Mengenang Teladan Bung Tomo di Hari Pahawan

    Theofilus Ifan Sucipto - 10 November 2020 09:53 WIB
    Mengenang Teladan Bung Tomo di Hari Pahawan
    Ilustrasi perjuangan di Hari Pahlawan. Medcom.id
    Jakarta: Sosok Sutomo atau Bung Tomo identik dengan perjuangan di Surabaya yang kini dikenang sebagai Hari Pahlawan. Bung Tomo mewariskan banyak pesan perjuangan kepada para pemuda di eranya.

    “Misalnya keberanian mengatakan yang benar dan yang salah, keikhlasan, dan rendah diri,” kata pemerhati  sejarah, Abdul Waid, dalam bukunya berjudul Bung Tomo: Hidup dan Mati Pengobar Semangat Tempur 10 November seperti dikutip Medcom.id, Selasa, 10 November 2020

    Abdul menuturkan ketegasan dan semangat Bung Tomo tak lepas dari gemblengan seniornya selama berkarier di Partai Indonesia Raya (Parindra). Partai itu didirikan doktor Soetomo yang juga rutin menanamkan rasa keikhlasan dalam berjuang.

    Ada pernyataan Soetomo yang paling memengaruhi Bung Tomo. Pernyataan itu yang disampaikan pada Kongres Indonesia Raya pertama pada 3 Januari 1932 berbunyi;

    “Bila kita ingin menjadi suatu bangsa yang mulia, luhur, menjadi bangsa terindah, bila kita ingin menjadi bangsa yang berkedudukan sama dengan bangsa yang sudah berderajat, seharusnyalah kita dengan gembira, ikhlas hati, dan bersuka cita , berani memikul beban yang maha berat.”


    Sejak saat itu, kata Abdul, Bung Tomo menjelma menjadi sosok seperti yang tertulis dalam sejarah. Pria kelahiran Blauran, Surabaya, 3 Oktober 1920 itu tak pernah lelah mengobarkan semangat perjuangan kepada rakyat Surabaya.

    “Spirit demikian agar jalan panjang menuju kemerdekaan, kehidupan yang bermartabat bagi orang-orang pribumi dapat digapai dengan gemilang,” tulis Abdul.

    Baca: Perjuangan Senyap Bung Tomo dengan Pena

    Bung Tomo khawatir jika semangat rakyat Surabaya padam, penjajah berani kembali menginjakkan kakinya ke Indonesia. Padahal, Indonesia berada di tengah euforia usai Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

    Menurut Bung Tomo, penjajahan terjadi karena Indonesia masih egosentris. Padahal, satu-satunya cara membuat Tanah Air sepenuhnya merdeka adalah bersatu dalam perbedaan.

    Abdul menyebut sosok penerima lima tanda jasa itu sebagai manusia langka. Sebab, sebagian besar rakyat Surabaya kala itu memilih bungkam dan pasrah pada keadaan.

    “Sejak lahir Bung Tomo tidak pernah merasa kerdil. Selalu tampil percaya diri dan berjuang penuh ambisi dengan keyakinan bahwa kemerdekaan bisa digapai,” tutur dia.

    Seluruh upaya dan tekad Bung Tomo, terang Abdul, semata-mata bertujuan menjaga cita-cita bangsa dengan cara selurus-lurusnya. Membela masyarakat yang lemah dan mengkritisi kebijakan pemerintah yang menyeleweng.

    “Bung Tomo mengajarkan bagaimana kita membangun solidaritas, nasionalisme, serta berkorban bagi bangsa dan negara,” kata Abdul.

    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id