Skenario Cuaca Terburuk Berlangsung, BMKG Ingatkan Potensi Hidrometeorologi

    Antara - 24 Januari 2021 03:00 WIB
    Skenario Cuaca Terburuk Berlangsung, BMKG Ingatkan Potensi Hidrometeorologi
    Ilustrasi: Medcom.id


    Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan skenario terburuk, yakni fenomena iklim terjadi bersamaan dengan puncak musim hujan sedang berlangsung. Kondisi ini dapat berdampak pada cuaca sehingga perlu diwaspadai peningkatan potensi bencana hidrometeorologi.

    "Sejak Oktober 2020 BMKG memberikan peringatan dini potensi terjadinya kondisi ekstrem terkait cuaca akibat adanya berbagai fenomena yang dikhawatirkan akan terjadi bersamaan dengan musim hujan," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati pada konferensi pers di Jakarta, Sabtu, 23 Januari 2021.




    Dwikorita menjelaskan fenomena iklim yang terjadi bersamaan itu ialah La Nina. Anomali suhu muka air laut di wilayah Samudra Pasifik ini mengakibatkan suhu muka air laut relatif lebih dingin dibandingkan suhu muka laut di perairan Indonesia yang semakin hangat. Berdasarkan analisis BMKG, suhu di wilayah perairan Indonesia mencapai 29 derajat celcius.

    Baca: Angin Kencang Rusak Puluhan Rumah di Tasikmalaya

    Fenomena lainnya yaitu angin Monsun Asia. Kondisi ini mengakibatkan peningkatan pembentukan awan hujan di Indonesia. Selain itu, ada fenomena Madden Julian Oscillation (MJO), yaitu gelombang atmosfer yang membawa kumpulan awan hujan yang bergerak dari Samudra Hindia di zona tropis dari sebelah timur Afrika atau sebelah barat Indonesia memasuki wilayah Indonesia menuju wilayah Pasifik.

    Ada juga fenomena gelombang atmosfer yang terjadi di ekuator, yaitu gelombang Rossby Ekuator dan Kelvin yang meningkatkan potesi hujan. Kondisi ini menghangatkan muka air laut di perairan Indonesia sehingga menambah penguapan.

    Saat ini, BMKG juga memantau adanya bibit siklon dan fenomena siklonik di beberapa titik. Kondisi ini dapat berdampak secara tidak langsung dapat meningkatkan curah hujan dan kecepatan angin.

    "Berbagai fenomena itu terjadi bersamaan sesuai yang kami prediksi saat itu kami buat empat skenario prediksi, terburuk adalah berbagai fenomena itu terjadi bersamaan," ujar Dwikorita.

    Dari skenario tersebut diprediksikan pada Januari-Maret 2021 ada peningkatan curah hujan bulanan mencapai 300-500 mm setara dengan peningkatan curah hujan 40-80 persen dari normalnya. Melihat kondisi tersebut, Dwikorita mengingatkan publik mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, serta hujan lebat disertai kilat/petir dan gelombang tinggi yang membahayakan pelayaran dan penerbangan.

    Saat ini sebagian besar wilayah Indonesia atau 94 persen dari 342 zona mMusim sudah memasuki puncak musim hujan yang diprakirakan berlangsung hingga Februari. Wilayah yang berada pada puncak musim hujan, yakni Sumatera bagian selatan, sebagian besar Jawa, sebagian Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, sebagian Papua Barat, dan bagian selatan Papua.

    Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Dodo Gunawan mengatakan, berbasis dasarian atau 10 harian ketiga pada Januari, curah hujan dalam level menengah. Pada awal Februari diprakirakan curah hujan agak tinggi. Selain itu curah hujan sebulan ke depan masih menunjukan kategori tinggi, bisa lebih dari 500 mm.

    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id