Penyedia Jasa Ojek Online Perlu Cegah Pelecehan terhadap Penumpang

    Eko Nordiansyah - 14 Agustus 2019 04:10 WIB
    Penyedia Jasa Ojek <i>Online</i> Perlu Cegah Pelecehan terhadap Penumpang
    Ilustrasi. Medcom.id/Rakhmat Riyandi.
    Jakarta: Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) meminta penyedia jasa aplikasi ojek online lebih memerhatikan aspek keselamatan penumpangnya. Kementerian PPPA menyesali masih terjadinya kasus pelecehan oleh pengemudi ojek online kepada penumpang, khususnya perempuan.

    Hal ini menanggapi pelecehan oleh mitra pengemudi ojek online yang terjadi di Surabaya, Senin, 12 Agustus kemarin. Korban yang merasa tidak nyaman akibat perlakuan pengemudi GrabBike yang menggerayangi tubuhnya, memilih nekat melompat dari motor yang ditumpanginya.

    "Ini tanggung jawab renteng, bukan tanggung jawab individu. Jadi perusahaan harus mengadakan pelatihan dan sertifikasi kepada driver-nya," kata Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan dalam Ketenagakerjaan Kementerian PPPA Rafail Walangitan di Jakarta, Selasa, 13 Agustus 2019.

    Kementerian PPPA kini telah memiliki sarana pengaduan masyarakat yang dapat dimanfaatkan korban untuk mengadukan kasus-kasus pelecehan atau kekerasan yang dialami secepatnya. Apalagi kasus pelecehan oleh pengemudi GrabBike ini merupakan yang kesekian kalinya viral dalam satu bulan terakhir.

    Tindakan tidak terpuji pengemudi Grab ini melanggar Permenhub Nomor 118 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Angkutan Sewa Khusus, yaitu Pasal 32 ayat 2 tentang perlindungan terhadap penumpang yang meliputi aspek keselamatan dan keamanan, kenyamanan, layanan pengaduan dan penyelesaian permasalahan penumpang, kepastian mendapatkan layanan angkutan, dan kepastian tarif angkutan sewa sesuai dengan tarif yang ditetapkan per kilometer.

    "Untuk itu, salah satu tujuan yang ingin dicapai KPPPA, yakni menjalin kerja sama dengan stakeholder yang bersinggungan langsung terhadap upaya perlindungan anak dan perempuan agar bisa tercipta suasana yang ramah bagi anak dan perempuan. Ini penting dilakukan untuk menumbuhkan citra bahwa industri transportasi online ini menjamin hak-hak perempuan," ungkapnya. 

    Sementara itu, pendiri komunitas pemerhati pelecehan seksual di transportasi urban Rika Rosvianti menyerukan agar Grab Indonesia menjalin kemitraan dengan LSM dalam upaya membangun sistem yang lebih komprehensif terkait pencegahan dan penanganan kekerasan seksual yang terjadi di Grab.

    "Jadi bukan hanya sekadar formalitas penyelenggaraan pelatihan. Ini penting setidaknya agar bisa memiliki dan membuat SOP pencegahan dan penanganan pelecehan seksual," pungkas dia.



    (HUS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id