Sumpah Pemuda

    Pemuda, Percuma Bersuara di Medsos Jika Tanpa Aksi

    Fachri Audhia Hafiez - 27 Oktober 2020 16:42 WIB
    Pemuda, Percuma Bersuara di Medsos Jika Tanpa Aksi
    (Ilustrasi) Beragam gerakan tagar di media sosial kerap tak diiringi aksi nyata. Medcom.id/M Rizal
    Jakarta: Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928 hingga kini menjadi peristiwa sejarah yang tak terlupakan dengan lahirnya Sumpah Pemuda. Pada zaman itu, keterbatasan informasi tak meredupkan semangat pemuda dari berbagai suku, etnis, kelompok, dan agama bergerak mempersatukan bangsa.

    Di era serba digital saat ini, pemuda seharusnya semakin dipermudah membuat gerakan karena memiliki beragam alat untuk bersuara. Salah satunya media sosial.

    Praktisi media sosial Enda Nasution memandang era lahirnya Sumpah Pemuda dan saat ini jelas tidak bisa disamakan. Seiring dengan perkembangan teknologi, semua orang mudah bertukar informasi, pendapat, hingga memulai gerakan.

    "Zaman 1928 bahkan tidak ada fasilitasnya untuk mem-publish apa pun," ujar Enda kepada Medcom.id, Selasa, 27 Oktober 2020.

    Namun, kemudahan ini tidak akan berarti jika tak diiringi aksi. Hal ini yang membedakan gerakan pemuda saat itu dan era sekarang.

    Pendahulu bangsa kala itu selalu mengawali gerakan dengan pertemuan fisik. Mereka menyampaikan gagasan secara terbuka hingga melakukan analisa yang komprehensif.

    Sementara itu, pemuda era kekinian cenderung lebih cepat bereaksi terhadap sebuah isu di media sosial walaupun permasalahan tersebut kompleks. Tidak diendapkan atau dikaji untuk mencapai suatu pemikiran yang matang.

    "Kemudian mengambil waktu untuk selanjutnya mencoba menganalisa dan memberikan opininya sendiri," ucap Enda.

    Baca: Sumpah Pemuda dan Secarik Kertas M Yamin

    Kerap muncul gerakan di media sosial lewat tagar hingga memperoleh dukungan luar biasa. Tapi, tak banyak tanpa aksi nyata.

    Enda menegaskan harus ada hal konkret dalam memulai gerakan. Teknologi seperti media sosial harus menjadi alat mempermudah, kemudian diiringi aksi nyata.

    "Kita tidak bisa cuma berhenti di omongan doang tapi harus ada orang-orang memang harus melakukan sesuatu atau aksi. Misalnya untuk membangun sesuatu, mengubah atau menghentikan undang-undang, ataupun mengumpulkan dana (sosial) misalnya," tutur Enda.

    Setiap tahun peringatan Hari Sumpah Pemuda selalu diselenggarakan. Peringatan ini termaktub dalam Keputusan Presiden Indonesia Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur. Peringatan Hari Sumpah Pemuda 2020 mengusung tema Bersatu dan Bangkit. 

    Berikut ikrar yang dibacakan dalam Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928:
    Pertama, Kami Putra-Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.
    Kedua, Kami Putra-Putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
    Ketiga, Kami Putra-Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.


    (SUR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id