Seleksi Calon Anggota BPK Dikritik

    Faisal Abdalla - 05 Agustus 2019 18:53 WIB
    Seleksi Calon Anggota BPK Dikritik
    Diskusi bertajuk 'Menakar Calon Anggota BPK RI' - Medcom.id/Faisal Abdalla.
    Jakarta: Koordinator Jaringan Informasi Rakyat (Jari Rakyat), Prasetyo, mengkritik proses seleksi calon anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang dilakukan Komisi XI DPR. Prasetyo menilai Komisi XI tidak transparan melakukan seleksi. 

    "Seleksi calon anggota BPK itu sangat lentur karena dimonopoli oleh Komisi XI," kata Prasetyo dalam diskusi bertajuk 'Menakar Calon Anggota BPK RI' di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Senin, 5 Agustus 2019. 

    Prasetyo menyebut sejak awal melihat proses seleksi berjalan tertutup. Komisi XI dinilai tidak terbuka menyampaikan 32 nama calon anggota BPK yang dinyatakan lolos seleksi administrasi. 

    Dia mengkritik 32 nama itu disebarkan Komisi XI melalui wartawan tanpa konferensi pers secara terbuka. Padahal, Pasal 14 ayat 3 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 BPK mewajibkan Komisi XI menyampaikan nama-nama calon anggota BPK secara terbuka untuk dinilai publik. 

    "Tapi secara sembunyi-sembunyi, jadi saya setuju panitia seleksi gelap ini betul adanya," ujarnya. 

    Prasetyo menyebut usai melihat sikap Komisi XI, pihaknya langsung melalukan jajak pendapat atau polling pada 32 nama yang dinyatakan lolos seleksi administrasi. Tujuannya, mendorong partisipasi publik mengawal proses pemilihan lima calon anggota BPK. 

    (Baca juga: BPK Diharapkan Diisi Anak Muda)

    Dia juga mendorong keterlibatan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam proses seleksi, "karena saya mendengar ada selentingan puluhan miliar akan beredar dalam pemilihan lima calon anggota BPK, kita ingin relewan Jokowi Mania dan koalisi masyarakt sipil segera menghadap ke KPK, supaya mereka juga ikut mengawasi proses ini," ujarnya. 

    DPR telah memilih 32 nama calon anggota BPK yang dinyatakan lolos seleksi administrasi. Berikut daftar 32 calon anggota BPK yang lolos ke tahap berikut:

    1. Nurhayati Ali Assegaf (Partai Demokrat)
    2. Pius Lustrilanang (Partai Gerindra)
    3. Ahmad Noor Supit (Partai Golkar)
    4. Tjatur Sapto Edy (PAN)
    5. Ruslan Abdul Gani (Partai Golkar)
    6. Daniel Lumban Tobing (PDIP)
    7. Akhmad Muqowam (PPP) 
    8. Wilgo Zainar (Partai Gerindra)
    9. Suharmanta (PKS)
    10. Sahala Benny Pasaribu (PDI Perjuangan)
    11. Achsanul Qosasi (mantan politikus Demokrat)
    12. Harry Azhar Aziz (mantan politikus Golkar)
    13. Bambang Pamungkas (internal BPK)
    14. Saiful Anwar Nasution (internal BPK)
    15. Dadang Suwarna (internal BPK)
    16. I Gede Kastawa (internal BPK)
    17. Hendra Susanto (internal BPK)
    18. Syafri Adnan Baharuddin (internal BPK)
    19. Heru Kreshna Reza (internal BPK)
    20. Riza Suarga (swasta)
    21. Eddy Suratman (akademisi)
    22. Izhari Mawardi (konsultan)
    23. Jimmy M Rifai Gani (swasta)
    24. Raja Sirait (konsultan)
    25. Heru Muara Sidik (swasta)
    26. Muhammad Yusuf Ateh (birokrat)
    27. Fontian Munzil (hakim)
    28. Gunawan Adji (akademisi)
    29. Muhammad Syarkawi Rauf (akademisi)
    30. Tito Sulistio (swasta)
    31. Indra Utama (birokrat)
    32. Chandra Wijaya (akademisi)



    (REN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id