Partitur Kritik Baru Rocky Gerung

    Juven Martua Sitompul - 10 Juni 2020 13:13 WIB
    Partitur Kritik Baru Rocky Gerung
    Rocky Gerung (kanan). (Foto: MI/Adam Dwi)
    Jakarta: Kritikan Rocky Gerung terhadap pemerintah tak pernah padam sekalipun Pilpres 2019 sudah usang. Bagi Rocky, mengkritisi pemerintah seperti ‘suplemen’. Jika dulu kritiknya gencar melalui Twitter, kali ini dia membuat partitur kritik baru.

    Filsuf ini tak jera sekalipun pernah tersandung hukum karena pernyataan kontroversinya. Salah satunya soal kitab suci adalah fiksi yang dilaporkan ke Bareskrim Polri oleh Jack Boyd Lapian atas tuduhan penistaan agama.

    Polemik ini sempat jadi santapan hangat masyarakat. Tidak sedikit program diskusi televisi ternama menyuguhkan tema polemik ini hingga berbulan-bulan.

    Namun, kasus tersebut tak membuat pria kelahiran 20 Januari 1959 ini membisu. Dosen filsafat di Universitas Indonesia (UI) itu justru semakin gencar melontarkan kritikan, khususnya terhadap setiap kebijakan pemerintahan Presiden Joko Widodo.

    Pendiri Institut Setara itu lebih aktif mengkritisi pemerintah melalui akun media sosialnya. Jalan Rocky konsisten sebagai oposisi meski tak ‘ber-KTP’ di partai politik.

    Hampir seluruh platform media sosial milik Rocky berisi kecaman terhadap pemerintah. Dia juga sesekali berkomentar soal situasi Tanah Air sekarang.

    Partitur Kritik Baru Rocky Gerung
    YouTube Rocky Gerung Official

    Berikut sikap konsisten Rocky sebagai pengkritik pedas dan tajam pemerintah hasil penelusuran Medcom.id:

    1. Mengevaluasi Indonesia dari Amerika

    Lama tak muncul di layar kaca, Rocky ternyata sempat ke Amerika Serikat. Ini terungkap dari salah satu video yang diunggah akun YouTube resmi Rocky Gerung Official.

    Rocky ke Negeri Paman Sam karena diundang sebuah forum untuk mengisi acara diskusi bertajuk mengevaluasi Indonesia dari luar negeri. Dia menyebut sebagian besar peserta diskusi merupakan orang Indonesia yang sudah berstatus warga negara Amerika.

    "Saya cuma kasih semacam sugesti, bahwa selalu ada harapan kalau ada orang yang masih memikirkan Indonesia dengan akal sehat," kata Rocky dalam video itu.

    Menurut Rocky, orang Indonesia di Amerika gelisah dengan situasi Tanah Air sekarang. Salah satunya, soal ketidakpastian politik di Indonesia karena tak memiliki kebijakan yang utuh, contohnya Omnibus Law.

    Termasuk, soal keakraban warga negara Indonesia. Rocky menyebut peserta diskusi mempertanyakan perseteruan pilpres yang berlarut-larut, misalnya istilah 'cebong' dan 'kampret'.

    "Bagi mereka kok enggak bisa diselesaikan ya, persaingan 'cebong' dan 'kampret' padahal Presiden (Joko Widodo) sudah minta itu. Jadi kegelisahan-kegelisahan semacam itu yang saya rumuskan bahwa pemilu selesai tapi kegelisahan berlanjut," kata Rocky.

    Partitur Kritik Baru Rocky Gerung
    YouTube Rocky Gerung Official

    2. Bicara persekongkolan kekuasaan

    Dalam akun resmi YouTube-nya itu juga Rocky ikut mengkritisi perebutan tahta partai politik (parpol). Yang masih segar polemik perebutan ketua umum Golkar antara Bambang Soesatyo dengan Airlangga Hartarto.

    Akademikus ini mengomentari pernyataan Bamsoet, sapaan akrab Bambang Soesatyo, soal nominal modal untuk penguasaan parpol mencapai Rp1 triliun. Rocky menganggap pernyataan Bamsoet sebagai pesan terselubung.

    Menurut Rocky, politik Indonesia tidak lepas dari plutokrasi. Bahkan, Bamsoet dinilai terlambat bicara soal modal jadi penguasa parpol tersebut. Secara harfiah, plutokrasi berarti suatu sistem pemerintahan yang melihat kekuasaan atas dasar kekayaan yang mereka miliki.

    "Jadi, apa yang diterangkan Bambang Soesatyo itu praktik yang sudah berlangsung lama kan, jadi justru itu yang mau kita mau bongkar. Bambang terlambat mengucapkan itu," kata Rocky.

    Rocky menunggu Bamsoet sebagai ketua MPR berani mengungkap lebih jauh praktik politik uang tersebut, termasuk soal plutokrasi. Dia yakin keadaan negara bakal berantakan jika semua orang tutup mata pada persekongkolan plutokrasi dengan kekuasaan.

    "Kita enggak berharap ada oposisi yang melakukan itu. Jadi, dia (persekongkolan) akan putus kalau ada gerakan rakyat," kata dia.

    Partitur Kritik Baru Rocky Gerung
    YouTube Rocky Gerung Official

    3. Sentil survei prematur capres

    Belakangan survei terkait sosok pengganti Presiden Joko Widodo memang sempat marak. Padahal, masa kepemimpinan Jokowi-Ma’ruf Amin baru berjalan.

    Dalam video unggahannya itu, Rocky mengaku heran dasar lembaga survei melakukan hal tersebut. Apalagi, survei berisi perbandingan antara Jokowi dengan presiden sebelumnya, termasuk dengan Bapak Proklamator Soekarno.

    "Apa gunanya, jadi kalau unggul terhadap yang lain terus unggul terhadap siapa yang belum. Kan enggak ada gunanya. Kalau Bung Karno baca itu, mungkin dirobek-robek hasil surveinya itu," kata Rocky.

    Rocky tampak tak terima dengan survei yang membandingkan antara Jokowi dan Soekarno. Bagi dia, Jokowi tidak layak disandingkan dengan Soekarno.

    Survei itu disebut bertujuan menutupi elektabilitas, ekonomi, dan demokrasi yang bobrok di era Jokowi. Dia bahkan menyebut survei itu sebagai survei infotainment di bidang politik.

    "Itu nalarnya bagaimana? Bung Karno itu dari tahun 45 tidak pernah hilang dari memori publik. Bung Karno menulis tiga jilid revolusi, Bung Karno paham tentang sejarah seni, semua orang ngerti siapa Bung Karno," kata dia.

    4. Mengkiritisi penanganan covid-19

    Kritikan penanganan pandemi virus korona (covid-19) jadi konten anyar YouTube milik Rocky. Pemerintah disebut gagap menghadapi wabah virus yang pertama kali menjangkiti Wuhan, Tiongkok, tersebut.

    Dalam video itu, Rocky menyebut komunikasi pemerintah berantakan sejak awal terdeteksinya virus korona. Presiden Joko Widodo dan 'pembantunya', khususnya Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto tidak sinkron.

    "Enggak ada pedoman tentang siapa yang mesti bicara duluan, jadi berebut ingin ngomong, tapi enggak ada isi semua kan," kata Rocky dalam video berjudul ‘Corona, Bukti Pemerintah Lemah Dalam Informasi’.

    Rocky menilai pernyataan Jokowi yang mengajak masyarakat berdamai dengan korona keliru. Rocky mengibaratkan negara saat ini menyerahkan diri untuk diikat ditiang dan menunggu terbunuh.

    Saking pasrahnya, menurut Rocky, pemerintah mengeluarkan kebijakan kenormalan baru atau new normal. Dia yakin kebijakan new normal diambil pemerintah tanpa pertimbangan data pademi korona yang valid.

    "Sekarang mulai terlihat sinyalnya ekonomi memburuk karena itu pemerintah mengambil risiko untuk pelonggaran, tetapi pelonggaran itu dihitung sebagai potensial ongkos sosial," kata Rocky.

    Partitur Kritik Baru Rocky Gerung
    YouTube Rocky Gerung Official

    (JMS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id