Pembangunan Ibu Kota Baru Dirancang Berkelanjutan

    Antara - 11 Oktober 2019 19:35 WIB
    Pembangunan Ibu Kota Baru Dirancang Berkelanjutan
    Foto aerial Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Sabtu (31/8/2019). Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
    Brisbane: Pemerintah bekerja sama dengan berbagai pihak untuk merancang ibu kota baru yang berprinsip pada pembangunan berkelanjutan (SDGs). Salah satu kerja sama yang dijalin adalah dengan Griffith University, Australia.

    Kepala Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Agus Justianto menuturkan kerja sama ini diinisiasi sejak 2002 melalui Pusat Keunggulan untuk Pembangunan Berkelanjutan Indonesia (CESDI). Prinsip yang dikedepankan adalah pembangunan ibu kota yang rendah karbon (low carbon development initiatives) dan berketahanaan iklim (climate resilience).

    "Ibu kota baru di Kalimantan Timur akan dijadikan laboratorium pembangunan berkelanjutan di tingkat tapak," kata Agus seperti dilansir Antara, Jumat, 11 Oktober 2019.

    Kementerian LHK menandatangani nota kesepahaman pembaruan kerja sama dengan Griffith University di Brisbane, Australia, Kamis, 10 Oktober 2019. Penandatangan nota kesepahaman dilakukan Agus Justianto dan Wakil President Griffith University, Prof Sarah Todd. 

    Pemerintah bekerja sama dengan Australia karena berhasil memindahkan ibu kota ke Canberra. Kota ini dikenal sebagai “the bush capital” karena dikelilingi hutan dan berada di pedalaman. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro dalam beberapa kesempatan menyatakan Canberra salah satu rujukan soal pemindahan ibukota.

    Agus berharap ibu kota baru dapat menjadi etalase peradaban baru manusia Indonesia yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Ibu kota baru akan menerapkan konsep forest city. Konsep ini akan didukung berbagai bentuk infrastruktur hijau berupa kawasan hutan hujan tropis, kawasan konservasi perairan peisisir dan laut, serta ruang terbuka hijau beserta sumber daya alam hayati di dalamnya.  

    "Vegetasi asli hutan hujan tropis menjadi backbone pengembangan forest city. Vegetasi asli juga digunakan untuk kegiatan pemulihan lahan-lahan yang telah mengalami kerusakan lingkungan akibat kegiatan pertambangan," katanya.

    Ibu kota baru juga akan dirancang untuk memanfaatkan energi baru dan terbarukan yang rendah emisi karbon seperti panel surya, gas, atau pembangkit listrik tenaga air (PLTA). 

    Gedung yang dibangun pun akan menerapkan sistem manajemen yang memanfaatkan air secara berulang serta pencahayaan yang lebih efisien. Transportasi publik akan menggunakan kendaraan rendah emisi karbon. Jalur sepeda dan pedestrian juga akan terintegrasi agar penduduknya meninggalkan kebiasaan menggunakan kendaraan bermotor pribadi.

    Presiden Joko Widodo pada 26 Agutus 2019 sudah mengumumkan pemindahan ibu kota Indonesia ke Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur. Berdasarkan kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), kawasan ibu kota negara ini akan menempati lahan seluas 180.965 hektare.





    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id