KPI Minta Masyarakat Siap dengan Peralihan Siaran Digital pada 2022

    Gervin Nathaniel Purba - 14 Oktober 2020 16:54 WIB
    KPI Minta Masyarakat Siap dengan Peralihan Siaran Digital pada 2022
    Indonesia akan melakukan perpindahan sistem penyiaran dari analog ke digital atau analog switch off (ASO) pada 2022 (Foto:Dok.Humas KPI)
    Mataram: Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengimbau masyarakat siap dan mulai membiasakan diri dengan sistem siaran digital. Indonesia akan melakukan perpindahan sistem penyiaran dari analog ke digital, atau analog switch off (ASO) dalam waktu dua tahun ke depan, yaitu pada 2022.

    Penyiaran digital dinilai memiliki sejumlah manfaat. Teknologi siaran baru ini akan lebih menguntungkan publik ketimbang sistem siaran analog.

    "Mulai sekarang, kami berharap masyarakat mulai mempersiapkan diri dengan peralihan sistem digital pada 2022. Kami juga meminta masyarakat mulai memahami sistem siaran digital serta apa saja manfaat yang akan mereka peroleh,” ujar Ketua KPI Pusat Agung Suprio, pada kegiatan sosialiasi dan publikasi digital bertema Menjaga Indonesia dan Perbatasan Melalui Penyiaran Digital di Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), dikutip keterangan tertulis, Selasa, 13 Oktober 2020. 

    Turut hadir pada kegiatan tersebut Gubernur NTB Zulkieflimansyah. Adapun sebagai narasumber ialah Anggota Komisi I DPR Yan Permenas Mandenas, Sekjen Kemkominfo Rosarita Niken Widiastuti, Direktur Utama BAKTI Anang Latif, dan Wakil Ketua KPI Pusat, Mulyo Hadi Purnomo. Sebagai pemandu kegiatan sosialisasi, Komisioner KPI Pusat Irsal Ambia. 

    Kegiatan sosialisasi dan publikasi tersebut merupakan inisiasi KPI bekerja sama dengan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) yang diselenggarakan secara tatap muka dan daring (webinar) dengan peserta dari seluruh Tanah Air.

    KPI Minta Masyarakat Siap dengan Peralihan Siaran Digital pada 2022
    Gubernur NTB Zulkieflimansyah (Foto:Dok.Humas KPI)

    Kegiatan yang dilakukan secara tatap muka menerapkan protokol kesehatan covid-19 dan dibatasi hanya 50 orang. Sisanya mengikuti kegiatan melalui daring.

    Menurut Agung, digitalisasi penyiaran adalah keniscayaan karena sistem siaran ini sudah digunakan hampir di seluruh negara di dunia. Di Asia Tenggara, hanya Indonesia dan Timor Leste yang belum melakukan transformasi sistem teknologi baru ini.

    “Sudah hampir lebih 60 tahun negara ini menggunakan sistem penyiaran analog. Padahal, jika dibandingkan negara di kawasan Asia Tenggara lainnya, kita termasuk pioneer yang akan melaksanakan sistem siaran digital ini lebih awal. Bahkan, Thailand yang menjadikan Indonesia sebagai contoh persiapan digital justru lebih dahulu memulainya,” ujar Agung.   

    KPI Minta Masyarakat Siap dengan Peralihan Siaran Digital pada 2022
    Direktur Utama BAKTI Anang Latif (Foto:Dok.Humas KPI)

    Dengan sistem siaran digital, masyarakat akan lebih mudah menangkap siaran televisi di mana pun berada. Kualitas gambar dan suara yang diterima juga lebih jernih dan jelas. Sistem siaran ini menyelesaikan persoalan blank spot siaran di sejumlah wilayah.

    “Sistem siaran digital bermanfaat bagi masyarakat. Terutama di wilayah terdepan atau perbatasan, tertinggal, dan terpencil yang belum tersentuh siaran nasional. Ini berarti dapat mendorong perkembangan dan juga menjaga kehidupan berbangsa dan bernegara serta menangkal siaran asing yang meluber di wilayah perbatasan,” ujarnya.

    KPI Minta Masyarakat Siap dengan Peralihan Siaran Digital pada 2022
    Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid (Foto:Dok.Humas KPI)

    Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid berpendapat penyiaran digital akan memperkaya isi tayangan dan mendorong penayangan berbagai konten lokal yang sangat relevan dengan karakter masing-masing daerah. Selama ini, proporsi tayangan televisi lebih cenderung membahas isu nasional.

    "Kita mau manusia Indonesia adalah orang yang juga kaya dari sisi tayangannya. Isu Tanah Air banyak sekali, karena negara ini terdiri dari banyak kepulauan. Jangan hanya mengandalkan isu nasional di pusat saja. Selain tidak adil di daerah, juga tidak mendidik bagi masyrakat kita yang sangat berbeda ragam asalnya," kata Meutya Hafid.

    (ROS)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id