Berkaca dari Kenaikan Kasus Covid-19 di India

    Theofilus Ifan Sucipto - 19 Juni 2021 10:40 WIB
    Berkaca dari Kenaikan Kasus Covid-19 di India
    Mantan Direktur Penanggulangan Penyakit Menular Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Asia Tenggara Tjandra Yoga Aditama (kanan bawah).



    Jakarta: Mantan Direktur Penanggulangan Penyakit Menular Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Asia Tenggara Tjandra Yoga Aditama mendorong Indonesia belajar dari kenaikan kasus di India. Yoga memetik sejumlah pelajaran saat bekerja di kantor WHO di New Delhi, India, hingga September 2020.

    “Ada lima hal yang harus jadi patokan supaya tidak kena hal yang sama,” kata Yoga dalam diskusi virtual, Sabtu, 19 Juni 2021.

     



    Yoga menyebut kenaikan kasus covid-19 di India akibat sejumlah fasilitas publik seperti pasar dan bioskop dibuka. Celakanya, pembukaan dibarengi dengan menurunnya disiplin protokol kesehatan.

    Penyebab kedua, kerumunan masyarakat di mana-mana. Sejumlah kegiatan, seperti pemilihan kepala daerah (pilkada), acara keagamaan, hingga acara pernikahan diizinkan.

    “Kalau lihat film Bollywood bisa dibayangkan keramaiannya seperti apa. Seharusnya ada pembatasan sosial,” ujar Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.

    Yoga mengatakan kasus covid-19 di Negara Barata meroket lantaran jumlah tes mengendur. Jumlah tes dari 1,5 juta menjadi 700 ribu orang per hari.

    (Baca: Cermati, Ini Sebaran Kasus Varian Delta di Indonesia)

    “Kalau tes turun, orang yang ditemukan positif covid-19 turun dan penularan besar jadi itu (tes) harus ditingkatkan,” papar dia.

    Upaya meningkatkan tes covid-19, kata Yoga, juga mesti dilakukan Indonesia. Dia menilai upaya tes nasional cukup baik. Tapi pemerintah perlu memastikan jumlah tes tak hanya terpusat di beberapa provinsi.

    “Harusnya tracing dan testing di semua kabupaten/kota sesuai dengan standar yang ada,” tutur Yoga.

    Penyebab keempat, vaksinasi yang masih terus digenjot. Saat itu, India baru bisa memvaksinasi ratusan ribu orang per hari dari total 1,3 miliar populasi.

    Alasan terakhir muncul varian virus baru covid-19. Teranyar, varian Delta yang disebut berbahaya.

    “Makanya kasusnya tinggi sekali dan harus dikendalikan,” ucap dia.

    (REN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id