Jadi Urgensi Nasional, Gerakan Indonesia Bebas Stunting 2030 Tercetus

    Rendy Renuki H - 08 April 2021 22:24 WIB
    Jadi Urgensi Nasional, Gerakan Indonesia Bebas Stunting 2030 Tercetus
    Peluncuran Gerakan Nasional Indonesia Bebas Stunting 2030, Kamis (8/4) (Dok. BKKBN)



    Jakarta: Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) merangkul lembaga swadaya masyarakat (LSM) mencetuskan Gerakan Nasional Indonesia Bebas Stunting 2030. Gerakan itu dilandasi kasus stunting yang masih menjadi urgensi nasional.

    Pasalnya, angka stunting di Indonesia masih tergolong tinggi sekitar 27 persen kasus pada 2021. Data terkini juga menunjukkan bahwa sekitar sembilan juta balita Indonesia mengalami stunting, artinya satu dari tiga bayi yang dilahirkan terdiagnosa stunting.






    Apalagi pandemi Covid-19 yang berimbas ke seluruh aspek termasuk perekonomian, tentu berdampak pada tumbuh kembang anak. Sebanyak 60 persen posyandu tidak menjalankan fungsinya, dan lebih dari 86 persen program stunting berhenti akibat pandemi.

    "Sembilan juta anak balita di Indonesia mengalami stunting. Mereka tumbuh dengan ancaman pneumonia, diare dan sering sakit. Otak dan sistem imunitas mereka tidak tumbuh dengan seharusnya," tutur Zack Petersen dari 1000 Days Fund, lembaga yang berlolaborasi dalam Gerakan Nasional Indonesia Bebas Stunting 2030, Kamis 8 April 2021.

    Gerakan ini pun memiliki empat misi utama. Diantaranya, mendukung upaya pemerintah menurunkan prevalensi kasus stunting, dan meningkatkan kesadaran masyarakat dengan memberikan edukasi dan informasi tentang stunting.

    Serta menggalang partisipasi, dukungan dan aksi dalam upaya nasional mengentaskan Indonesia dari stunting. Serta membangun aspirasi dan aksi sosial dan politik di daerah di seluruh Indonesia dalam upaya yang tersinergi terkait program intervensi keluarga yang efektif.

    "Penurunan prevalensi stunting merupakan pilar utama bagi pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas di masa depan. Oleh karena itu, misi ini perlu melibatkan pihak-pihak di luar pemerintah," kata Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo, Kamis 8 April 2021.

    Permasalahan terbesar dalam pengentasan stunting adalah masih kurangnya pengetahuan masyarakat akan bahaya stunting. Hal tersebut menyebabkan masyarakat masih mengabaikan gizi yang seimbang dan kebersihan yang menjadi kontributor penyebab stunting.

    "Pengentasan Indonesia dari stunting dapat dilakukan pertama mulai dari intervensi langsung kepada perempuan, dengan menyediakan informasi terkait merencanakan kehamilan, menjalani kehamilan, persalinan hingga setelah melahirkan sampai dengan bayi berumur dua tahun," tutup Nanda Dwinta Sari dari Yayasan Kesehatan Perempuan.

    (ACF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id