Panglima TNI: Medsos Dipakai untuk Propaganda dan Pecah Persatuan

    Media Indonesia - 21 November 2020 14:29 WIB
    Panglima TNI: Medsos Dipakai untuk Propaganda dan Pecah Persatuan
    Pangliman TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. MI/Bagus Suryo
    Jakarta: Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengungkapkan media sosial (medsos) kerap digunakan untuk menyebarkan informasi bohong atau hoaks. Dampaknya sangat besar bagi kelangsungan perdamaian, persatuan, dan kesatuan suatu negara.

    Hadi mengakui media sosial memiliki kekuatan besar dalam memengaruhi masyarakat. Media sosial bahkan dapat dijadikan alat propaganda untuk memobilisasi massa. Contohnya, fenomena Arab Spring yang terjadi di Timur Tengah dan Afrika Utara satu dekade yang lalu.

    "Kekuatan mobilisasi massa melalui dunia maya, khususnya Facebook mampu mengguncang masyarakat, dan bahkan, menumbangkan kekuasaan pemerintah," kata Hadi pada webinar bertajuk Sinergi Anak Bangsa Dalam Menjaga Keutuhan Bangsa dan Negara dari Aksi Separatisme di Dunia Maya, Sabtu, 21 November 2020.

    Hadi mengatakan media sosial menjadi efektif untuk melakukan perang informasi dan perang psikologis karena jangkauan yang luas. Propaganda di era digital berubah bentuk menjadi hashtag dan trending topic.

    Dalam beberapa minggu terakhir ini dunia maya di Indonesia diramaikan dengan beberapa isu yang cukup hangat. Isu-isu tersebut bila dilihat lebih jauh membuat masyarakat menjadi terkotak-kotak, terpolarisasi, dan dibenturkan satu sama lain.

    Sejumlah narasi membangun ketidakpercayaan kepada pemerintah tak jarang muncul. Bahasa yang digunakan propaganda di media sosial selalu menggunakan bahasa provokatif dan memainkan isu sensitif.

    "Semuanya ditujukan untuk membangkitkan emosi masyarakat dan dapat dibakar sehingga dapat terjadi eskalasi yang dapat bermuara pada tindakan anarkis dan kerusuhan sosial," ungkapnya.

    Baca: Masyarakat Diminta Tak Termakan Hoaks Vaksin Covid-19

    Ia mengatakan permainan isu sensitif dengan bahasa provokatif merupakan propaganda untuk memecah belah. Politik identitas sengaja dimainkan dan membuat Indonesia sulit bersatu.

    Penggunaan media sosial dengan tujuan propaganda memisahkan diri dari NKRI juga marak dilakukan. Separatisme saat ini tidak hanya berupa pemberontakan bersenjata, tetapi sudah berkembang melalui kampanye internasional dengan memanfaatkan media sosial.

    "Aksi propaganda yang dilakukan di dunia maya ditujukan untuk memperoleh dukungan internasional atas perjuangan kelompok separatis," kata Hadi.

    (SUR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id