Black Box Sriwijaya Air Ditemukan, Ini 5 Fakta yang Jarang Diketahui

    Sasyi Niskala Sumaatmadja - 12 Januari 2021 17:56 WIB
    <i>Black Box</i> Sriwijaya Air Ditemukan, Ini 5 Fakta yang Jarang Diketahui
    Personel TNI AL dikirim ke lokasi diduga pesawat Sriwijaya Air jatuh, Sabtu, 9 Januari 2021. Foto: Medcom.id/Yurike Budiman
    Jakarta: Tim SAR gabungan telah menemukan kotak hitam atau black box pesawat Sriwijaya Air SJ 182. Penemuan ini terkonfirmasi sekitar pukul 16.00 WIB di sekitar Pulau Laki dan Lancang, Kepulauan Seribu, Jakarta.

    Kotak hitam itu lantas dibawa ke JICT 2 Tanjung Priok, Jakarta Utara. Nantinya, kotak hitam akan diperiksa lebih lanjut oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

    Black box menjadi salah satu komponen yang paling dicari setiap terjadi kecelakaan pesawat. Alat ini memegang peranan penting dalam memecahkan teka-teki penyebab kecelakaan pesawat.

    Tetapi, apakah kalian tahu bahwa black box ternyata tidak berwarna hitam? Dilansir dari ABC News, berikut deretan fakta tentang black box yang mungkin kalian tidak ketahui.
     

    1. Black box terdiri atas dua bagian

    Kotak hitam terdiri atas dua peralatan yang terpisah, yakni perekam data penerbangan atau flight data recorder (FDR) dan perekam suara kokpit atau cockpit voice recorder (CVR). FDR merekam hal-hal seperti kecepatan udara, ketinggian, percepatan vertikal, dan aliran bahan bakar.

    Kedua komponen itu wajib ada di penerbangan komersial maupun jet perusahaan. Kotak hitam biasanya disimpan di bagian belakang pesawat untuk menurukan risiko terjadinya kerusakan saat kecelakaan. 
     

    2. Black box tidak berwarna hitam, melainkan oranye

    Walaupun sering disebut sebagai kotak hitam, ternyata black box ini berwarna oranye lho. Pewarnaan tersebut dimaksudkan agar tim pencari mudah menemukannya karena warnanya yang kontras dengan lingkungan. 
     

    3. Ditemukan pertama kali oleh orang Australia 

    Pada awal 1950, warga asli Autralia yang bernama Dr David Warren memiliki ide untuk menciptakan sebuah unit yang dapat merekam data penerbangan dan percakapan kokpit. Ayah dari David sendiri tewas dalam kecelakaan pesawat pada 1934 saat ia berusia sembilan tahun. Kemungkinan hal ini yang menjadi motivasi David untuk membuat alat yang bisa membantu dalam memecahkan teka-teki penyebab kecelakaan pesawat. 

    Ia sempat menulis memo untuk Aeronautical Research Centre di Melbourne yang berjudul “a Device for Assisting Investigation into Aircraft Accidents”. Pada 1965, ia berhasil menciptakan prototipe perekam penerbangan yang disebut “ARL Flight Memory Unit”.

    Penemuannya pada saat itu tidak mendapatkan banyak perhatian. Unit ciptaannya baru diproduksi di Inggris dan Amerika Serikat setelah lima tahun alat itu ditemukan. Namun, Australia adalah negara pertama yang mewajibkan penggunaan teknologi tersebut.

    Baca: Cuaca Hari Ini Kondusif untuk Evakuasi Sriwijaya Air SJ-182
     

    4. Para ahli tidak menyebutnya sebagai black box

    Istilah black box sering digunakan oleh media, tetapi kebanyakan orang yang tahu tidak menyebutnya demikian. Ada beberapa teori terkait asal-usul nama kotak hitam. Mulai dari desain awal yang sangat gelap di bagian dalam membuat jurnalis mendeskripsikannya sebagai kotak hitam yang indah, hingga karena alat itu hangus dalam kebakaran pascakecelakaan.
     

    5. Percapakan di kokpit hanya terekam selama 2 jam

    Perekam digital memiliki penyimpanan yang cukup untuk 25 jam data penerbangan, tetapi khusus untuk suara kokpit, hanya bisa terekam selama dua jam. CVR melacak interaksi awak satu sama lain dan kontrol lalu lintas udara. 

    Tak hanya itu, CVR juga merekam kebisingan di kokpit yang dapat memberikan petunjuk penting bagi penyelidik. Versi pita magnetic sebelumnya hanya bisa merekam 30 menit percakapan dan kebisingan kokpit.


    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id