Hoaks Vaksin Disebut Merugikan Program Vaksinasi Covid-19

    Juven Martua Sitompul - 04 Juni 2021 12:57 WIB
    Hoaks Vaksin Disebut Merugikan Program Vaksinasi Covid-19
    Ilustrasi Medcom.id.



    Jakarta: Penyebaran hoaks terkait vaksin covid-19 disebut merugikan program vaksinasi covid-19 yang digencarkan pemerintah. Pemerintah diminta menindak tegas penyebaran hoaks tersebut.

    “Karena hal ini merugikan program vaksinasi, sehingga berimbas pada rendahnya cakupan vaksinasi, tidak hanya vaksinasi covid-19,” kata pemerhati imunisasi, Julitasari Sundoro, dalam diskusi virtual bertajuk 'Hindari Hoaks seputar Vaksinasi',  Kamis, 3 Juni 2021.

     



    Julitasari berharap masyarakat mendapat penjelasan dari institusi yang kredibel dan dapat dipercaya. Di antaranya Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo).

    “Agar masyarakat jangan menelan mentah-mentah suatu berita dan informasi. Kita harus cek kembali kalau ragu dan tidak langsung menyebarkannya,” ujarnya.

    Di sisi lain, Julitasari menjawab keraguan tentang kandungan vaksin.  Dia mengatakan kandungan vaksin covid-19 adalah antigen dari virus SARS-CoV-2 yang diperlukan membentuk antibodi.

    “Apabila mendengar ada demam atau bengkak di tempat penyuntikan, itu adalah hal yang biasa saja dalam proses pembentukan antibodi dalam tubuh manusia," kata dia.

    Menurut dia, reaksi-reaksi ringan akibat vaksinasi Itu bisa hilang dalam satu dua hari. Warga diminta tak khwatir, apalagi dalam kartu vaksinasi diberikan nomor kontak untuk menghubungi apabila terjadi kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI).

    Baca: 17 Juta Orang Sudah Disuntik Vaksin Covid-19 Dosis Pertama

    Salah satu vaksin covid-19 yang digunakan untuk program vaksinasi nasional adalah AstraZeneca. Direktur AstraZeneca Indonesia, Rizman Abudaeri, menyebut pemerintah telah mempertimbangkan kajian ilmiah dan medis sehingga mendatangkan AstraZeneca.

    "Tentu dasarnya adalah pertimbangan ilmiah dan medis, sehingga kita harus percaya pemerintah kita telah melakukan evaluasi mendalam sehingga vaksin-vaksin yang telah ditetapkan layak untuk membentuk herd immunity bagi masyarakat Indonesia,” ujarnya.

    Tak hanya itu, kata dia, vaksin yang akan dipergunakan oleh suatu negara bahkan harus mendapatkan izin otoritas negara tersebut. Khusus untuk Indonesia vaksin harus mendapat izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

    “Semua vaksin tidak hanya AstraZeneca harus melalui persetujuan Badan POM. Kemudian ada juga persyaratan WHO, yakni vaksin yang dikatakan efektif memiliki efikasi lebih dari 50 persen,” ujar Rizman.

    Saat ini, Indonesia sudah menerima kurang lebih 6 juta dosis AstraZeneca dari jalur Covax Facility. Sampai hari ini, ada 400 juta dosis vaksin covid-19 AstraZeneca yang sudah diproduksi dan didistribusikan ke 165 negara di dunia.

    “Lalu pada 165 negara di mana vaksin AstraZeneca diedarkan, selalu memantau perkembangan dari sisi keamanan dan efikasi vaksin covid-19 tersebut,” kata Rizman.

    (JMS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id