Virus Korona

    Kengerian Berbuah Manis

    Renatha Swasty - 18 Februari 2020 18:31 WIB
    Kengerian Berbuah Manis
    Peserta selesai menjalankan observasi di Natuna, Kepulauan Riau. Foto: ANT/Muhammad Adimadja
    Jakarta: Evakuasi dan observasi warga negara Indonesia (WNI) dari Wuhan, Hubei, Tiongkok berjalan mulus. Proses itu menyisakan banyak cerita. 

    Tim evakuasi dan observasi tak menyangka keputusan perjalanan yang serba cepat dan masa observasi 14 hari mengubah hidup. Tugas kemanusiaan yang mulanya mengerikan, kini bisa diceritakan buat anak cucu. 

    Berikut fakta menarik selama proses evakuasi dan observasi WNI dari Wuhan: 

    1. Kabar Dadakan  

    Presiden Joko Widodo memerintahkan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengirim prajurit menjemput WNI di Kota Wuhan, Jumat, 31 Desember 2020. Usai keputusan itu, Kepala Pusat Krisis kesehatan Kementerian Kesehatan Budi Sylvana, mendapat telepon dari atasannya. 

    Budi diperintahkan menjemput WNI di Wuhan. Dia mengaku kaget dengan perintah tiba-tiba itu. Apalagi dia mesti menyiapkan sejumlah hal.

    "Karena pergi enggak cuma bawa badan saja tapi logistik juga dibawa," kata Budi kepada Metro TV, Senin, 17 Februari 2020. 

    Beruntung dia dibantu sejumlah pihak buat menyediakan logistik. Dalam waktu kurang dari sehari, seluruh kebutuhan terpenuhi. 

    Pilot Batik Air yang menjemput WNI dari Wuhan Kapten Destyo Usodo lebih beruntung. Dia ditelepon manajemen, Kamis, 30 Desember 2020, buat bersiap menjemput WNI. Meski kaget, Destyo tetap menjalankan perintah itu. 

    Senada, salah seorang pramugari Batik Air, Indah Nurfitri Djufri, mengaku baru dikabarkan setelah menjalankan tugas. "Saya ditanya 'Kamu bersedia enggak jemput WNI dari Wuhan," beber dia. 

    Kengerian Berbuah Manis

    Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto (kanan) menerima dokumen hasil observasi WNI dari Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Budi Sylvana (kedua kanan). Foto: Medcom.id/Muhammad Adimadja 

    2. Sempat Tak Diizinkan 

    Bertugas ke wilayah episentrum penyebaran virus korona tak cuma membuat takut diri sendiri. Keluarga pilot dan pramugari Batik Air sempat tak terima keluarganya mesti ke Wuhan. 

    "Kata mama, 'Kak emang enggak ada orang lain?," cerita Indah Nurfitri. 

    Indah mesti meyakinkan ibunya tugas kemanusiaan itu dilakukan dengan perencanaan matang. Indah diizinkan. 

    Berbeda cerita dengan Destyo. Keluarga pilot itu sempat 'ngambek'. Destyo sudah berjanji mengajak keluarga jalan-jalan ke Thailand, 5 Februari 2020. 

    "Tanggal 1-nya disuruh jemput," tutur dia. 

    Destyo sempat 'menawar' agar tak ikut masa observasi 14 hari. Ia tak mau rencana vakansi batal.

    Sayangnya, keinginan itu ditolak pihak Kemenkes. "Saya bilang tidak. Kalau ikut SOP insyaallah aman," Budi menimpali Destyo. 

    Budi meyakinkan tim yang ikut dalam tugas mulia ini bukan hal mudah. Dia meyakinkan seluruh awak mesti mengikuti SOP (standar operasional prosedur) yang disusun demi keamanan bersama. 

    "Sehari sebelum berangkat kami ada briefing," beber dia.  

    3. Bertugas dengan 'Minion' 

    Tugas penjemputan WNI dari Wuhan dilakukan dengan SOP yang sudah ditetapkan. Tim yang menjemput tak boleh melanggar aturan yang sudah dibuat pihak Kementerian Kesehatan. 

    Termasuk mengenakan alat pelindung diri (APD) atau biasa disebut baju minion. Perlengkapan diri ini mesti dipakai tim penjemput, tak terkecuali pilot dan pramugari Batik Air.

    Destyo mengatakan area kru pesawat sebetulnya sudah cukup aman meski tidak menggunakan alat pelindung diri. Pesawat dilengkapi High Efficiency Particulate Arresting (HEPA) yang menjamin hingga 99,7 persen virus apa pun tak akan masuk kabin, baik itu MERS, SARS, maupun korona (Covid-19).
     
    "Tapi tadi mitigasi tetap harus pakai untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan," ucap dia.

    Destyo bercerita mesti memakai baju itu selama 10 jam. Baju harus dipakai setengah jam sebelum pintu pesawat dibuka dan penumpang diperkenankan masuk pesawat. 

    "Sebelum memakai baju ini kami makan dulu setelah itu puasa" beber dia. 

    Kengerian Berbuah Manis

    Peserta observasi melaksanakan kegiatan olahraga. Foto: ANT/Muhammad Adimadja 

    4. Masa Observasi Menyenangkan 

    Sebanyak 238 WNI dari Wuhan, 5 orang tim pendahulu dari KBRI Beijing, 18 kru Batik Air, 3 perwakilan Kemenkes, 3 perwakilan Kemenlu, 8 perwakilan tim Kesehatan TNI, dan 
    10 anggota pengamanan TNI wajib mengikuti observasi di Natuna, Kepulauan Riau. Observasi sesuai standar organisasi kesehatan dunia (WHO) 14 hari. 

    Tim psikologi, Annelia Sari, mengungkapkan para tim penjemput dan WNI yang pulang tak diperlakukan seperti orang sakit. Apalagi, pulang dari Tiongkok mesti lulus tes kesehatan yang dibuat pemerintah Tiongkok. Annelia menyebut jadwal 285 orang itu dibuat seperti kehidupan mereka sehari-hari.

    "Mereka bangun pagi jam 05.00 WIB untuk ibadah, setelah itu pukul 06.00 WIB mereka semua keluar Hanggar untuk olahraga. Terserah mereka mau olahraga apa. Jam 22.00 WIB mereka sudah harus masuk tenda terserah mau ngapain," beber Annelia. 

    Destyo sempat takut menjalani observasi. "Ternyata tidak semengerikan yang dibayangkan sebelumnya." 

    Sementara Indah mengaku sempat kangen dengan keluarga selama menjalani masa observasi. Namun, hal itu bisa dia atasi. 

    "Lewat tiga hari (observasi) mulai menikmati, mulai enjoy,"

    Annelia menyebut peserta obesvasi dari Wuhan yang kebanyakan pelajar juga senang. Mereka bisa memanfaatkan masa observasi dengan belajar bersama maupun bertukar pikiran soal kehidupan pelajar. 

    5. Misi Mengubah Hidup 

    Budi, Destyo, dan Indri, akhirnya merasakan pengalaman yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Masuk episentrum wabah virus korona, kembali ke Tanah Air, dan menjalani observasi 14 hari. 

    Meski singkat, tugas ini membuat ketiganya berubah. Budi misalnya, semenjak pulang observasi menjadi lebih disiplin, khususnya cuci tangan. 

    "Sekarang saya makin parno kalau enggak cuci tangan cukup bersih," beber dia. 

    Kedisiplinan itu juga dirasakan Indah. Jadwal teratur membentuk pribadi Indah lebih baik. 

    "Juga jadi lebih berani ambil keputusan," kata Indah. 

    Sempat membikin 'ngambek' keluarga juga tak menyurutkan Destyo membantu tugas serupa di kemudian hari. Dia dengan senang hati bila diminta pertolongan. 

    "Ternyata memberikan kebaikan, menolong orang itu asyik. Kebaikan itu harus di-share pada siapa pun termasuk pada anak bangsa," kata dia. 

    Kengerian Berbuah Manis
    Pilot Batik Air yang bertugas menjemput WNI di Wuhan, Tiongkok, Kapten Destyo Usodo (kanan), dan salah seorang pramugasi Batik Air, Indah Nurfitri Djufri (kiri). Foto: Achmad Zulfikar Fazli/Medcom.id



    (REN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id