Sejarah Membuktikan Masyarakat Aceh Toleran dan Terbuka

    Fachri Audhia Hafiez - 22 Februari 2020 11:03 WIB
    Sejarah Membuktikan Masyarakat Aceh Toleran dan Terbuka
    Direktur Eksekutif Yayasan Sukma Bangsa, Ahmad Baedowi/Medcom.id/Fachri.
    Bireuen: Sebagai provinsi dengan status khusus, Aceh tak ingin sekadar dikenal sebagai wilayah yang menerapkan syariat Islam. Nilai-nilai sejarah keacehan membuktikan masyarakat bumi Serambi Mekah itu terbuka dan toleran dengan perbedaan. 

    Fakta ini poin utama yang akan disodorkan ke pemerintah dalam kegiatan Kenduri Kebangsaan yang digelar di Kompleks Sekolah Sukma Bangsa Desa Cot Keutapang, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. Kegiatan tersebut menjadi momentum kesadaran untuk mengembalikan kejayaan masa lampau Aceh.

    "Kita ingin mengembalikan kesadaran keacehan ini berbasis historis. Kalau berbasis historis buku apapun yang dibuka pasti menunjukkan orang Aceh itu sangat heterogen, sangat terbuka, sangat toleran," kata Direktur Eksekutif Yayasan Sukma Ahmad Baedowi di lokasi, Jumat, 21 Februari 2020.

    Baedowi berharap, Aceh dibangun pusat-pusat studi Islam moderat. Pasalnya, Aceh menjadi gerbang masuk peradaban Islam di nusantara bahkan Asia Tenggara.

    Baca: Jokowi Bakal Berbaur Bersama Rakyat di Kenduri Kebangsaan

    Nilai-nilai peradaban dan kearifan lokal masyarakat Aceh didorong semakin menggaung. Hal ini diharapkan sebagai pemantik mengembalikan kejayaan Aceh.

    Sejumlah perguruan tinggi di Aceh juga telah berkembang. Butuh dukungan dari pemerintah pusat agar perguruan tinggi di Aceh bisa bersaing di tingkat internasional.

    "Jadi mereka pun ingin peralatan yang sudah mereka punya riset-riset yang sudah mereka lakukan itu lebih dikembangkan lagi tingkatnya menjadi internasional," ujar Baedowi.

    Sejarah Membuktikan Masyarakat Aceh Toleran dan Terbuka
    Siswa sekolah Sukma Bangsa menjalani latihan di panggung halaman lapangan Bola SBB, Bireun/Medcom.id/Fatma)

    Kenduri Kebangsaan digagas Media Group, Yayasan Sukma, dan Forum Bersama (Forbes) anggota DPR dan DPD RI asal Aceh. Acara yang digelar pada Sabtu, 22 Februari 2020, ini diinisiasi untuk mempersatukan elemen masyarakat, politik, serta pemerintah, dalam pembangunan dan kebangsaan Aceh.

    Selain Presiden Joko Widodo (Jokowi) Kenduri Kebangsaan juga dihadiri oleh sejumlah menteri, seperti Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Siti Nurbaya, serta Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate.

    Sementara pimpinan DPR yang hadir adalah Rachmat Gobel dan Aziz Samsuddin, serta Lestari Moerdijat yang mewakili pimpinan MPR. Sebagai penanda Kenduri Kebangsaan ini memiliki makna yang berarti bagi masyarakat Aceh, para menteri yang mendampingi Presiden Jokowi juga akan membawa beragam bantuan awal sebagai stimulan bagi kesinambungan pembangunan Aceh ke depan.




    (WHS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id