Federasi Insinyur ASEAN Beri Penghargaan kepada Jokowi

    Media Indonesia - 29 Agustus 2019 19:25 WIB
    Federasi Insinyur ASEAN Beri Penghargaan kepada Jokowi
    Presiden Jokowi. Foto: Biro Pers Setpres/Kris
    Jakarta: Organisasi insinyur dari 10 negara anggota ASEAN yang tergabung dalam ASEAN Federation of Engineering Organizations (AFEO) bersepakat memberi penghargaan tertinggi kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Penghargaan The AFEO Distinguished Honorary Patron Award akan diberikan kepada Jokowi bersamaan dengan diselenggarakannya Konferensi ke-37 Organisasi Insinyur se-ASEAN (CAFEO) di Jakarta, 11-14 September 2019.

    Chairman AFEO yang juga Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Heru Dewanto, mengatakan ini adalah penghargaan tertinggi yang diberikan pada kepala negara. Jokowi disebut berjasa dan berkontribusi besar terhadap profesi insinyur dan bidang keteknikan di Indonesia.

    Selain berjasa mengesahkan UU Keinsinyuran, Jokowi disebut sebagai penggagas masifnya pembangunan yang berdampak positif bagi negeri ini. "Kini profesi insinyur semakin kuat melangkah maju. Ini kontribusi yang luar biasa terhadap para insinyur tanah air yang bekerja nyata di balik setiap proyek infrastruktur," kata Heru di sela pertemuan Pengurus Pusat PII dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, yang juga menjabat sebagai Dewan Penasehat PII, di Jakarta, Rabu, 28 Agustus 2019.

    Perdana Metneri Malaysia, Tun Mahathir Mohamad, dan Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen, adalah penerima penghargaan yang sama sepanjang 37 tahun sejarah CAFEO. 

    Konferensi ke-37 CAFEO yang dilaksanakan di Kemayoran, Jakarta, akan menjadi etalase kebanggaan yang menampilkan pencapaian pembangunan Indonesia kepada dunia internasional. "Karya-karya terbaik insinyur Indonesia akan ditampilkan di sana," kata Heru.
     

    Transformasi keinsinyuran


    Tahun 2019 menjadi tahun penting bagi insinyur Indonesia. Selain menjadi tuan rumah CAFEO, tahun ini menjadi momentum bagi PII memulai langkah pertama menuju transformasi keinsinyuran usai disahkannya UU Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran dan PP Nomor 25 Tahun 2019. 

    Sebagai mitra pemerintah yang diberi mandat undang-undang, kata Heru, PII siap mendukung strategi pembangunan nasional dengan fokus pada pengembangan sumber daya manusia (SDM). 

    "Ibarat mau perang, kita harus tahu kekuatan kita, peralatan kita, dan berapa pasukan kita. Untuk itulah PII menyusun database insinyur pertama di Indonesia. Inventarisasi inilah yang akan menjadi dasar strategi membangun manusia insinyur Indonesia ke depan," kata Heru.

    Sebagai langkah awal pelaksanaan komitmennya, PII membentuk Indonesia Accreditation Board of Engineering Education (IABEE). IABEE telah mengakreditasi 32 program studi teknik di Indonesia dengan standar international, sehingga lulusannya disetarakan di mancanegara.

    PII juga telah mulai mencetak insinyur-insinyur baru tanah air. Heru menambahkan profesi insinyur kini tidak lagi menjadi monopoli mereka yang bergelar sarjana teknik. Kini, lulusan D4 Keteknikan pun bisa menyandang gelar insinyur profesional, bahkan diakui di dunia internasional. 

    "Insinyur profesional Indonesia sudah disetarakan dengan insinyur di seluruh negara ASEAN dan Asia Pasifik. Ini juga berlaku bagi para lulusan vokasi” ujarnya.

    Heru menekankan tugas besar PII ke depan adalah menyiapkan dan memastikan profesi insinyur menjadi ladang pengabdian yang tetap menarik minat generasi muda.




    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id