dan orang tuanya panik dan frustasi. 

Pasalnya beberapa bulan kemudian atau April 2007, ia harus mengikuti Ujian Nasional (UN) sebagai syarat kelulusan SMA. Ia membujuk sekolah untuk diperkenankan ikut sebagai peserta ujian.

"Saya minta disiapkan satu guru untuk membacakan soal dan saya memberikan jawaban," kata Miji.

Tapi permintaan itu dianggap angin lalu. Miji kemudian dibawa orang tuanya berobat ke RS Soetomo Surabaya, Jawa Timur. Sayangnya upaya itu tidak membuahkan hasil.

Miji mengalami kerusakan syaraf hebat. Hanya mukjizat atau keajaiban yang membuat Miji bisa melihat kembali.

"Jadi waktu pulang dari Surabaya ke Rote, saya tidak tahu mau buat apa lagi. Sekolah sudah dikeluarkan. Saya punya semangat mau sekolah. Tapi sekolah di mana? Kira-kira orang seperti saya yang mengalami kebutaan bisa sekolah di mana? Saya kumpulkan segala macam informasi. Saya bisa sekolah lagi di sekolah luar biasa (SLB)," ujar Miji.

Semangat itu ia sampaikan kepada orang tuanya. Namun orang tua Miji tidak memberikan restu.

Miji lantas kabur ke Kupang untuk melanjutkan sekolah di SLB. Miji menumpang di rumah saudara. Ia disambut baik. Diberi makan, minum dan tempat tidur gratis.

Akan tetapi, Miji harus memutar otak untuk biaya sekolah. Termasuk biaya transportasi dengan angkutan umum. Ia berjualan nasi kuning dan menjadi terapis akupresur.

Dari sana, Miji mendapat uang untuk menutupi berbagai kebutuhan sekolah. Di SLB, Miji memulai dari kelas 1 lagi. Total jika digabung dengan SMA sebelum mengalami kebutaan, ia bersekolah di tingkat lanjutan atas selama 6 tahun.

Miji tidak kecewa. Ia terus menjalani hari-harinya sebagai siswa SLB dan akhirnya bisa melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi sampai tuntas.

Usai wisuda, Miji pulang ke Rote. Ia memperlihatkan foto wisudanya kepada keluarganya di sana.

"Ini yang selama ini (alasan) saya pergi dan ini hasilnya," ucap Miji bangga.
 


Usaha Ikan Asap



Kepulangan Miji ke Rote tidak sekadar menambah gelar di ujung namanya. Tapi juga membuat Miji dapat membaca dan menangkap peluang usaha yang menjanjikan.

Miji mulai menekuni usaha pengasapan ikan atau Sei Ikan. Itu dari hasil kolaborasi indera perasa dan indera penciuman saat memakan ikan asap. 

"Mama biasa buat ikan asap. Saya ketika makan, wah aromanya enak, terus rasanya juga enak sekali," ujar Miji.

Menurut Miji, di daerahnya tidak sulit menemukan bahan baku dengan harga relatif lebih murah ketimbang di Kupang. Ia membeli sendiri ikannya, kemudian membersihkan dan melakukan pengasapan ikan.

"Saya coba posting di Facebook, grup Facebook dan WhatsApp. Ternyata banyak peminatnya. Dari situlah saya memulai pengasapan ikan," ungkap Miji.

Pada tahun 2020, Miji semakin percaya diri menjalankan usahanya. Hal itu lantaran ia mendapatkan pelatihan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) terkait e-Commerce.

Di sana, Miji diajarkan membuat rencana bisnis, mengoptimalkan media sosial untuk berbisnis dan lain-lain. Miji mengatakan pelatihan ini sangat membantu orang seperti dirinya bisa bangkit.

Sebab, lanjut Miji, sebenarnya banyak tunanetra lainnya yang hampir kehilangan semangat hidup. Mereka kehilangan semangat dan harapan karena tidak tahu harus berbuat apa di tengah keterbatasan fisik.

"Saya dapat banyak teman tunanetra yang tidak mau dan tidak bisa melakukan apa-apa karena memang tidak tahu. Kebetulan sekali di samping rumah saya, ada teman tuna netra, saya merasa dia masih produktif, saya ajarkan bagaimana mengoperasikan handphone, sekarang dia bisa internet, punya akun Facebook, WhatsApp. Mulai dari situ dia punya semangat hidup lagi," tegas Miji.

Pula dirasakan Echi Pramitasari (29). Wanita kelahiran Lampung ini harus menerima takdir tidak bisa berjalan usai kecelakaan saat masih duduk di bangku SMA.

Kala itu sangat susah menerima kenyataan pahit atas dirinya. Namun seiring berjalannya waktu, ia kembali bersemangat.

Di antaranya setelah mengikuti kompetisi Global IT Challenges di Busan, Korea Selatan. Echi diberi pelatihan oleh Kominfo dan akhirnya mendapatkan juara 3 e-design se-Asia Pasifik.

Direktur Sumber Daya dan Administrasi Bakti Kominfo Fadhilah Mathar mengatakan pihaknya terus berupaya mengikutsertakan seluruh lapisan masyarakat termasuk penyandang disabilitas. Masyarakat bisa mengikuti program Kominfo bernama Digital Talent Scholarship secara gratis.

"Ada 12-13 subjek. Antara lain, desain grafis, animasi, jaringan, e-commerce, scracth. Ada banyak kompetensi yang kita ajarkan, dan ada juga hal-hal yang basic, bagaimana agar tidak tersesat saat naik angkutan umum (untuk disabilitas)," kata Fadhilah.

(DHI)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id